EPS adalah laba bersih yang menjadi jatah setiap lembar saham biasa. Singkatan dari Earnings Per Share ini hampir selalu muncul di laporan keuangan emiten, dan banyak investor pemula bertanya-tanya apa arti angkanya.
Jawabannya sederhana. Kamu membagi laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa dengan rata-rata jumlah saham yang beredar. Makin tinggi hasilnya, makin besar laba yang dihasilkan perusahaan untuk tiap saham.
Sebagai praktisi hukum, saya punya pandangan sendiri soal ini. EPS terlihat mudah dibaca, sehingga sering membuat investor merasa sudah paham. Padahal angka itu baru berarti kalau kamu mengerti dasar hukum, standar akuntansi, dan kualitas laporan di belakangnya.
Karena itu, artikel ini mengajakmu membedah rumus EPS, cara menghitungnya, dan cara menilainya dengan kepala dingin.
Apa Itu EPS dan Mengapa Penting bagi Investor?
Di dunia analisis saham, EPS termasuk rasio yang paling dasar. Perusahaan terbuka wajib mencantumkannya di laporan laba rugi. Aturan mainnya ada di PSAK 56 tentang Laba per Saham, yang mengacu pada standar akuntansi internasional.
Investor memakai laba per saham untuk beberapa keperluan berikut:
- Menilai kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
- Membandingkan kinerja perusahaan dari tahun ke tahun.
- Menghitung rasio valuasi seperti Price to Earnings Ratio (PER).
- Memperkirakan potensi dividen yang bisa dibagikan.
Bayangkan dua perusahaan dengan ukuran berbeda. Salah satunya mencetak laba Rp1 triliun, angka yang terdengar besar. Kalau jumlah sahamnya 100 miliar lembar, laba per sahamnya hanya Rp10.
Dari contoh itu terlihat bahwa EPS memberi gambaran yang lebih adil daripada laba bersih mentah.
EPS tinggi belum tentu berarti dividen besar. Menurut UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, pembagian dividen harus disetujui RUPS. Perusahaan juga baru boleh membagikannya jika saldo labanya positif.
Jadi, jangan buru-buru berharap dividen jumbo hanya karena EPS tinggi.
Baca Juga: Kapitalisasi Pasar Adalah: Rumus dan Kategori Saham
Rumus EPS dan Cara Menghitung EPS Secara Lengkap
Rumus dasarnya singkat. Ini bentuknya:
EPS = (Laba Bersih – Dividen Saham Preferen) ÷ Rata-rata Tertimbang Saham Biasa Beredar
Yuk, kita bedah satu per satu komponennya.
Komponen dalam Rumus EPS
- Laba bersih: laba setelah pajak yang tercantum di laporan laba rugi.
- Dividen saham preferen: hak pemegang saham preferen yang harus dikurangkan lebih dulu.
- Rata-rata tertimbang saham beredar: jumlah saham biasa yang beredar selama satu periode, disesuaikan dengan waktu penerbitan atau pembelian kembali saham.
Bagian terakhir sering terlewat oleh pemula. Jumlah saham bisa berubah di tengah tahun karena tambahan modal atau buyback. Itu sebabnya perhitungan harus memperhitungkan berapa lama saham tersebut beredar.
Contoh Cara Menghitung EPS
Anggap saja PT Maju Sejahtera Tbk punya data berikut:
- Laba bersih tahun berjalan: Rp500 miliar
- Dividen saham preferen: Rp50 miliar
- Rata-rata tertimbang saham biasa beredar: 2 miliar lembar
Hitungannya begini:
EPS = (Rp500 miliar – Rp50 miliar) ÷ 2 miliar lembar = Rp225 per saham
Artinya, tiap lembar saham biasa menghasilkan laba Rp225 selama periode itu. Setelah itu, bandingkan hasilnya dengan EPS tahun sebelumnya. Kalau angkanya naik secara konsisten, kinerja perusahaan cenderung membaik.

EPS Dasar dan EPS Dilusian: Apa Bedanya?
Banyak investor berhenti di EPS dasar. Padahal laporan keuangan emiten biasanya memuat juga EPS dilusian (diluted EPS). Selisih keduanya patut kamu perhatikan sebelum mengambil keputusan.
EPS dasar memakai jumlah saham biasa yang benar-benar beredar. EPS dilusian melangkah lebih jauh dengan memasukkan instrumen yang berpotensi menambah jumlah saham di masa depan. Contohnya obligasi konversi, waran, dan opsi saham karyawan (stock option).
Mengapa perusahaan wajib menghitungnya? Pemegang saham perlu tahu seberapa besar kepemilikan mereka bisa tergerus. Bila semua instrumen itu dikonversi, jumlah saham bertambah dan laba per saham menyusut.
Karena alasan itu, EPS dilusian biasanya sama dengan atau lebih kecil daripada EPS dasar.
Selisih yang lebar jadi sinyal yang layak dicermati. Jika EPS dilusian jauh di bawah EPS dasar, potensi dilusi kepemilikanmu tinggi. Buka catatan atas laporan keuangan untuk mencari tahu instrumen mana penyebabnya.
Cara Menilai Laba per Saham dengan EPS dan PER
Angka EPS baru bicara banyak kalau kamu menafsirkannya dengan benar. Berikut beberapa cara praktis untuk menilainya.
Bandingkan EPS dari Tahun ke Tahun
Lihat tren EPS selama tiga sampai lima tahun terakhir. EPS yang tumbuh stabil menandakan bisnis yang sehat. Kalau angkanya naik-turun tajam, laba perusahaan patut dipertanyakan konsistensinya.
Cek juga sumber kenaikannya. Apakah berasal dari bisnis inti atau dari keuntungan sekali waktu, misalnya penjualan aset?
Gunakan EPS dan PER Secara Bersamaan
EPS dan PER saling terhubung. PER dihitung dengan membagi harga saham dengan EPS. Pakai contoh tadi: jika harga saham Rp2.250 dan EPS Rp225, PER-nya 10 kali.
Artinya, investor membayar Rp10 untuk setiap Rp1 laba perusahaan. Selanjutnya, bandingkan angka itu dengan rata-rata PER di sektor yang sama.
PER yang jauh lebih rendah bisa berarti sahamnya murah. Bisa juga prospek bisnisnya sedang suram. Karena itu, jangan memutuskan hanya dari satu rasio.
Waspadai Keterbatasan EPS
EPS punya beberapa kelemahan yang perlu kamu kenali:
- Manajemen bisa memengaruhi laba lewat kebijakan akuntansi.
- Buyback saham dapat menaikkan EPS tanpa menaikkan laba.
- EPS tidak menunjukkan arus kas perusahaan.
- Utang besar memperbesar risiko, meski EPS terlihat tinggi.
Maka dari itu, lengkapi analisismu dengan rasio lain seperti Return on Equity (ROE), rasio utang, dan arus kas operasi.
Dasar Hukum dan Keterbukaan Informasi Laporan Keuangan Emiten
Data EPS berasal dari laporan keuangan yang diatur ketat oleh hukum. Memahami sisi legalnya membantu kamu menakar seberapa bisa dipercaya angka tersebut.
Pertama, ada UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, sebagaimana diubah melalui UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Aturan ini mewajibkan emiten menyampaikan informasi yang benar dan tidak menyesatkan. Laporan yang memuat angka palsu bisa berujung sanksi administratif hingga pidana.
Kedua, POJK No. 14 Tahun 2022 mengatur penyampaian laporan keuangan berkala kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Emiten harus menyajikan laporan tahunan dan laporan keuangan yang sudah diaudit akuntan publik. Adapun penyusunan EPS mengikuti PSAK 56 dari Ikatan Akuntan Indonesia.
Kamu bisa mengunduh laporan tersebut secara gratis di situs Bursa Efek Indonesia (idx.co.id). Pilih laporan keuangan audited dengan opini wajar tanpa pengecualian. Langkah ini memperkecil risiko kamu memakai data yang keliru.
Satu catatan: informasi di sini bersifat edukatif. Saya bukan penasihat keuangan, dan setiap investor perlu menyesuaikan keputusan dengan kondisinya sendiri.
FAQ: Pertanyaan Seputar EPS
Apakah EPS yang tinggi selalu berarti saham bagus?
Belum tentu. EPS tinggi memang menunjukkan laba per saham yang besar. Meski begitu, kamu tetap perlu memeriksa harga saham, tingkat utang, arus kas, dan sumber laba. Saham ber-EPS tinggi dengan harga selangit juga menyimpan risiko.
Apakah EPS bisa bernilai negatif?
Bisa. EPS negatif muncul ketika perusahaan mencatat rugi bersih. Kondisi ini wajar pada perusahaan rintisan yang masih bertumbuh. Tetap saja, kamu harus menilai apakah perusahaan sanggup bertahan sampai akhirnya meraih laba.
Di mana saya bisa menemukan data EPS perusahaan?
Cari di laporan laba rugi pada laporan keuangan emiten. Sumber resminya adalah situs Bursa Efek Indonesia dan halaman relasi investor milik masing-masing perusahaan.

Kesimpulan
EPS adalah alat ukur sederhana yang sangat berguna untuk memahami laba per saham. Kamu sudah mempelajari rumus EPS, perbedaan EPS dasar dan dilusian, serta cara menilainya bersama PER. Kamu juga sudah tahu bahwa laporan keuangan emiten berada di bawah pengawasan hukum yang ketat.
Saya menyarankan tiga langkah. Pertama, bandingkan EPS minimal tiga tahun terakhir. Kedua, periksa EPS dilusian dan catatan atas laporan keuangan. Ketiga, padukan EPS dengan rasio lain sebelum membeli saham.
Menurut saya, investor yang cermat selalu mengajukan dua pertanyaan. Berapa EPS-nya? Dari mana laba itu datang, dan apakah laporannya bisa dipercaya? Pertanyaan kedua itulah yang sering menjaga investor dari keputusan keliru.
Kalau kamu masih ragu soal hak sebagai pemegang saham, risiko hukum investasi, atau keabsahan laporan keuangan sebuah perusahaan, jangan memutuskan sendirian. Klik poster yang tersedia atau tombol “KONSULTASI GRATIS” di pojok kanan website ini. Tim kami siap membantumu menemukan langkah yang aman dan sesuai hukum.
Baca Juga: Margin Trading Saham: Cara Kerja, Syarat, dan Risikonya
Ringkasan
- EPS adalah laba bersih per lembar saham biasa yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
- Rumus EPS adalah laba bersih dikurangi dividen saham preferen, lalu dibagi rata-rata tertimbang saham biasa beredar.
- EPS dilusian memperhitungkan instrumen potensial seperti obligasi konversi, waran, dan opsi saham.
- Bandingkan EPS selama beberapa tahun dan gunakan bersama PER agar penilaian lebih akurat.
- EPS tinggi tidak menjamin dividen karena pembagiannya membutuhkan persetujuan RUPS.
- EPS punya keterbatasan, jadi lengkapi dengan rasio ROE, utang, dan arus kas.
- Laporan keuangan emiten diatur oleh UU Pasar Modal, UU P2SK, POJK, dan PSAK 56.
- Prioritaskan laporan keuangan audited dari sumber resmi seperti situs BEI.
Referensi
- Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
- Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
- Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
- Otoritas Jasa Keuangan. POJK Nomor 14 Tahun 2022 tentang Penyampaian Laporan Keuangan Berkala Emiten atau Perusahaan Publik. ojk.go.id.
- Dewan Standar Akuntansi Keuangan, Ikatan Akuntan Indonesia. PSAK 56: Laba per Saham. iaiglobal.or.id.
- Bursa Efek Indonesia. Laporan Keuangan dan Tahunan Perusahaan Tercatat. idx.co.id.





