Sistem layanan kesehatan di Indonesia terus mengalami perubahan yang cukup besar.
Terutama setelah program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mulai dijalankan oleh BPJS Kesehatan.
Di balik berbagai kemajuan yang sudah dicapai, perbedaan ketersediaan layanan kesehatan antara kota besar dan daerah terpencil masih sangat terasa.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Indonesia 2024, jumlah fasilitas kesehatan di Indonesia sudah mencapai 10.416 puskesmas dan 3.155 rumah sakit yang tersebar di seluruh wilayah.
Namun penyebarannya masih belum merata, yaitu lebih dari separuh atau sekitar 50,27% rumah sakit berada di Pulau Jawa (BPS, Statistik Indonesia 2024).
Saya sendiri pernah merasakan langsung betapa sulitnya mendapatkan layanan dokter spesialis di luar kota besar.
Dari situ, saya yakin bahwa memahami dunia penyedia layanan kesehatan secara menyeluruh adalah langkah awal yang sangat penting sebelum kita bisa membicarakan solusinya
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap apa itu healthcare provider, jenis-jenisnya, contoh nyata di Indonesia, serta peran dan manfaatnya bagi masyarakat luas.
Pengertian Healthcare Provider dan Jenisnya
Healthcare provider, atau penyedia layanan kesehatan, adalah orang, lembaga, maupun organisasi yang memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, baik dalam bentuk pencegahan penyakit, pengobatan, pemulihan, maupun peningkatan kesehatan secara umum.
Dalam konteks Indonesia, istilah ini mencakup cakupan yang sangat luas.
Mulai dari dokter umum yang berpraktik di puskesmas pelosok hingga rumah sakit swasta bertaraf internasional di pusat kota.
Memahami pengertian dan jenis-jenis healthcare provider adalah dasar yang penting dalam membangun sistem kesehatan yang efektif dan merata.
Menurut Dr. Paul Starr, seorang ahli sosiologi kesehatan dari Princeton University dalam bukunya The Social Transformation of American Medicine (1982) yang gagasan dasarnya masih relevan hingga sekarang, penyedia layanan kesehatan bukan hanya pelaku teknis semata, melainkan juga lembaga sosial yang membentuk dan dibentuk oleh masyarakat yang mereka layani.
Pandangan ini sangat sesuai dengan kondisi Indonesia.
Di mana faktor sosial, budaya, dan lokasi geografis sangat memengaruhi bagaimana masyarakat mengakses dan menerima layanan kesehatan.
Jenis-jenis Healthcare Provider
1. Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama adalah lapisan pertama dalam sistem layanan kesehatan Indonesia, yang mencakup puskesmas, klinik pratama, dan praktik dokter umum.
FKTP berperan sebagai pintu masuk utama masyarakat ke dalam sistem JKN, dengan tugas utama memberikan layanan pencegahan, promosi kesehatan, dan penanganan penyakit ringan.
Puskesmas, sebagai fasilitas yang paling umum dijumpai dalam kategori ini, tercatat sebanyak 10.416 unit berdasarkan data BPS 2023, meningkat dari 10.374 unit pada tahun sebelumnya (BPS, Statistik Indonesia 2024).
Peran FKTP sangat penting dalam meringankan beban rumah sakit rujukan, karena idealnya sebagian besar masalah kesehatan seharusnya bisa diselesaikan di tingkat ini.
Dalam kenyataannya, masih banyak masyarakat yang melewati FKTP dan langsung datang ke rumah sakit. Bisa jadi ini karena kurangnya kepercayaan terhadap fasilitas kesehatan di tingkat pertama.
2. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut (FKTL)
Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut adalah institusi kesehatan yang memberikan layanan spesialis dan subspesialis, meliputi rumah sakit umum daerah (RSUD), rumah sakit swasta, dan klinik utama.
FKTL menerima pasien yang dirujuk dari FKTP dan menangani kasus-kasus yang membutuhkan penanganan lebih mendalam, seperti operasi bedah, perawatan intensif, atau penanganan penyakit kronis.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI yang dikompilasi BPS dalam Statistik Indonesia 2024, Indonesia memiliki 3.155 unit rumah sakit, yang terdiri atas 2.636 rumah sakit umum dan 519 rumah sakit khusus.
Kapasitas tempat tidur rumah sakit di Indonesia kini mencapai 1,38 per 1.000 penduduk pada tahun 2023, angka yang sudah melampaui standar minimal WHO sebesar 1 per 1.000 penduduk, meski penyebarannya masih sangat tidak merata antara Jawa dan luar Jawa (Kemenkes RI, Profil Kesehatan Indonesia 2023).
Ketimpangan ini membuat FKTL di kota-kota besar kerap dipenuhi pasien melebihi kapasitasnya, sementara di daerah terpencil justru masih kekurangan fasilitas yang memadai.
3. Tenaga Kesehatan Profesional (Individual Providers)
Tenaga kesehatan profesional adalah orang-orang terlatih dan berlisensi yang secara langsung memberikan layanan kesehatan kepada pasien, mencakup dokter umum, dokter spesialis, perawat, bidan, apoteker, dan berbagai profesi kesehatan lainnya.
Menurut data WHO yang dirilis pada 2019 dan dikonfirmasi Kementerian Kesehatan RI, rasio dokter di Indonesia hanya sekitar 0,47 per 1.000 penduduk, menempatkan Indonesia di peringkat 147 dari 205 negara dan peringkat ke-9 di ASEAN, masih jauh di bawah standar WHO sebesar 1 dokter per 1.000 penduduk.
Penyebaran tenaga kesehatan ini pun masih tidak merata, sekitar 59% dokter spesialis terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara mengalami kekurangan yang cukup parah.
Profesi keperawatan dan kebidanan justru memegang peran sangat penting di daerah terpencil karena seringkali menjadi satu-satunya tenaga kesehatan yang bisa diakses warga.
Upaya pemerintah melalui program Nusantara Sehat dan pembukaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berbasis rumah sakit bertujuan menyebarkan dan menambah jumlah tenaga kesehatan ke daerah terpencil, meski pelaksanaannya masih menghadapi berbagai kendala di lapangan.
4. Penyedia Layanan Kesehatan Digital (Digital Health Providers)
Seiring perkembangan teknologi, penyedia layanan kesehatan digital atau telemedicine kini menjadi kategori tersendiri dalam ekosistem healthcare provider di Indonesia.
Platform seperti Halodoc, Alodokter, dan SehatQ memungkinkan masyarakat untuk berkonsultasi dengan dokter tanpa harus keluar rumah, yang terbukti sangat berguna terutama selama pandemi COVID-19.
Halodoc sendiri mencatat lonjakan pengguna hingga enam kali lipat dibandingkan periode sebelum pandemi, dengan total pengguna aktif bulanan mencapai 20 juta pada tahun 2021, dan angka tersebut terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan layanan digital (Halodoc, 2021).
Layanan ini perlahan mulai menjangkau daerah-daerah yang memiliki koneksi internet, sehingga hambatan jarak dalam mengakses layanan kesehatan semakin berkurang.
Kesenjangan digital masih menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi masyarakat lanjut usia dan mereka yang tinggal di daerah terpencil dengan akses internet yang terbatas.
5. Penyedia Layanan Kesehatan Alternatif dan Tradisional
Di Indonesia, masih tinggi kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan tradisional.
Praktisi seperti tabib, dukun bayi, herbalis, dan klinik akupunktur merupakan bagian dari jaringan layanan kesehatan informal yang keberadaannya sudah ada jauh sebelum sistem kesehatan modern berkembang.
Kementerian Kesehatan RI bahkan sudah mengintegrasikan pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional melalui program Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad).
Berdasarkan data Riskesdas 2018, proporsi masyarakat yang memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional mencapai 31,4%, meningkat dari 30,4% pada Riskesdas 2013, angka yang menunjukkan betapa signifikannya peran sektor ini dalam kehidupan masyarakat (Kemenkes RI, Laporan Nasional Riskesdas 2018).
Upaya mengintegrasikan layanan kesehatan modern dan tradisional menjadi tantangan sekaligus peluang untuk membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif dan sesuai dengan nilai-nilai budaya masyarakat.
Contoh Healthcare Provider di Indonesia
Indonesia memiliki beragam contoh nyata healthcare provider yang beroperasi di berbagai tingkatan dan melayani berbagai segmen masyarakat.
Dari fasilitas milik pemerintah yang tersebar hingga ke pelosok desa, hingga jaringan rumah sakit swasta bertaraf internasional di pusat kota, ekosistem healthcare provider Indonesia mencerminkan betapa beragamnya kebutuhan kesehatan masyarakat di seluruh wilayah.
Berikut adalah beberapa contoh konkret healthcare provider yang berperan penting dalam lanskap kesehatan Indonesia.
1. Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat)
Puskesmas adalah tulang punggung sistem pelayanan kesehatan dasar Indonesia yang dikelola oleh pemerintah daerah di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan RI.
Setiap puskesmas bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya, mencakup layanan pengobatan di dalam gedung maupun kegiatan promosi dan pencegahan penyakit di luar gedung seperti posyandu dan kunjungan rumah.
Per data BPS dalam Statistik Indonesia 2024, Indonesia memiliki 10.416 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan, menjadikannya jaringan fasilitas kesehatan dengan jangkauan terluas di tanah air.
Puskesmas juga berperan sebagai penjaga gerbang dalam sistem JKN, di mana peserta BPJS Kesehatan wajib mendapatkan surat rujukan dari puskesmas sebelum bisa mengakses layanan spesialis.
Meski keterbatasan sumber daya dan tenaga kesehatan masih menjadi kendala, dengan data Kemenkes 2022 menunjukkan sekitar 11,3% puskesmas masih kekurangan dokter, puskesmas tetap menjadi andalan utama layanan kesehatan bagi jutaan masyarakat Indonesia, terutama dari kalangan ekonomi bawah.
2. Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Nasional
Rumah Sakit Umum Pusat seperti RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta, RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta, dan RSUP Dr. Hasan Sadikin di Bandung merupakan pusat rujukan tingkat tersier yang menangani kasus-kasus paling kompleks dari berbagai penjuru Indonesia.
RSUP berada langsung di bawah naungan Kementerian Kesehatan RI dan seringkali terintegrasi dengan fakultas kedokteran, sehingga menjadi pusat pendidikan dan penelitian medis sekaligus.
RSCM misalnya, sebagai rumah sakit pusat rujukan nasional, melayani ratusan ribu pasien setiap tahunnya dengan berbagai kasus mulai dari transplantasi organ hingga penanganan penyakit langka.
Kapasitas dan fasilitas RSUP umumnya jauh lebih lengkap dibandingkan rumah sakit daerah, dengan tersedianya alat-alat diagnostik canggih dan tim dokter subspesialistik.
Beban pasien yang sangat tinggi kerap menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam hal waktu tunggu yang panjang dan keterbatasan ruang rawat inap.
3. Rumah Sakit Swasta Berjaringan
Kelompok rumah sakit swasta berjaringan seperti Siloam Hospitals, Mitra Keluarga, Eka Hospital, dan Mayapada Hospital mewakili segmen layanan kesehatan premium yang terus tumbuh seiring meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia.
Jaringan ini biasanya mengoperasikan beberapa rumah sakit sekaligus di berbagai kota, dengan standar pelayanan dan fasilitas yang cenderung lebih modern dan konsisten.
Data Kemenkes RI 2023 menunjukkan bahwa dari 3.155 rumah sakit yang ada, sebanyak 1.545 atau sekitar 58,6% dari rumah sakit umum dikelola oleh pihak swasta, mencerminkan dominasi dan pertumbuhan pesat sektor swasta dalam industri kesehatan Indonesia.
Meskipun melayani segmen menengah ke atas dengan tarif yang lebih tinggi, beberapa jaringan ini juga menerima pasien BPJS Kesehatan untuk kelas-kelas tertentu.
Kehadiran rumah sakit swasta berjaringan mendorong peningkatan standar layanan dan persaingan yang sehat dalam industri kesehatan Indonesia.
4. Klinik Kesehatan dan Apotek Berjaringan
Klinik kesehatan dan apotek berjaringan seperti Klinik Kimia Farma, Century Healthcare, dan jaringan apotek K24 merupakan healthcare provider di tingkat ritel yang menjangkau masyarakat secara lebih luas dan mudah dijangkau.
Klinik-klinik ini biasanya berlokasi di pusat perbelanjaan, perumahan, atau kawasan komersial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, menawarkan layanan konsultasi dokter umum, pemeriksaan laboratorium dasar, dan farmasi dalam satu tempat.
Berdasarkan data fasyankes.kemkes.go.id, Indonesia memiliki 14.564 klinik pratama dan 2.697 klinik utama, di mana 15.311 di antaranya merupakan klinik milik swasta dan hanya 1.950 klinik milik pemerintah (Kemenkes RI, 2023).
Model layanan yang menggabungkan apotek dan klinik ini sangat memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan dasar tanpa harus mengantre panjang di puskesmas atau rumah sakit.
Keberadaan apotek berjaringan juga membantu memastikan ketersediaan obat-obatan yang lebih terjamin dibandingkan apotek mandiri.
5. Platform Telemedicine (Halodoc, Alodokter, SehatQ)
Platform telemedicine Indonesia telah berkembang menjadi salah satu ekosistem kesehatan digital terbesar di Asia Tenggara, dengan Halodoc dan Alodokter sebagai dua pemain terdepan.
Halodoc, yang didirikan pada 2016, mencatat total pengguna aktif bulanan lebih dari 20 juta pada puncak pandemi COVID-19 di tahun 2021, dengan jangkauan yang mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah terluar seperti Aceh, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua (Halodoc, 2021).
Layanan yang tersedia mencakup konsultasi dokter melalui pesan chat atau video call, pembelian obat dengan pengiriman ke rumah, pemesanan jadwal laboratorium, serta akses ke berbagai informasi kesehatan yang terpercaya.
Selama pandemi COVID-19, platform telemedicine mengalami lonjakan penggunaan yang sangat signifikan, di mana Halodoc mencatat peningkatan transaksi konsultasi hingga enam kali lipat, sebuah angka yang menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan digital.
Pemerintah Indonesia pun mulai mengintegrasikan beberapa platform telemedicine ke dalam ekosistem JKN.
Ini membuka peluang bagi lebih banyak masyarakat untuk mengakses konsultasi dokter secara digital dengan dukungan BPJS Kesehatan.
Peran Healthcare Provider dan Manfaatnya bagi Masyarakat
Healthcare provider memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat pengobatan.
Mereka adalah pilar utama dalam menjaga kesehatan masyarakat, meningkatkan kualitas hidup, dan berkontribusi pada produktivitas ekonomi sebuah bangsa.
Di Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa yang tersebar di ribuan pulau, peran healthcare provider menjadi semakin kompleks.
Berikut beberapa peran dan manfaat utama yang dihadirkan oleh healthcare provider bagi masyarakat Indonesia.
1. Penyediaan Layanan Pengobatan dan Penanganan Penyakit
Peran paling mendasar dari healthcare provider adalah memberikan penanganan medis kepada orang yang sakit, mulai dari diagnosis, pengobatan, hingga pemulihan.
Di Indonesia, beban penyakit yang harus ditangani sangat beragam,.
Mulai dari penyakit infeksi seperti tuberkulosis dan malaria di daerah tertentu, hingga penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan kanker yang angkanya terus meningkat, ditandai dengan naiknya prevalensi diabetes dari 6,9% (Riskesdas 2013) menjadi 8,5% (Riskesdas 2018).
Healthcare provider yang kompeten mampu menekan angka kesakitan dan kematian, serta mempersingkat masa sakit sehingga pasien dapat kembali menjalani aktivitasnya lebih cepat.
Kualitas layanan pengobatan yang baik pada akhirnya berkontribusi langsung pada peningkatan angka harapan hidup, yang menurut data BPS 2023 kini telah mencapai 73,93 tahun, meningkat secara konsisten dari angka 71,2 tahun pada tahun 2018 (BPS, Data Umur Harapan Hidup 2023).
Tren positif ini mencerminkan hasil nyata dari penguatan sistem layanan kesehatan secara bertahap, meskipun masih banyak hal yang perlu diperbaiki untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara tetangga.
2. Pelayanan Pencegahan dan Promosi Kesehatan
Selain mengobati penyakit, healthcare provider memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya penyakit melalui berbagai program promosi dan pencegahan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Program imunisasi nasional, pemeriksaan kesehatan rutin, penyuluhan gizi, hingga kampanye hidup sehat merupakan contoh nyata layanan pencegahan yang dijalankan oleh healthcare provider di Indonesia.
Puskesmas, sebagai ujung tombak layanan primer, menjalankan program-program seperti Posyandu, Posbindu PTM (Penyakit Tidak Menular), dan kelas ibu hamil yang menjangkau masyarakat hingga tingkat desa.
Investasi dalam layanan pencegahan terbukti jauh lebih efisien dari sisi ekonomi, karena setiap rupiah yang dikeluarkan untuk mencegah penyakit bisa menghemat biaya pengobatan yang jauh lebih besar di kemudian hari.
Keberhasilan program imunisasi di Indonesia masih perlu terus ditingkatkan, mengingat data Riskesdas 2018 mencatat cakupan imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12 sampai 23 bulan masih berada di angka 57,9%.
3. Pemberdayaan dan Edukasi Kesehatan Masyarakat
Healthcare provider bukan hanya tempat berobat, melainkan juga agen edukasi yang membantu masyarakat memahami kondisi kesehatan mereka sendiri dan membuat keputusan yang lebih baik terkait gaya hidup.
Melalui konseling, penyuluhan kelompok, dan berbagai media komunikasi kesehatan, tenaga kesehatan membantu masyarakat memahami risiko penyakit, pentingnya deteksi dini, dan cara menjaga kesehatan secara mandiri.
Platform kesehatan digital juga berperan semakin besar dalam memperluas akses informasi kesehatan, memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan medis yang terpercaya kapanpun dan di manapun mereka berada.
Edukasi ini sangat penting di Indonesia, mengingat masih beredarnya berbagai mitos dan kepercayaan yang tidak berdasar secara ilmiah yang dapat memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.
Masyarakat yang mendapat edukasi kesehatan yang memadai cenderung lebih aktif menjaga kesehatannya, lebih patuh terhadap pengobatan, dan lebih cepat mencari pertolongan medis ketika dibutuhkan.
4. Dukungan terhadap Kesehatan Ibu dan Anak
Salah satu peran paling strategis healthcare provider di Indonesia adalah memastikan kesehatan ibu dan anak, mengingat angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) masih menjadi tantangan yang cukup besar.
AKI Indonesia berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015, masih berada di angka 305 per 100.000 kelahiran hidup, jauh dari target RPJMN 2024 sebesar 183 per 100.000 kelahiran hidup dan target SDGs 2030 sebesar 70 per 100.000 kelahiran hidup (BPS, SUPAS 2015).
Bidan dan dokter kandungan berperan sangat penting dalam memastikan kehamilan yang sehat, persalinan yang aman, dan perawatan bayi baru lahir yang tepat.
Kabar baiknya, Riskesdas 2018 mencatat proporsi persalinan di fasilitas kesehatan sudah meningkat menjadi 79,3%, naik dari 66,7% pada Riskesdas 2013.
Program seperti Ante Natal Care (ANC) terpadu dan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih telah terbukti menurunkan risiko kematian ibu dan bayi secara nyata.
Pencapaian target AKI dan AKB membutuhkan penguatan healthcare provider di semua tingkatan, terutama di daerah terpencil dan tertinggal di mana akses terhadap tenaga kesehatan terlatih masih sangat terbatas.
5. Kontribusi terhadap Produktivitas Ekonomi dan Pembangunan
Peran healthcare provider memiliki dampak langsung terhadap produktivitas ekonomi dan pembangunan nasional, melampaui dimensi kesehatan itu sendiri.
Masyarakat yang sehat adalah modal dasar pembangunan, karena mereka lebih produktif, lebih mampu belajar, dan lebih bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.
Menurut laporan World Health Organization (WHO), setiap 10% peningkatan angka harapan hidup berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 0,3 sampai 0,4% per tahun.
Di Indonesia, biaya yang timbul akibat hilangnya produktivitas karena penyakit diperkirakan mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya, sebuah angka yang bisa ditekan secara signifikan dengan memperkuat sistem healthcare provider.
Investasi dalam healthcare provider, karenanya, adalah investasi strategis jangka panjang yang memberikan manfaat berlipat ganda bagi pembangunan bangsa, jauh melampaui sekadar pos pengeluaran.
Hal ini sejalan dengan pandangan Prof. Dr. Hasbullah Thabrany, Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan salah satu arsitek utama sistem JKN Indonesia, yang menyatakan bahwa kesehatan adalah hak dasar manusia sekaligus investasi terpenting bagi sebuah bangsa.
Menurutnya, sistem layanan kesehatan yang kuat dan merata bukan hanya soal keadilan sosial, melainkan juga fondasi bagi kemajuan ekonomi yang berkelanjutan.
Ekosistem healthcare provider di Indonesia adalah agenda nasional yang mendesak untuk segera diwujudkan.

Kesimpulan
Saya percaya bahwa solusi untuk kesenjangan layanan kesehatan di Indonesia perlu bergerak di dua arah sekaligus.
Memperkuat fasilitas dan tenaga kesehatan di daerah-daerah yang selama ini kurang mendapat perhatian, sekaligus memanfaatkan teknologi digital untuk menjembatani jarak geografis yang ada.
Pemerintah perlu mempercepat penyebaran tenaga kesehatan ke daerah terpencil, mengingat rasio dokter Indonesia yang baru mencapai 0,47 per 1.000 penduduk masih jauh di bawah standar WHO.
Selain itu, peningkatan remunerasi tenaga kesehatan agar sebarannya lebih merata dan integrasi layanan digital ke dalam sistem JKN juga perlu menjadi prioritas.
Masyarakat pun perlu didorong untuk lebih aktif memanfaatkan fasilitas kesehatan yang sudah tersedia, terutama di tingkat pertama, daripada langsung mendatangi rumah sakit besar.
Pada akhirnya, kesehatan adalah urusan bersama, dan membangun ekosistem healthcare provider yang kuat, merata, dan berkualitas adalah tanggung jawab kita semua, bukan hanya pemerintah semata.
Referensi:
- Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Statistik Indonesia 2024. Jakarta: BPS RI.
- Kementerian Kesehatan RI. (2023). Profil Kesehatan Indonesia 2023. Jakarta: Kemenkes RI.
- Kementerian Kesehatan RI / BPS. (2015). Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015.
- Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Litbangkes Kemenkes RI.
- Dataindonesia.id. (2024, Maret). Data Umur Harapan Hidup Penduduk Indonesia pada 2023. Dikutip dari dataindonesia.id.
- World Health Organization (WHO). Health and Economic Productivity.
- Halodoc. (2021, April). Lima Tahun Berinovasi: Halodoc Terus Fokus Jawab Tantangan Kesehatan di Indonesia. Dikutip dari halodoc.com.
- Liputan6.com. (2023, Februari). Rasio Dokter RI Hanya 0,47 per 1.000 Penduduk. Dikutip dari liputan6.com.








