Day: September 9, 2025

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi pada tanggal tersebut

Peluang Bisnis Sound Horeg Omset Miliaran, sampai Fatwa Haram

Peluang Bisnis Sound Horeg: Omset Miliaran, sampai Fatwa Haram

Fenomena sound horeg kini merambah ke berbagai daerah di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Dulu, sound horeg dipandang sebelah mata. Dianggap hiburan kampung. Kini, sound horeg sudah menjelma jadi tontonan mewah dan megah (bagi sebagian daerah) yang bisa menyedot ribuan orang. Pemilik bisnis sound horeg juga mendapatkan keuntungan yang fantastis. Untuk skala kecil saja bisa sampai Rp75 juta per kali sewa. Kalau sampai acaranya kelas ‘sultan’, angkanya bisa menembus Rp1 miliar dari satu kali gelaran. Dari kacamata ekonomi, bagaimana sih peluang bisnis dari sound horeg ini? Apakah bisa dijalankan dalam jangka panjang yang layak diincar pelaku industri hiburan? Asal-usul dan Perkembangan Fenomena Sound Horeg Sound horeg pertama kali muncul ke permukaan di daerah Jawa Timur sekitar tahun 2014. Dalam bahasa Jawa, “horeg” artinya “bergetar”. Lebih kepada dentuman bass yang bikin dada ikut bergetar. Sound ini awalnya digunakan saat acara hajatan rakyat. Semakin lama, telah berkembang menjadi tontonan sebuah komunitas bahkan juga untuk festival besar. Secara singkat, berikut perjalanan lengkap dari perkembangan sound horeg: 1. Akar Budaya Hajatan: Awalnya di tahun 2010-an, hiburan di desa banyak menggunakan organ tunggal. Dari sinilah ide mengutak-atik sound system mulai muncul. 2. Sentuhan Inovasi Anak Muda: Pemuda setempat kemudian memodifikasi sound system supaya suaranya lebih “nendang”. Dari situ lahirlah persaingan tak resmi siapa yang punya sound paling menggetarkan. 3. Fenomena Malang 2014: Istilah “sound horeg” mulai populer setelah sebuah parade di Malang tahun 2014 menggunakan truk dengan sound raksasa yang benar-benar bikin geger. 4. Pengaruh Diskotik Kota Besar: Teknologi audio semakin canggih. Inspirasi datang dari hiburan diskotik di kota besar seperti Jakarta, sehingga sound horeg makin megah dan kompleks settingan-nya. 5. Menyebar Jadi Jaringan Komunitas: Tak hanya di Malang, sound horeg juga merambah ke daerah lain di Jawa Timur, bahkan meluas ke Jawa Tengah: Pati, Kudus, Demak, hingga Rembang. 6. Transformasi Digital: Video pawai sound horeg dengan truk full speaker dan lampu RGB viral di YouTube dan TikTok, membuat fenomena ini jadi konsumsi publik nasional. 7. Dinilai Punya NIlai Ekonomi: Saat ini, sound horeg tidak cuma dianggap hiburan semata. Ia telah berkembang dan memiliki nilai ekonomi sendiri. Satu acara bisa menghasilkan omzet miliaran rupiah. Para teknisi, kru, hingga pedagang sekitar pun ikut kecipratan rezeki. Fatwa MUI soal Sound Horeg Meski dinilai punya nilai ekonomi, posisi sound horeg juga mendapat tekanan. Pasalnya, muncul fatwa haram mengenai penggunaan sound horeg.  Menurut Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Niam, keputusan semacam ini tidak langsung keluar begitu saja, melainkan melalui mekanisme panjang.   Sebelum fatwa ditetapkan, MUI berdiskusi terlebih dahulu dengan banyak pihak, termasuk para pelaku usaha dan juga ahli kesehatan masyarakat, agar pertimbangannya matang dan menyeluruh. “Dan dari hasil penelaahan itu, terbukti bahwa kemampuan orang untuk mendengar, itu melebihi dari apa yang terdengar melalui sound horeg itu. Artinya, kekuatan suara yang dikeluarkan oleh sound horeg itu berdampak nyata terkait dengan kesehatan seseorang,” ujar Asrorun Niam dilansir dari Detik. Asrorun Niam juga menegaskan bahwa inti dari fatwa ini bukan semata-mata karena perangkat sound system-nya. Melainkan karena efek negatif dari sound horeg yang ditimbulkan terhadap masyarakat. “Intinya bukan soundnya. Kalau soundnya digunakan untuk kepentingan hal yang baik dan dia tidak merusak, kemudian diputar pada waktu yang tepat, tidak mengganggu masyarakat, maka itu tentu dibolehkan ya,” katanya. Dengan kata lain, jika sound system digunakan untuk tujuan yang baik, diputar dengan volume yang wajar, waktunya tepat, dan tidak mengganggu lingkungan sekitar, maka penggunaannya tetap diperbolehkan.  Namun, jika sudah melewati batas dan justru menimbulkan masalah kesehatan maupun ketertiban umum, barulah hal tersebut menjadi alasan munculnya fatwa larangan. Regulasi Pemerintah Terkait Sound Horeg dan Pendapat Ahli Regulasi Pemerintah soal Sound Horeg Saat ini, regulasi yang mengatur penggunaan sound horeg baru diterapkan dalam peraturan daerah, belum secara nasional. Contohnya di Jawa Timur, sudah ada Surat Edaran Bersama dari Gubernur, Kapolda, dan Pangdam yang juga diperkuat dengan fatwa MUI Jatim.  Intinya, penggunaan sound horeg boleh dilakukan, tapi ada batasan agar tidak merugikan orang lain. Poin penting regulasinya: Tujuan dari aturan ini untuk menjaga ketertiban, kenyamanan, dan keamanan masyarakat, serta mencegah dampak buruk seperti keributan, gangguan kesehatan, rusaknya fasilitas umum, dan masalah sosial lain. Pendapat Ahli soal Sound Horeg Radius Setiyawan, dosen Kajian Media dan Budaya di Universitas Muhammadiyah Surabaya, mengatakan bahwa mengakui sound horeg sebagai karya yang berhak atas HAKI bisa jadi pedang bermata dua.  Menurutnya, keluhan utama masyarakat soal sound horeg adalah suara yang terlalu keras, bahkan melewati batas aman pendengaran. Hal inilah yang bikin orang merasa terganggu, apalagi kalau ada di area padat penduduk, dekat tempat ibadah, atau berlangsung malam hari. “Bukan berarti sound horeg sepenuhnya negatif. Sebagai ekspresi budaya populer, ia tetap punya nilai artistik dan potensi kreatif. Tapi ketika tidak dibarengi dengan edukasi, regulasi, dan sensitivitas sosial, ia bisa menjadi bentuk gangguan sosial alih-alih sarana hiburan,” ujar Radius dilansir dari um-surabaya.ac.id. Sementara menurut Didid Haryadi, dosen Sosiologi Universitas Brawijaya, sound horeg tidak bisa disebut budaya. Dari hasil riset dan pengamatannya, fenomena ini muncul karena masyarakat kurang punya akses ke ruang publik yang layak, terutama tempat hiburan rakyat. Menurut Didid, sound horeg lebih tepat disebut hiburan sesaat yang lahir karena keterbatasan orang dalam menikmati ruang publik yang memadai. “Fenomena sound horeg ini mencuat karena makin sempitnya akses masyarakat terhadap ruang publik yang ramah, seperti taman kota, ruang bermain anak, atau tempat hiburan rakyat,” ujar Didid dilansir dari Detik. Peluang Bisnis Sound Horeg: Modal Besar dengan Untung Menggiurkan Ada satu penelitian yang menarik soal fenomena sound horeg. Rupanya, generasi muda cenderung menikmati dan lebih menerima sound horeg sebagai hiburan. Sementara generasi tua lebih menolaknya karena sound horeg dianggap bertentangan dengan nilai tradisional.  Penelitian ini dilakukan oleh Aprilian, E. W., Arif, & Poerwanti, S. D. pada tahun 2025 tentang Dampak Parade Sound Horeg terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat yang dilakukan di Desa Bumirejo, Kabupaten Blitar. Dari sisi ekonomi, parade sound horeg ini juga memberi peluang usaha bagi UMKM lokal serta menambah pemasukan desa. Meski manfaatnya belum dirasakan merata oleh semua warga.  Buat kamu yang ingin memulai bisnis sound horeg, sepertinya bisa menargetkan kelompok usia muda karena mereka lebih menerimanya.  Terlebih lagi, saat ini Indonesia juga punya bonus demografi dan didominasi oleh kaum Gen Z. 1. Breakdown

SELENGKAPNYA