Terbaru

Legalitas

ROAS Adalah: Pengertian, Rumus, dan Cara Menghitungnya

Ditulis oleh Penulis External

Daftar Isi

ROAS adalah istilah yang hampir pasti kamu temui begitu mulai memasang iklan berbayar. Entah lewat Instagram, Google, atau TikTok.

Sayangnya, banyak pemilik usaha kecil masih menyamakan istilah ini dengan ROI. Padahal keduanya berbeda, dan salah paham soal ini bisa berujung pada keputusan anggaran yang kurang tepat.

Singkatnya begini. ROAS membandingkan uang yang masuk dari iklan dengan uang yang kamu keluarkan untuk iklan itu sendiri. Kalau angkanya makin besar, artinya iklan berjalan makin efisien.

Sebagai penulis yang cukup sering mendampingi pelaku usaha dalam urusan legal dan kepatuhan bisnis digital, saya melihat ROAS punya peran lebih luas dari sekadar dunia marketing.

Angka ini kerap dibutuhkan juga saat perusahaan harus mempertanggungjawabkan biaya iklan dalam laporan keuangan, bahkan saat berhadapan dengan urusan pajak.

Nah, di tulisan ini kita akan bahas tuntas apa itu ROAS, rumusnya, contoh hitungannya, sampai bedanya dengan ROI. Supaya kamu bisa menilai performa iklan dengan lebih akurat, dan tidak asal menaikkan budget.

Apa Itu ROAS dalam Digital Marketing?

ROAS merupakan singkatan dari Return on Ad Spend. Sederhananya, metrik ini mengukur seberapa besar pendapatan yang dihasilkan dari setiap rupiah yang kamu habiskan untuk iklan.

Berbeda dari metrik seperti jumlah klik atau impresi yang sering terasa “menggembirakan” tapi minim makna, ROAS langsung menunjukkan hasil dalam bentuk uang.

Karena itulah, banyak tim marketing menjadikannya patokan utama sebelum berani menambah bujet.

Angka ini juga kerap dipakai untuk membandingkan performa satu platform dengan platform lain, misalnya Meta Ads versus Google Ads.

Kenapa ROAS Penting untuk Pelaku Usaha?

Beberapa alasan berikut membuat ROAS layak diperhatikan serius:

  • Membantu menentukan ke mana anggaran iklan sebaiknya dialokasikan.
  • Jadi dasar evaluasi sebelum memperbesar skala kampanye.
  • Memudahkan pelaporan performa ke investor atau jajaran manajemen.
  • Mendukung transparansi pengeluaran, yang berguna saat audit maupun pemeriksaan pajak.

Dengan begitu, ROAS berfungsi sebagai bagian dari tata kelola bisnis yang sehat, bukan cuma angka teknis di dashboard iklan.

Baca juga  Izin Edar Frozen Food: Daftar KBLI, Jenis, dan Sanksi
roas adalah

Layanan Pendirian Usaha Dagang (UD), Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS!

Rumus ROAS dan Cara Menghitungnya

Rumusnya sebenarnya sederhana saja:

ROAS = Pendapatan dari Iklan ÷ Biaya Iklan

Yang menentukan akurat tidaknya hasil justru data yang kamu masukkan. Hasilnya biasa ditulis dalam bentuk rasio seperti 4:1, atau dalam persentase seperti 400%.

Berikut langkah menghitungnya:

  1. Tentukan dulu periode kampanye yang mau dievaluasi, misalnya satu bulan.
  2. Jumlahkan seluruh pendapatan yang benar-benar berasal dari iklan tersebut.
  3. Jumlahkan seluruh biaya iklan, termasuk biaya platform dan kreatif jika ada.
  4. Bagi total pendapatan dengan total biaya.
  5. Bandingkan hasilnya dengan target ROAS yang sudah kamu tetapkan.

Hati-hati satu hal. Pastikan hanya pendapatan yang benar-benar terkonversi dari iklan yang dimasukkan, bukan penjualan organik.

Kesalahan kecil ini sering bikin angka ROAS terlihat bagus di atas kertas, padahal kondisi sebenarnya berbeda.

Contoh Perhitungan ROAS dalam Bisnis

Biar lebih kebayang, coba simak simulasi ini. Sebuah toko daring mengeluarkan Rp5.000.000 untuk iklan dalam sebulan. Dari situ, toko tersebut berhasil meraup pendapatan Rp20.000.000.

Maka:

ROAS = Rp20.000.000 ÷ Rp5.000.000 = 4

Artinya, setiap Rp1 yang dibelanjakan menghasilkan Rp4 pendapatan. Untuk sebagian besar bisnis e-commerce, angka ini terbilang bagus.

Meski begitu, angka ideal tetap berbeda-beda, tergantung margin keuntungan dan jenis produk yang dijual.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan. ROAS per kampanye dan ROAS gabungan seluruh akun itu dua hal berbeda. Bisa saja satu kampanye tampil sangat efisien, sementara kampanye lain justru merugi diam-diam.

Karena itu, evaluasi sebaiknya dilakukan secara terperinci, jangan hanya melihat rata-rata.

Perbedaan ROAS dan ROI yang Wajib Dipahami

ROAS dan ROI sering dianggap sama. Padahal keduanya mengukur hal yang berbeda. ROAS cuma membandingkan pendapatan dengan biaya iklan saja.

Sementara ROI, atau Return on Investment, menghitung keuntungan bersih dibandingkan seluruh biaya operasional, mulai dari produksi, gaji karyawan, sampai biaya lain di luar iklan.

Jadi, ROAS punya cakupan yang lebih sempit karena fokus pada efisiensi iklan semata. ROI justru memberi gambaran lebih menyeluruh soal kesehatan bisnis.

Baca juga  Jenis-Jenis Koperasi di Indonesia dan Perbedaannya

Idealnya, kedua metrik ini dipakai berbarengan, saling melengkapi satu sama lain.

Contohnya begini. Sebuah kampanye bisa saja punya ROAS tinggi, tapi ROI-nya tetap tipis kalau biaya produksi dan operasionalnya besar.

Karena itu, tim manajemen perlu melihat dua angka ini bersamaan sebelum mengambil keputusan strategis.

Berapa Target ROAS yang Baik untuk Bisnis?

Tidak ada angka ROAS yang cocok untuk semua jenis usaha. Namun, ada beberapa acuan umum yang bisa jadi pegangan:

  • ROAS di bawah 2: biasanya pertanda iklan belum efisien dan perlu dievaluasi ulang.
  • ROAS 2 sampai 4: tergolong stabil untuk kebanyakan bisnis dengan margin menengah.
  • ROAS di atas 4: menandakan performa iklan yang sangat baik, apalagi untuk produk bermargin tinggi.

Meski begitu, penentuan target tetap perlu disesuaikan dengan struktur biaya masing-masing perusahaan. Bisnis dengan margin tipis butuh ROAS lebih tinggi supaya tetap untung.

Sebaliknya, bisnis dengan margin besar masih bisa bertahan walau ROAS-nya relatif rendah.

roas adalah

Layanan Pendirian Usaha Dagang (UD), Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS!

FAQ Seputar ROAS

1. Apakah ROAS tinggi selalu berarti bisnis untung?

Belum tentu. Angka ROAS yang tinggi cuma menunjukkan iklan berjalan efisien, bukan gambaran keuntungan bersih perusahaan secara utuh.

2. Berapa ROAS minimal supaya bisnis tidak rugi?

Tergantung margin keuntungan produk. Karena itu, setiap bisnis sebaiknya menghitung dulu break-even ROAS masing-masing.

3. Apakah ROAS berlaku untuk semua platform iklan?

Ya. ROAS bisa diterapkan di Google Ads, Meta Ads, maupun TikTok Ads, selama data pendapatannya tercatat dengan rapi.

Kesimpulan

ROAS adalah metrik yang membantu pelaku usaha menilai seberapa efisien uang yang mereka keluarkan untuk iklan. Rumusnya memang sederhana, tinggal membagi pendapatan iklan dengan biayanya.

Namun, ketepatan pencatatan data tetap jadi kunci supaya hasilnya benar-benar mencerminkan kondisi bisnis, bukan angka di atas kertas belaka.

Baca juga  Kronologi Sengketa Merek Kutus Kutus dan Cara Menghindarinya

Sebagai penulis yang juga memahami sisi legal dan kepatuhan usaha, saya menyarankan agar setiap perusahaan mendokumentasikan perhitungan ROAS dengan rapi.

Dokumentasi semacam ini berguna untuk evaluasi marketing, dan juga bisa menjadi bukti pendukung saat perusahaan melaporkan biaya iklan sebagai komponen biaya promosi dalam SPT Tahunan.

Sesuai Peraturan Menteri Keuangan No. 02/PMK.03/2010, biaya periklanan memang termasuk biaya promosi yang dapat mengurangi penghasilan bruto, asalkan wajib pajak menyertakan daftar nominatif yang jelas atas pengeluaran tersebut.

Masih ragu bagaimana mendokumentasikan pengeluaran iklan dengan benar?

Atau ingin memastikan praktik bisnis digitalmu sudah sesuai aturan yang berlaku?

Jangan biarkan pertanyaan itu menggantung begitu saja.

Klik poster yang tersedia, atau tekan tombol “KONSULTASI GRATIS” di pojok kanan website untuk mendapat pendampingan langsung dari tim kami.

Ringkasan

  • ROAS adalah rasio pendapatan iklan dibandingkan biaya iklan yang dikeluarkan.
  • Rumus dasarnya: pendapatan iklan dibagi biaya iklan.
  • Contoh hitungan menunjukkan ROAS 4 berarti setiap Rp1 biaya menghasilkan Rp4 pendapatan.
  • ROAS berbeda dari ROI karena hanya fokus pada efisiensi iklan.
  • Target ROAS ideal berbeda-beda, tergantung margin keuntungan bisnis.
  • Dokumentasi ROAS yang rapi berguna untuk pelaporan keuangan dan pajak.
  • Evaluasi ROAS sebaiknya dilakukan per kampanye, jangan cuma lihat rata-rata akun.

Referensi

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
  2. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 02/PMK.03/2010 tentang Biaya Promosi yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto, Kementerian Keuangan Republik Indonesia (pajak.go.id).
  3. Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU No. 7 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008, disesuaikan melalui UU No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan).
  4. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2023 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (revisi atas Permendag No. 50 Tahun 2020).
  5. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, artikel ilmiah mengenai efektivitas belanja iklan digital terhadap kinerja pemasaran usaha kecil dan menengah di Indonesia.

Tag Terkait:

Bagikan:

Artikel Terpopuler

Bagikan:

Seedbacklink
Seedbacklink

Daftar Isi