Terbaru

Bisnis

Amortisasi Adalah: Pengertian, Rumus, dan Contoh Jurnal

Ditulis oleh Devi Mulina Husdania

Daftar Isi

Amortisasi adalah istilah yang sering muncul ketika seseorang mempelajari akuntansi atau mengelola keuangan perusahaan. Istilah ini berkaitan dengan pembagian biaya perolehan aset tidak berwujud selama periode pemanfaatannya.

Bagi pemilik bisnis dan staf keuangan, pemahaman mengenai amortisasi cukup penting. Kesalahan dalam mencatatnya dapat memengaruhi angka beban dalam laporan laba rugi.

Ada hal lain yang perlu diperhatikan. Perhitungan amortisasi untuk laporan keuangan belum tentu sama dengan perhitungan untuk kepentingan pajak. Keduanya memiliki dasar pengaturan tersendiri.

Menurut saya, amortisasi merupakan salah satu bagian yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan keuangan perusahaan. Pencatatan yang benar membantu menggambarkan pemanfaatan aset dari waktu ke waktu.

Lantas, bagaimana sebenarnya cara menghitung amortisasi? Apa rumus yang digunakan dalam akuntansi? Untuk menjawabnya, mari membahas pengertian, tujuan, metode perhitungan, contoh jurnal, hingga aturan perpajakannya di Indonesia.

Apa Itu Amortisasi? Pengertian dan Tujuannya

Secara sederhana, amortisasi merupakan proses pembebanan biaya perolehan aset tidak berwujud secara bertahap selama masa manfaatnya. Perusahaan mencatat alokasi biaya tersebut sebagai beban amortisasi dalam laporan keuangan.

Beberapa jenis aset yang dapat memenuhi kriteria sebagai aset tidak berwujud antara lain:

  • Hak paten, yaitu hak eksklusif atas suatu penemuan sesuai ketentuan hukum.
  • Hak cipta, yaitu hak atas karya yang memperoleh perlindungan berdasarkan peraturan.
  • Lisensi perangkat lunak, yaitu izin menggunakan program komputer berdasarkan ketentuan tertentu.
  • Merek dagang, apabila memenuhi persyaratan pengakuan sebagai aset tidak berwujud.
  • Hak penggunaan, seperti hak yang perusahaan peroleh melalui perjanjian atau kontrak.
  • Biaya pengembangan, sepanjang memenuhi kriteria pengakuan aset menurut standar akuntansi.

Tujuan Amortisasi dalam Akuntansi

Mengapa perusahaan perlu melakukan amortisasi? Ada beberapa alasan yang berkaitan langsung dengan penyusunan laporan keuangan.

Pertama, amortisasi membantu perusahaan membagi biaya aset sesuai periode manfaat ekonominya. Dengan cara ini, beban yang muncul dapat menggambarkan pemanfaatan aset selama periode tertentu.

Kedua, pencatatan amortisasi membantu menunjukkan nilai tercatat aset secara lebih wajar. Perusahaan dapat mengetahui berapa sisa nilai aset setelah memperhitungkan akumulasi amortisasi.

Ketiga, amortisasi berpengaruh terhadap penghitungan laba perusahaan. Beban amortisasi masuk dalam laporan laba rugi dan mengurangi laba sebelum pajak sesuai perlakuan akuntansi yang berlaku.

Rumus Amortisasi dan Cara Menghitungnya

Cara menghitung amortisasi bergantung pada metode yang dipilih perusahaan. Salah satu metode yang cukup mudah diterapkan adalah metode garis lurus atau straight-line method.

Melalui metode tersebut, perusahaan membagi jumlah biaya yang dapat diamortisasi secara merata selama masa manfaat aset. Metode garis lurus dapat digunakan ketika perusahaan tidak bisa menentukan pola konsumsi manfaat ekonomi aset secara andal.

1. Rumus Amortisasi Metode Garis Lurus

Untuk menghitung amortisasi dengan metode garis lurus, perusahaan dapat menggunakan rumus berikut:

Beban Amortisasi Tahunan = (Biaya Perolehan – Nilai Residu) ÷ Masa Manfaat

Ada tiga komponen yang perlu dipahami sebelum memasukkan angka ke dalam rumus.

  • Biaya perolehan: seluruh pengeluaran yang memenuhi kriteria untuk menjadi bagian dari biaya perolehan aset.
  • Nilai residu: perkiraan nilai aset ketika masa manfaatnya berakhir.
  • Masa manfaat: periode ketika perusahaan memperkirakan aset dapat memberikan manfaat ekonomi.
Baca juga  NPPN Adalah: Pengertian, Fungsi, dan Cara Menggunakannya

Dalam praktiknya, banyak aset tidak berwujud memiliki nilai residu nol. Meski begitu, perusahaan tetap perlu mempertimbangkan ketentuan standar akuntansi saat menentukan nilai tersebut.

2. Contoh Perhitungan Amortisasi

Agar lebih mudah dipahami, perhatikan contoh berikut.

Sebuah perusahaan membeli lisensi perangkat lunak senilai Rp60.000.000. Perusahaan memperkirakan lisensi tersebut dapat digunakan selama lima tahun. Untuk contoh ini, nilai residunya dianggap nol dan perusahaan memilih metode garis lurus.

Data perhitungannya sebagai berikut:

  • Biaya perolehan: Rp60.000.000
  • Nilai residu: Rp0
  • Masa manfaat: 5 tahun

Selanjutnya, masukkan data tersebut ke dalam rumus:

Amortisasi tahunan = (Rp60.000.000 – Rp0) ÷ 5

Amortisasi tahunan = Rp12.000.000

Hasilnya, perusahaan perlu mencatat beban amortisasi sebesar Rp12.000.000 setiap tahun. Perhitungan ini berlaku untuk satu tahun penggunaan penuh berdasarkan asumsi contoh.

Untuk melihat perubahan nilai aset, perhatikan tabel berikut.

TahunBeban AmortisasiAkumulasi AmortisasiNilai Tercatat
PerolehanRp0Rp0Rp60.000.000
Tahun 1Rp12.000.000Rp12.000.000Rp48.000.000
Tahun 2Rp12.000.000Rp24.000.000Rp36.000.000
Tahun 3Rp12.000.000Rp36.000.000Rp24.000.000
Tahun 4Rp12.000.000Rp48.000.000Rp12.000.000
Tahun 5Rp12.000.000Rp60.000.000Rp0

Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai tercatat lisensi terus berkurang setiap tahun. Setelah lima tahun, seluruh biaya yang dapat diamortisasi sudah dialokasikan sebagai beban.

3. Metode Amortisasi Selain Garis Lurus

Metode garis lurus memang cukup sederhana. Namun, perusahaan dapat menggunakan metode lain apabila pola konsumsi manfaat ekonomi aset bisa ditentukan secara andal.

Salah satu pendekatannya adalah metode berdasarkan unit produksi atau tingkat penggunaan. Dalam metode ini, besarnya amortisasi mengikuti pemanfaatan aset selama periode tertentu.

Misalnya, perusahaan memiliki hak penggunaan teknologi yang manfaatnya bergantung pada jumlah unit produksi. Ketika tingkat pemanfaatannya meningkat, beban amortisasi dapat mengikuti pola tersebut.

Contoh Jurnal Amortisasi dan Cara Mencatatnya

Setelah memperoleh angka amortisasi, tahap berikutnya adalah mencatatnya dalam jurnal akuntansi. Proses ini diperlukan agar transaksi masuk ke akun yang tepat dan laporan keuangan tetap seimbang.

Dalam praktiknya, perusahaan biasanya menggunakan akun Beban Amortisasi dan Akumulasi Amortisasi. Akumulasi Amortisasi merupakan akun kontra-aset yang mengurangi nilai tercatat aset tidak berwujud.

1. Jurnal Saat Membeli Aset Tidak Berwujud

Misalnya, perusahaan membeli lisensi perangkat lunak senilai Rp60.000.000 dan membayarnya secara tunai. Lisensi tersebut memenuhi persyaratan untuk diakui sebagai aset tidak berwujud.

Pencatatan transaksi pembelian dapat dibuat seperti berikut:

AkunDebitKredit
Aset Tidak BerwujudRp60.000.000–
Kas/Bank–Rp60.000.000

Jurnal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memperoleh aset dan mengeluarkan uang dari kas atau rekening bank. Setelah transaksi pembelian tercatat, perusahaan perlu menentukan masa manfaat aset.

2. Jurnal Beban Amortisasi Tahunan

Berdasarkan perhitungan sebelumnya, beban amortisasi lisensi mencapai Rp12.000.000 per tahun. Pada akhir periode akuntansi, perusahaan membuat jurnal penyesuaian.

Berikut pencatatannya:

AkunDebitKredit
Beban AmortisasiRp12.000.000–
Akumulasi Amortisasi–Rp12.000.000

Melalui jurnal tersebut, perusahaan mencatat beban amortisasi pada sisi debit. Sementara itu, sisi kredit mencatat penambahan akumulasi amortisasi.

Baca juga  20 Ide Nama Perusahaan yang Menarik dan Mudah Diingat

3. Cara Menyajikan Nilai Aset Setelah Amortisasi

Setelah mencatat beban amortisasi, perusahaan perlu menghitung nilai tercatat aset. Perhitungannya menggunakan biaya perolehan setelah dikurangi akumulasi amortisasi dan rugi penurunan nilai, jika ada.

Rumusnya sebagai berikut:

Nilai Tercatat = Biaya Perolehan – Akumulasi Amortisasi – Rugi Penurunan Nilai (jika ada)

Sebagai contoh, perusahaan memiliki lisensi dengan biaya perolehan Rp60.000.000. Setelah satu tahun, akumulasi amortisasinya mencapai Rp12.000.000.

Maka, nilai tercatat lisensi menjadi Rp48.000.000. Perhitungan tersebut berlaku selama tidak ada penurunan nilai atau penyesuaian lain yang perlu dicatat.

Perbedaan Amortisasi dan Depresiasi

Dalam pembahasan akuntansi, amortisasi sering muncul bersama istilah depresiasi. Keduanya berkaitan dengan alokasi biaya aset selama masa manfaatnya. Meski demikian, penggunaan istilah tersebut umumnya mengacu pada jenis aset yang berbeda.

Agar tidak tertukar, berikut perbandingannya:

AspekAmortisasiDepresiasi
Jenis asetUmumnya aset tidak berwujudAset berwujud
ContohPaten, lisensi, hak penggunaanMesin, kendaraan, bangunan
Dasar alokasiMasa manfaat atau pola konsumsi manfaatMasa manfaat atau pola penggunaan
PencatatanBeban amortisasiBeban penyusutan
Pengaruh laporan keuanganMengurangi nilai tercatat aset tidak berwujudMengurangi nilai tercatat aset tetap

Perbedaan tersebut perlu dipahami ketika perusahaan menyusun laporan keuangan. Setiap jenis aset memiliki karakteristik dan ketentuan pengakuan yang perlu diperiksa.

Amortisasi Menurut Ketentuan Pajak di Indonesia

Amortisasi juga berperan dalam penghitungan Pajak Penghasilan (PPh). Namun, perusahaan perlu memisahkan pencatatan komersial dan fiskal karena keduanya mengikuti dasar aturan yang berbeda.

Amortisasi komersial mengikuti standar akuntansi keuangan. Sementara itu, amortisasi fiskal mengikuti peraturan perpajakan. Perbedaan perlakuan dapat memunculkan koreksi fiskal ketika perusahaan menghitung penghasilan kena pajak.

1. Dasar Hukum Amortisasi Fiskal

Ketentuan amortisasi fiskal terutama terdapat dalam Pasal 11A Undang-Undang Pajak Penghasilan. Pasal tersebut mengatur amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tidak berwujud serta pengeluaran lain yang memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun.

Dalam perkembangannya, ketentuan perpajakan mengalami beberapa perubahan. Salah satu regulasi yang perlu diperhatikan adalah UU No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.

2. Kelompok Masa Manfaat Aset Tidak Berwujud

Untuk kepentingan perpajakan, Pasal 11A UU PPh mengatur kelompok masa manfaat harta tidak berwujud. Pengelompokan ini menjadi dasar untuk menentukan tarif amortisasi fiskal.

Berikut gambaran kelompok masa manfaat dan tarifnya:

KelompokMasa ManfaatTarif Garis LurusTarif Saldo Menurun
Kelompok 14 tahun25%50%
Kelompok 28 tahun12,5%25%
Kelompok 316 tahun6,25%12,5%
Kelompok 420 tahun5%10%

Tarif tersebut merupakan gambaran umum berdasarkan kelompok masa manfaat fiskal. Penerapannya tetap perlu memperhatikan jenis pengeluaran, waktu dimulainya amortisasi, dan ketentuan khusus dalam peraturan perpajakan.

3. Perbedaan Amortisasi Komersial dan Fiskal

Perbedaan masa manfaat antara pencatatan komersial dan fiskal dapat menghasilkan jumlah beban yang berbeda. Kondisi ini perlu diperhatikan ketika perusahaan menyusun laporan keuangan dan menghitung pajak.

Sebagai contoh, perusahaan memperkirakan masa manfaat komersial lisensi perangkat lunak selama lima tahun. Namun, masa manfaat fiskalnya perlu ditentukan berdasarkan klasifikasi serta ketentuan perpajakan yang berlaku.

Baca juga  Revenue Adalah: Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitungnya

Untuk mempermudah pemeriksaan, staf akuntansi sebaiknya membuat daftar aset tidak berwujud secara terpisah. Catatan tersebut dapat memuat:

  • Biaya perolehan aset.
  • Tanggal aset mulai digunakan.
  • Masa manfaat menurut akuntansi.
  • Kelompok masa manfaat menurut pajak.
  • Akumulasi amortisasi komersial.
  • Akumulasi amortisasi fiskal.

Dengan pencatatan yang rapi, perusahaan lebih mudah menelusuri perbedaan antara laporan keuangan dan perhitungan pajak.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Pencatatan Amortisasi

Pencatatan amortisasi membutuhkan ketelitian. Kesalahan kecil dalam menentukan jenis aset atau masa manfaat dapat memengaruhi laporan keuangan. Dampaknya juga bisa terasa ketika perusahaan melakukan rekonsiliasi fiskal.

Beberapa kesalahan berikut cukup sering terjadi dalam praktik akuntansi.

  1. Menganggap semua pengeluaran sebagai aset. Tidak semua biaya dapat dicatat sebagai aset tidak berwujud. Perusahaan harus memeriksa kriteria pengakuannya terlebih dahulu.
  2. Menentukan masa manfaat tanpa pertimbangan yang jelas. Penetapan masa manfaat perlu memperhatikan kontrak, batas perlindungan hukum, dan perkiraan manfaat ekonomi.
  3. Memilih metode amortisasi secara sembarangan. Metode yang digunakan harus menggambarkan pola konsumsi manfaat ekonomi aset.
  4. Menyamakan amortisasi komersial dan fiskal. Keduanya dapat memiliki masa manfaat dan perlakuan yang berbeda.
  5. Tidak mengevaluasi penurunan nilai. Perusahaan perlu memeriksa aset ketika terdapat indikasi bahwa nilai terpulihkannya mengalami penurunan.
  6. Mengabaikan perubahan estimasi. Masa manfaat dan nilai residu perlu ditinjau sesuai ketentuan standar akuntansi.
amortisasi adalah
Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS!

FAQ Seputar Amortisasi

1. Apa yang dimaksud dengan amortisasi?

Amortisasi adalah proses mengalokasikan biaya perolehan aset tidak berwujud selama masa manfaatnya. Contohnya, perusahaan membagi biaya pembelian lisensi perangkat lunak selama periode penggunaan yang diperkirakan.

2. Bagaimana cara menghitung amortisasi?

Salah satu metode yang mudah digunakan adalah metode garis lurus. Caranya, kurangi biaya perolehan dengan nilai residu, kemudian bagi hasilnya dengan masa manfaat aset.

3. Apa perbedaan amortisasi dan depresiasi?

Amortisasi umumnya berlaku untuk aset tidak berwujud, seperti paten dan lisensi. Sementara itu, depresiasi atau penyusutan digunakan untuk aset berwujud, misalnya kendaraan, mesin, dan bangunan.

Kesimpulan

Amortisasi adalah cara mengalokasikan biaya perolehan aset tidak berwujud selama masa manfaatnya. Perusahaan menggunakan metode ini agar beban dalam laporan laba rugi dan nilai aset dalam neraca dapat disajikan secara wajar.

Ada satu hal yang tidak boleh terlewat. Perusahaan perlu membedakan amortisasi komersial dan fiskal karena keduanya mengikuti ketentuan yang berbeda.

Menurut saya, pencatatan amortisasi yang tertib membantu perusahaan mengelola aset secara lebih bertanggung jawab. Mulailah dengan mengenali jenis aset, memeriksa masa manfaat, memilih metode yang sesuai, kemudian menyimpan dokumen perolehannya.

Jika kamu masih ragu menentukan perlakuan akuntansi atau perpajakan atas aset tidak berwujud, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu. Klik poster yang tersedia atau tekan tombol “KONSULTASI GRATIS” di pojok kanan website untuk membicarakan kebutuhan perusahaanmu.

amortisasi adalah
Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS!

Ringkasan

  • Amortisasi merupakan proses mengalokasikan biaya perolehan aset tidak berwujud selama masa manfaatnya.
  • Contoh aset yang dapat memenuhi kriteria amortisasi meliputi paten, lisensi, hak cipta, dan hak penggunaan tertentu.
  • Rumus garis lurus menghitung biaya perolehan setelah dikurangi nilai residu, kemudian membaginya dengan masa manfaat.
  • Jurnal amortisasi umumnya mencatat debit Beban Amortisasi dan kredit Akumulasi Amortisasi.
  • Amortisasi berbeda dari depresiasi karena umumnya berkaitan dengan aset tidak berwujud.
  • Amortisasi fiskal mengikuti ketentuan perpajakan, terutama Pasal 11A UU Pajak Penghasilan.
  • Perusahaan perlu memisahkan pencatatan komersial dan fiskal agar laporan serta perhitungan pajak lebih akurat.

Referensi

  1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan.
  3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2023 tentang Penyusutan Harta Berwujud dan/atau Amortisasi Harta Tak Berwujud.
  4. Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
  5. Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, termasuk PSAK terkait aset takberwujud.
  6. IAS 38 Intangible Assets, IFRS Foundation.

Posted on Google Google
Andri Anggoro profile picture
Andri Anggoro
Google star 1Google star 2Google star 3Google star 4Google star 5Trustindex verifies that the original source of the review is Google.
Mba Millen dan rekan-rekan memberikan pelayanan yang baik dan cepat untuk kebutuhan laporan RUPS kami di NORSTECH, semoga kedepannya kita dapat berkolaborasi.
Posted on Google Google
Irwan Balalembang profile picture
Irwan Balalembang
Google star 1Google star 2Google star 3Google star 4Google star 5Trustindex verifies that the original source of the review is Google.
Rekomendasi banget buat yang mau bikin PT, CV, atau urus izin usaha! Tim legalMp.id ramah banget, gercep, dan siap jelasin detail prosesnya dengan sabar. Pokoknya tinggal terima beres, anti ribet
Posted on Google Google
Rasmianto profile picture
Rasmianto
Google star 1Google star 2Google star 3Google star 4Google star 5Trustindex verifies that the original source of the review is Google.
Terima kasih LegalMP.id yang telah membantu pengurusan Laporan RUSPT dengan cepat, profesional, ramah, komunikatif dan detail setiap informasi yang disampaikan. Untuk next kami tetap percayakan LegalMP.id untuk membantu kepengurusan legalitas lainnya. Salam sukses dan jaya selalu LegalMP.id
Posted on Google Google
Martin Suryana profile picture
Martin Suryana
Google star 1Google star 2Google star 3Google star 4Google star 5Trustindex verifies that the original source of the review is Google.
Urus RUPS tahunan karena gak mau ribet kesana kemari jadi pakai jasa di sini melalui online, memang gercep rekomen banget
Posted on Google Google
BOZZ GENK profile picture
BOZZ GENK
Google star 1Google star 2Google star 3Google star 4Google star 5Trustindex verifies that the original source of the review is Google.
Proses cepat dan lengkap tidak ragu buat dokumen apapun di sini
Posted on Google Google
nenymu profile picture
nenymu
Google star 1Google star 2Google star 3Google star 4Google star 5Trustindex verifies that the original source of the review is Google.
Terima kasih banyak untuk tim LegalMP. id yang sudah membantu pengurusan RUPS Tahunan perusahaan kami di PT. Barkah Container Line (BCLine). Pelayanannya sangat memuaskan, komunikatif, ramah, dan fast respon dari awal konsultasi sampai dokumen selesai. Sangat membantu kami. Sukses selalu dan terima kasih.
Posted on Google Google
Sheva.321 profile picture
Sheva.321
Google star 1Google star 2Google star 3Google star 4Google star 5Trustindex verifies that the original source of the review is Google.
The service quality of this company is top-notch, and they come with fair prices too. They are very patient, and they reply as quick as they can, and they're always ready to provide solutions to your needs. I highly recommend their legal services. They're excellent!
Posted on Google Google
Indriani Karliman profile picture
Indriani Karliman
Google star 1Google star 2Google star 3Google star 4Google star 5Trustindex verifies that the original source of the review is Google.
Proses pengurusan cepat dan lancar, team admin fast respons & komunikatif. Pelayanan memuaskan. Sukses selalu.
Posted on Google Google
Nita Julz profile picture
Nita Julz
Google star 1Google star 2Google star 3Google star 4Google star 5Trustindex verifies that the original source of the review is Google.
Pengurusannya cepat dan tepat waktu. Sesuai dengan permintaan. Sangat profesional

Lihat review Legal MP

dari para pengusaha di seluruh Indonesia!

Artikel Terpopuler

Bagikan:

Seedbacklink
Seedbacklink

Daftar Isi