Terbaru

Day: September 23, 2026

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi pada tanggal tersebut

Webinar Seller Talks: Strategi Scale Up dan Kolaborasi untuk Pelaku Usaha

Webinar Seller Talks: Strategi Scale Up dan Kolaborasi untuk Pelaku Usaha

Legalitas UMKM menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika bisnis mulai berkembang.  Bagi pelaku UMKM, seller, reseller, dan pemilik brand, legalitas usaha dapat berkaitan dengan NIB, kegiatan usaha, bentuk badan usaha, hingga kebutuhan administrasi ketika ingin melakukan kerja sama. Dalam upaya mendukung para seller dan UMKM untuk bisa naik kelas, komunitas Ruang Seller dari Lion Parcel berkolaborasi dengan LegalMP menghadirkan  Webinar Seller Talks: Strategi Legalitas UMKM untuk Scale Up & Kolaborasi dengan narasumber Ayu Nur Azizah, Operation Manager LegalMP by Menjadi Pengaruh. Seller Talks akan membahas beberapa hal yang penting dipahami pelaku usaha, mulai dari pentingnya legalitas untuk UMKM, NIB dan manfaatnya bagi bisnis, pemilihan badan usaha yang tepat, hingga kesalahan legalitas yang sering terjadi. Acara ini akan diselenggarakan pada Rabu, 30 September 2026, jam 19.00–20.00 WIB. Bagi pelaku usaha yang sedang membangun bisnis, mengembangkan brand, atau mulai membuka peluang kolaborasi, materi Seller Talks dapat menjadi referensi untuk memahami legalitas usaha sesuai kebutuhan bisnis. Pentingnya Legalitas bagi UMKM Legalitas merupakan bagian dari administrasi yang perlu diperhatikan dalam menjalankan usaha.  Ketika bisnis masih berada pada tahap awal, pemilik usaha biasanya lebih banyak berfokus pada produk, pemasaran, penjualan, dan pelanggan. Seiring perkembangan bisnis, kebutuhan administratif dapat bertambah.  Pelaku usaha mungkin mulai membutuhkan NIB, mengembangkan kegiatan usaha, memilih bentuk badan usaha, atau memenuhi persyaratan tertentu ketika ingin melakukan kerja sama. Beberapa kondisi yang sering dialami pelaku UMKM antara lain: Kebutuhan legalitas setiap usaha dapat berbeda karena berkaitan dengan kegiatan dan tingkat risiko usaha.  Saat ini, penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko mengacu pada PP Nomor 28 Tahun 2025, yang mengatur persyaratan dasar, Perizinan Berusaha, PB UMKU, layanan OSS, serta pengawasan. Karena itu, pelaku UMKM perlu memahami legalitas berdasarkan kondisi bisnis yang dijalankan. Pentingnya legalitas bagi UMKM menjadi salah satu topik yang akan dibahas dalam Seller Talks. NIB dan Manfaatnya bagi Bisnis Salah satu bagian penting dalam legalitas usaha adalah NIB atau Nomor Induk Berusaha. NIB merupakan identitas bagi pelaku usaha untuk memulai dan menjalankan kegiatan usaha di Indonesia melalui sistem OSS. Bagi pelaku UMKM, NIB dapat menjadi bagian dari administrasi usaha dan proses perizinan. Data kegiatan usaha yang didaftarkan juga berkaitan dengan bidang usaha yang dijalankan. Beberapa hal yang perlu dipahami mengenai NIB meliputi: Memiliki NIB juga tidak berarti semua jenis kegiatan usaha memiliki kebutuhan perizinan yang sama. Dalam sistem Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, jenis perizinan dan kewajiban usaha ditentukan berdasarkan tingkat risiko kegiatan usaha. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami NIB bersama dengan kegiatan usaha dan ketentuan perizinan yang berlaku. Memilih Badan Usaha untuk Pengembangan Bisnis Selain NIB, pemilik usaha juga perlu memahami pilihan badan usaha ketika bisnis mulai berkembang. Beberapa bentuk badan usaha yang sering menjadi pertimbangan pelaku UMKM adalah PT Perorangan, PT Umum, dan CV. Masing-masing memiliki struktur dan karakteristik yang berbeda. Secara umum, beberapa aspek yang dapat dipertimbangkan sebelum memilih badan usaha adalah: PT Perorangan dapat menjadi pilihan bagi satu orang yang memenuhi ketentuan untuk mendirikan Perseroan Perorangan. Sementara itu, PT Umum memiliki struktur perseroan dengan pemegang saham dan mekanisme pendirian yang berbeda. CV juga memiliki karakteristik tersendiri karena menggunakan struktur persekutuan dengan sekutu yang memiliki kedudukan berbeda. Gambaran sederhana mengenai ketiga bentuk tersebut dapat dilihat berikut: Aspek PT Perorangan PT Umum CV Pendiri 1 orang sesuai ketentuan Minimal 2 orang Minimal 2 orang Struktur Perseroan dengan satu pemegang saham Perseroan dengan pemegang saham Persekutuan dengan sekutu Pendirian Sesuai mekanisme Perseroan Perorangan Melalui akta pendirian Melalui akta pendirian Karakteristik Sesuai kebutuhan usaha dengan satu pemegang saham Struktur perseroan Struktur persekutuan Tabel tersebut merupakan gambaran umum. Pemilihan bentuk badan usaha tetap perlu melihat kondisi usaha, struktur kepemilikan, kegiatan bisnis, dan rencana pengembangan. Pelaku usaha juga perlu mempertimbangkan kebutuhan jangka menengah dan panjang. Misalnya, apakah bisnis akan tetap dimiliki satu orang, apakah ada rencana menambah pemilik, atau apakah akan ada kebutuhan kerja sama dengan pihak lain. Cara memilih badan usaha yang tepat, termasuk pertimbangan PT Perorangan, PT Umum, dan CV, akan dibahas dalam Seller Talks ini. Kesalahan Legalitas yang Sering Terjadi pada UMKM Pemahaman mengenai legalitas juga penting untuk mengurangi kesalahan dalam proses pengurusan maupun pengelolaan data usaha. Beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan pelaku UMKM antara lain: a. Memilih KBLI Tanpa Memahami Kegiatan Usaha KBLI digunakan untuk mengklasifikasikan kegiatan usaha. Karena itu, pemilihannya perlu disesuaikan dengan aktivitas bisnis yang benar-benar dijalankan. Kesesuaian kegiatan usaha dengan KBLI penting karena data tersebut berkaitan dengan proses perizinan melalui OSS. b. Menganggap NIB Sudah Mencakup Semua Perizinan NIB merupakan identitas pelaku usaha, tetapi kebutuhan perizinan dapat berbeda berdasarkan jenis kegiatan dan tingkat risiko usaha. Pelaku usaha perlu melihat apakah kegiatan bisnisnya memiliki persyaratan atau perizinan tambahan. c. Memilih Badan Usaha Hanya Berdasarkan Biaya Biaya dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika mendirikan badan usaha. Namun, pelaku usaha juga perlu melihat struktur kepemilikan, rencana pengembangan, kegiatan usaha, serta kebutuhan kerja sama sebelum menentukan pilihan. d. Tidak Memperbarui Data Ketika Bisnis Berkembang Bisnis dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Penambahan kegiatan usaha, perubahan lokasi, atau perubahan struktur bisnis perlu diikuti dengan pengecekan terhadap data dan legalitas yang dimiliki. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat diminimalkan dengan memahami kebutuhan bisnis dan memeriksa kembali legalitas ketika terjadi perubahan. Legalitas UMKM untuk Scale Up dan Kolaborasi Legalitas juga perlu diperhatikan ketika UMKM mulai melakukan scale up dan membuka peluang kolaborasi. Pengembangan bisnis dapat melibatkan penambahan kegiatan usaha, perluasan pasar, pengembangan brand, pembukaan lokasi baru, maupun kerja sama dengan pihak lain. Dalam proses tersebut, pelaku usaha dapat menemukan persyaratan administrasi yang berbeda-beda dari setiap calon mitra. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan dan diperhatikan antara lain: Persyaratan tersebut dapat berbeda sesuai dengan jenis kegiatan dan bentuk kerja sama. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami legalitas yang dimiliki sebelum mengembangkan bisnis melalui kolaborasi. Materi Strategi Legalitas UMKM untuk Scale Up & Kolaborasi akan membahas konteks tersebut dengan fokus pada kebutuhan pelaku UMKM. Kesimpulan Legalitas UMKM menjadi bagian yang perlu dipahami ketika bisnis mulai berkembang. NIB merupakan salah satu identitas penting bagi pelaku usaha, sementara kebutuhan perizinan lainnya dapat mengikuti kegiatan dan tingkat risiko usaha. Pelaku usaha juga perlu memahami pilihan badan usaha seperti PT Perorangan, PT Umum, dan CV, serta memperhatikan kesesuaian legalitas dengan kegiatan

SELENGKAPNYA
Kewajiban AMDAL untuk Usaha Kecil, Wajib atau Tidak?

Kewajiban AMDAL untuk Usaha Kecil, Wajib atau Tidak?

Banyak pemilik usaha kecil merasa cemas ketika mendengar istilah AMDAL. Padahal, tidak semua usaha wajib mengurus AMDAL sebelum beroperasi.  Pemerintah membedakan kewajiban dokumen lingkungan berdasarkan tingkat dampak dan skala kegiatan usaha, bukan semata-mata dari besar kecilnya modal. Dasar hukumnya antara lain Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.  Dalam aturan tersebut, dokumen lingkungan dibedakan menjadi tiga, yaitu AMDAL, UKL-UPL, dan SPPL. Lalu, dokumen mana yang sebenarnya wajib dimiliki usaha kecil? Apakah Usaha Kecil Wajib Memiliki AMDAL? Tidak semua usaha kecil wajib memiliki AMDAL. Berdasarkan PP 22/2021, kewajiban dokumen lingkungan ditentukan berdasarkan potensi dampak kegiatan terhadap lingkungan.  Usaha dengan dampak penting dapat diwajibkan memiliki AMDAL, sedangkan kegiatan dengan dampak yang lebih terbatas dapat masuk kategori UKL-UPL atau SPPL. Khusus bagi usaha mikro dan kecil yang tidak memiliki dampak penting terhadap lingkungan, Pasal 7 ayat (2) PP 22/2021 menempatkannya dalam kategori yang wajib memenuhi SPPL.  Artinya, usaha seperti warung makan, toko kelontong, bengkel rumahan, atau konveksi skala rumah tangga pada dasarnya tidak otomatis harus menyusun AMDAL, selama kegiatan tersebut memang tidak menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. AMDAL sendiri merupakan instrumen pencegahan yang digunakan untuk menilai dampak lingkungan dari kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting.  Karena proses kajiannya lebih mendalam, AMDAL umumnya diperuntukkan bagi kegiatan dengan skala dan risiko lingkungan yang lebih tinggi. Perbedaan AMDAL, UKL-UPL, dan SPPL Berdasarkan Skala Usaha Untuk memahami posisi usaha Anda, penting mengetahui perbedaan mendasar dari tiga jenis dokumen lingkungan, yaitu AMDAL, UKL-UPL, dan SPPL.  Ketiganya diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 4 Tahun 2021 tentang Daftar Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki AMDAL, UKL-UPL, atau SPPL (Permen LHK 4/2021), yang diterbitkan untuk melaksanakan Pasal 106 huruf a PP 22/2021.  Permen ini mengatur jenis usaha atau kegiatan yang wajib memiliki masing-masing dokumen berdasarkan sektor dan karakteristik kegiatannya. AMDAL, sesuai Pasal 22 UU PPLH, wajib dimiliki oleh usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup, seperti industri besar, proyek pertambangan, pembangunan jalan tol, dan kegiatan berskala besar lainnya.  Penyusunannya melibatkan beberapa tahap, mulai dari Kerangka Acuan, dokumen ANDAL,  Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup, hingga Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup. Dokumen tersebut kemudian melalui proses penilaian sebelum diterbitkan Keputusan Kelayakan Lingkungan. Sementara itu, UKL-UPL diperuntukkan bagi usaha yang tidak menimbulkan dampak penting, tetapi tetap memiliki dampak terhadap lingkungan yang perlu dikelola dan dipantau secara terstruktur.  Karakteristiknya umumnya berada pada skala kecil hingga menengah dengan dampak yang relatif lokal dan dapat dikendalikan.  Contohnya dapat mencakup usaha rumah makan berskala menengah, bengkel dengan volume limbah tertentu, atau usaha percetakan yang menghasilkan limbah dalam jumlah terbatas. Adapun SPPL merupakan dokumen lingkungan untuk usaha dengan tingkat risiko dan dampak lingkungan yang lebih rendah.  Berdasarkan Pasal 7 ayat (1) PP 22/2021, SPPL diperuntukkan bagi usaha yang tidak memiliki dampak penting terhadap lingkungan dan tidak termasuk kategori wajib UKL-UPL.  Dokumen ini bersifat pernyataan mandiri atau self-declaratory, sehingga pelaku usaha menyatakan kesanggupannya untuk mengelola dan memantau dampak lingkungan dari kegiatan usahanya.  Bagi usaha mikro dan kecil yang tidak menimbulkan dampak penting, SPPL menjadi salah satu dokumen yang paling relevan. Dokumen Untuk Usaha dengan Contoh Umum Karakteristik AMDAL Dampak penting & risiko lingkungan tinggi Pertambangan, industri besar, jalan tol Kajian lingkungan paling kompleks UKL-UPL Dampak tidak penting, tetapi tetap perlu dikelola Rumah makan menengah, bengkel, percetakan Pengelolaan & pemantauan lingkungan terstruktur SPPL Risiko dan dampak lingkungan rendah Usaha mikro & kecil tertentu Pernyataan mandiri, paling sederhana Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Penentuan Dokumen Lingkungan Sejak diterapkannya sistem perizinan berusaha berbasis risiko melalui OSS-RBA, penentuan jenis dokumen lingkungan tidak lagi dilakukan hanya berdasarkan perkiraan pelaku usaha.  Saat mengajukan Nomor Induk Berusaha melalui OSS, data usaha akan digunakan dalam proses penapisan untuk menentukan kewajiban lingkungan yang sesuai, termasuk apakah kegiatan tersebut memerlukan SPPL, UKL-UPL, atau AMDAL. Ardoni Eka Putra, Ahli Pertama Pencegahan Dampak Lingkungan di Kementerian Lingkungan Hidup, menjelaskan bahwa proses tersebut terhubung dengan sistem Amdalnet.  Dengan mekanisme ini, pelaku usaha tidak perlu menentukan sendiri kategori dokumen lingkungan yang harus dipenuhi karena sistem akan mengarahkan berdasarkan data dan karakteristik usaha yang dimasukkan. Penentuan kewajiban tersebut didasarkan pada rangkaian regulasi, antara lain UU 32/2009, PP 22/2021, dan Permen LHK 4/2021.  Artinya, kewajiban dokumen lingkungan ditentukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan pemerintah, termasuk jenis kegiatan, skala usaha, lokasi, serta potensi dampaknya terhadap lingkungan. Sistem ini juga terus menyesuaikan dengan perkembangan kebijakan perizinan berusaha.  Salah satu regulasi terbaru yang relevan adalah Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, yang menggantikan PP Nomor 5 Tahun 2021.  Melalui sistem perizinan yang semakin terdigitalisasi, proses penentuan persyaratan lingkungan dilakukan melalui sistem pemerintah yang terintegrasi, sehingga pelaku usaha dapat mengetahui dokumen lingkungan yang perlu dipenuhi berdasarkan data kegiatan usahanya. Sanksi Usaha Tanpa Dokumen Lingkungan Meski usaha kecil umumnya hanya diwajibkan memenuhi SPPL, kewajiban ini tetap tidak boleh diabaikan.  Usaha yang beroperasi tanpa memenuhi dokumen lingkungan dapat dikenai sanksi administratif hingga pidana, tergantung jenis dan tingkat pelanggarannya. Untuk pelanggaran yang lebih ringan, pemerintah mengutamakan sanksi administratif sebagaimana diatur dalam PP 22/2021. Sanksinya dapat berupa: Dalam kondisi tertentu, pelanggaran lingkungan juga dapat berujung pada sanksi pidana.  Pasal 109 UU PPLH mengatur ancaman pidana bagi pihak yang menjalankan usaha tanpa memiliki perizinan yang dipersyaratkan, dengan ketentuan pidana yang dapat berupa penjara dan denda, sesuai unsur pelanggaran yang terpenuhi. Bagi usaha kecil, konsekuensi yang paling dekat biasanya bukan langsung pidana, melainkan terhambatnya proses legalitas dan perizinan usaha apabila kewajiban lingkungan tidak dipenuhi.  Karena itu, meskipun hanya diwajibkan SPPL, dokumen ini tetap perlu dipenuhi sejak awal agar kegiatan usaha berjalan sesuai ketentuan dan memiliki bukti komitmen pengelolaan lingkungan. Apa yang Perlu Dilakukan Pemilik Usaha Kecil? Melihat keseluruhan aturan ini, langkah paling aman bagi pemilik usaha kecil adalah memastikan status dokumen lingkungan usahanya sejak awal, meski usahanya berskala mikro atau kecil.  Kewajiban dokumen lingkungan dapat diperiksa melalui sistem OSS saat mengajukan Nomor Induk Berusaha.  Sistem akan mengarahkan proses ke Amdalnet untuk menentukan apakah usaha cukup memerlukan SPPL atau membutuhkan dokumen seperti UKL-UPL.  Jika usaha Anda termasuk kategori

SELENGKAPNYA
nilai residu adalah

Nilai Residu Adalah: Pengertian, Rumus, dan Cara Menghitungnya

Pernah dengar istilah nilai residu, tapi masih bingung apa artinya? Nilai residu adalah salah satu istilah akuntansi yang paling sering bikin pusing pemilik usaha, bahkan staf keuangan yang baru mulai bekerja. Istilah ini selalu muncul setiap kali perusahaan membeli aset tetap, entah itu kendaraan operasional, mesin produksi, atau sekadar peralatan kantor. Singkatnya begini. Nilai residu adalah perkiraan harga jual sebuah aset setelah masa manfaatnya habis dipakai. Sebagai penulis yang juga bergelut dengan sisi hukum dan regulasi keuangan di Indonesia, saya melihat sendiri bahwa banyak pelaku usaha kecil justru menyepelekan hitungan ini. Padahal, nilai residu sangat memengaruhi besaran beban penyusutan dalam laporan keuangan komersial perusahaan. Ada satu hal yang perlu digarisbawahi di sini. Konsep nilai residu ini berbeda dengan penyusutan untuk kepentingan pajak. Berdasarkan Pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2023, penyusutan fiskal justru tidak mengenal nilai residu sama sekali. Aset akan terus disusutkan sampai masa manfaatnya berakhir, tanpa memperhitungkan perkiraan nilai jual sisanya. Karena itulah, kesalahan menghitung nilai residu secara akuntansi bisa memicu selisih antara penyusutan komersial dan penyusutan fiskal, yang pada akhirnya harus direkonsiliasi saat perusahaan melaporkan pajak penghasilan badan. Pengertian Nilai Residu Secara Lengkap Nilai residu, atau kerap disebut nilai sisa, adalah estimasi nilai suatu aset tetap setelah masa manfaat ekonomisnya berakhir. Angka ini menggambarkan harga jual aset tersebut pada saat perusahaan akhirnya memutuskan untuk melepasnya, entah karena sudah rusak, usang, atau sekadar tidak efisien lagi digunakan. Dalam praktik akuntansi sehari-hari, nilai residu menjadi salah satu komponen penting saat menghitung beban penyusutan tahunan. Karena itu, menentukannya tidak boleh asal tebak. Biasanya, perusahaan mempertimbangkan kondisi pasar, jenis aset, sampai pengalaman historis terhadap aset sejenis sebelum akhirnya menetapkan angka nilai residu. Berbeda dengan nilai buku. Nilai buku adalah nilai aset setelah dikurangi akumulasi penyusutan pada periode tertentu, dan angkanya terus bergerak. Sementara itu, nilai residu bersifat tetap sejak awal perhitungan dilakukan. Nilai buku justru berubah setiap tahun, seiring bertambahnya penyusutan. Menentukan nilai residu ternyata butuh pertimbangan yang cukup cermat dari pihak manajemen. Kalau estimasinya terlalu optimis, laporan keuangan bisa terlihat lebih bagus dari kondisi aslinya. Sebaliknya, kalau estimasinya kelewat rendah, beban penyusutan tahunan justru membengkak tanpa alasan yang jelas. Itulah sebabnya banyak perusahaan besar melibatkan penilai independen, supaya angka nilai residu yang ditetapkan benar-benar wajar dan bisa dipertanggungjawabkan. Rumus Nilai Residu dan Komponen di Dalamnya Sebelum masuk ke perhitungan, ada baiknya kamu memahami dulu komponen apa saja yang memengaruhi hasil akhirnya. Berikut rumus dasar yang lazim digunakan dalam akuntansi aset tetap. Rumus nilai residu adalah sebagai berikut: Nilai Residu = Harga Perolehan Aset – Total Akumulasi Penyusutan Ada beberapa komponen yang perlu kamu perhatikan dalam rumus tersebut, di antaranya: Setelah itu, perusahaan bisa menyesuaikan angka nilai residu tersebut sesuai kebijakan akuntansi internal maupun ketentuan perpajakan yang berlaku di Indonesia. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Cara Menghitung Nilai Residu Aset Secara Praktis Sudah paham rumus dasarnya? Sekarang saatnya mempraktikkan perhitungan itu pada kasus yang lebih nyata. Cara menghitung nilai residu sebenarnya cukup mudah, asalkan data pendukungnya sudah lengkap di tangan. Contoh Perhitungan Nilai Residu Coba bayangkan sebuah perusahaan membeli mesin produksi seharga Rp100.000.000. Mesin itu diperkirakan punya masa manfaat selama 5 tahun, dengan metode penyusutan garis lurus. Nah, setelah 5 tahun pemakaian, mesin tersebut diperkirakan masih laku dijual seharga Rp10.000.000. Angka Rp10.000.000 itulah yang disebut nilai residu dari aset tersebut. Dari nilai residu itu, perusahaan bisa menghitung beban penyusutan tahunan lewat rumus berikut: Beban Penyusutan per Tahun = (Harga Perolehan – Nilai Residu) / Masa Manfaat Memakai contoh di atas, beban penyusutan tahunan mesin tersebut mencapai Rp18.000.000 per tahun. Angka ini kemudian dicatat dalam laporan laba rugi pada setiap periode akuntansi. Faktor yang Memengaruhi Estimasi Nilai Residu Beberapa faktor berikut biasanya jadi pertimbangan perusahaan saat menetapkan estimasi nilai residu: Selain itu, perusahaan juga perlu mendokumentasikan dasar asumsi yang dipakai saat menetapkan angka nilai residu. Dokumentasi ini berguna sebagai bukti pendukung, terutama kalau sewaktu-waktu dibutuhkan saat proses audit atau pemeriksaan pajak. Tanpa catatan yang memadai, perusahaan bisa kesulitan menjelaskan dasar perhitungannya kepada auditor eksternal maupun otoritas pajak. Manfaat Nilai Residu bagi Perusahaan dan Pelaporan Pajak Perannya penting, jelas. Nilai residu berperan besar dalam pencatatan akuntansi sekaligus perencanaan keuangan jangka panjang sebuah perusahaan. Dengan mengetahui perkiraan nilai residu sejak awal, perusahaan bisa memperkirakan arus kas dari penjualan aset di masa depan. Penyusutan aset tetap secara fiskal diatur dalam Pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan, dan pengelompokan harta berwujudnya mengikuti Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2023 yang berlaku sejak 17 Juli 2023. Bedanya, ketentuan fiskal ini tidak mengenal nilai residu. Aset tetap tetap disusutkan penuh sampai masa manfaatnya habis, berapa pun tarif kelompoknya. Nah, di sinilah letak jebakannya. Kalau perusahaan mencampuradukkan angka penyusutan komersial, yang memakai nilai residu, dengan angka penyusutan fiskal, yang tidak memakainya, laporan pajak penghasilan badan bisa keliru. Akibatnya, perusahaan berisiko menghadapi koreksi fiskal saat pemeriksaan dilakukan otoritas pajak. Oleh sebab itu, konsultasi dengan akuntan profesional atau konsultan pajak sangat dianjurkan, terutama untuk perusahaan dengan aset bernilai besar, supaya rekonsiliasi antara laporan komersial dan laporan fiskal tetap rapi. Dampak Nilai Residu terhadap Laporan Keuangan Ketepatan menentukan nilai residu juga berdampak langsung pada kewajaran laporan keuangan perusahaan. Kalau nilai residu ditetapkan terlalu tinggi, beban penyusutan tahunan akan tercatat lebih kecil dari kondisi sebenarnya. Sebaliknya, kalau nilai residu ditetapkan terlalu rendah, laba bersih perusahaan bisa tampak lebih kecil karena beban penyusutan membengkak. Makanya, auditor biasanya memeriksa dasar asumsi yang dipakai perusahaan saat menetapkan nilai residu suatu aset. Investor dan pemberi pinjaman pun sering menjadikan angka ini sebagai salah satu indikator kehati-hatian manajemen dalam mengelola aset perusahaan. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! FAQ Seputar Nilai Residu 1. Apakah nilai residu selalu bernilai positif? Tidak selalu. Pada beberapa kasus, terutama aset dengan biaya pembongkaran tinggi, nilai residu bisa saja ditetapkan mendekati nol. 2. Apakah nilai residu dapat berubah setelah ditetapkan di awal? Bisa. Perusahaan boleh merevisi estimasi nilai residu apabila terjadi perubahan signifikan pada kondisi pasar

SELENGKAPNYA
Kunjung Pajak

Kunjung Pajak: Cara Booking dan Layanan yang Tersedia

Pernah datang ke kantor pajak lalu disuruh pulang karena belum punya nomor antrean? Banyak orang mengalaminya. Kunjung Pajak hadir justru untuk mencegah kejadian semacam itu. Sistem ini adalah layanan antrean online resmi milik Direktorat Jenderal Pajak, wajib dipakai setiap kali kamu berniat datang langsung ke Kantor Pelayanan Pajak. Caranya gampang. Kamu tinggal memilih jenis layanan, menentukan tanggal, lalu memesan jam kedatangan, dan urusan mengantre berjam-jam di lokasi pun bisa dihindari. Sebagai penulis yang cukup lama bergelut dengan urusan regulasi perpajakan, saya melihat langkah DJP ini sebagai upaya yang masuk akal untuk merapikan pelayanan publik sekaligus memberi kepastian waktu bagi wajib pajak. Sayangnya, masih banyak yang bingung saat pertama kali membuka aplikasinya. Alurnya memang berurutan, mulai dari mengisi identitas sampai memilih jenis layanan, dan tidak sedikit orang yang akhirnya nekat datang tanpa tiket lalu terpaksa balik lagi keesokan harinya. Nah, di artikel ini kita akan bahas tuntas cara booking Kunjung Pajak, ragam layanan yang bisa dipilih, sampai trik supaya kunjunganmu ke kantor pajak berjalan mulus. Apa Itu Kunjung Pajak dan Mengapa Wajib Digunakan Sejak 1 September 2020, DJP resmi meluncurkan Kunjung Pajak. Awalnya, sistem ini dibuat untuk menjaga ketertiban pelayanan tatap muka selama pandemi berlangsung. Ternyata, setelah masa itu berlalu, layanan ini tetap dipertahankan karena memang efektif menekan penumpukan antrean di loket. Caranya cukup mudah dipahami. Lewat laman kunjung.pajak.go.id, wajib pajak mendaftar sendiri, memilih layanan yang dibutuhkan, lalu menentukan jadwal kedatangan sesuai slot yang masih kosong. Setelah itu, sistem otomatis menerbitkan tiket antrean dan mengirimkannya ke email yang terdaftar. DJP pun sudah menegaskan bahwa aplikasi ini tetap dipakai oleh seluruh KPP dan Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan di Indonesia. Sempat beredar kabar bahwa sejumlah kantor pajak tidak lagi mewajibkan tiket antrean. Kabar itu kemudian diluruskan langsung oleh DJP, yang menegaskan aturan tersebut tetap berlaku secara nasional. Jadi, siapa pun yang berencana mengurus urusan pajak secara langsung, sebaiknya pastikan dulu sudah punya tiket antrean sebelum berangkat. Jangan sampai nekat datang dengan asumsi loket pasti kosong. Menariknya lagi, sistem ini juga membantu DJP memetakan kebutuhan wajib pajak di tiap wilayah kerja. Data soal jenis layanan yang paling sering dipesan bisa jadi acuan buat menambah petugas pada jam-jam sibuk. Bagi wajib pajak sendiri, manfaat yang paling terasa jelas soal kepastian jadwal, sehingga aktivitas harian tidak perlu terganggu hanya karena menunggu giliran berjam-jam di kantor pajak. Cara Booking Kunjung Pajak Secara Online Sebenarnya, proses booking layanan ini tidak serumit yang dibayangkan orang-orang, asalkan data yang disiapkan sudah lengkap sejak awal. Berikut langkah-langkahnya, ikuti saja secara berurutan supaya pendaftaran berjalan tanpa kendala. Isi Data Diri dan Pilih Layanan Tentukan Jadwal dan Konfirmasi Tiket Begitu tiket terbit, usahakan datang ke KPP sepuluh menit sebelum jadwal, jangan lupa bawa identitas asli. Kalau tiketnya belum juga masuk ke email, tenang saja. Kamu masih bisa menelusurinya lewat fitur “Cari Tiket” dengan memasukkan NIK atau nomor paspor yang dipakai saat mendaftar. Satu lagi, coba cek folder spam di emailmu, karena notifikasi tiket kadang tersaring otomatis oleh sistem penyedia layanan surel. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Jenis Layanan yang Tersedia di Kunjung Pajak DJP menyediakan beberapa kategori layanan tatap muka yang bisa dipilih saat mendaftar lewat aplikasi ini. Tiap kategori punya alur penanganan yang agak berbeda satu sama lain. Karena itu, penting buat wajib pajak memilih layanan yang memang sesuai kebutuhan, supaya prosesnya tidak berbelit. Di luar empat kategori tadi, beberapa KPP juga menyediakan layanan tambahan sesuai kebutuhan wilayah kerjanya masing-masing, misalnya aktivasi sertifikat elektronik atau cetak ulang kartu NPWP. Jadi, kalau layanan yang kamu cari tidak muncul di daftar pilihan saat mendaftar, tidak ada salahnya langsung menghubungi KPP tujuan. Tips Agar Kunjungan ke Kantor Pajak Berjalan Lancar Kunjungan ke KPP akan terasa jauh lebih efisien kalau kamu menyiapkan segala sesuatunya sejak jauh hari, termasuk memastikan booking antrean sudah terkonfirmasi. Berikut beberapa tips praktis yang bisa langsung diterapkan. Kalau persiapannya matang, waktu yang kamu habiskan di kantor pajak bisa dipangkas jauh lebih singkat, sehingga urusan administrasi selesai lebih cepat. Sebaliknya, kalau persiapan asal-asalan, biasanya kamu justru harus bolak-balik karena dokumen yang dibawa ternyata belum lengkap. FAQ Seputar Kunjung Pajak Apakah layanan ini wajib digunakan setiap kali ke KPP? Ya. DJP mewajibkan setiap wajib pajak punya tiket antrean lewat aplikasi ini sebelum datang ke KPP maupun KP2KP di seluruh Indonesia. Bagaimana kalau tiket antrean tidak masuk ke email? Gampang. Buka lagi laman kunjung.pajak.go.id, pilih menu “Cari Tiket”, lalu masukkan NIK atau nomor paspor yang tadi dipakai saat mendaftar. Apakah semua layanan pajak bisa diurus lewat sistem antrean ini? Tidak semua. Urusan yang sebenarnya bisa diselesaikan secara daring lewat pajak.go.id sebaiknya tetap diprioritaskan lebih dulu. Kunjung Pajak hanya diperlukan untuk keperluan yang memang mengharuskan tatap muka. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Kesimpulan Pada akhirnya, Kunjung Pajak adalah solusi digital yang membantu wajib pajak mengurus keperluan tatap muka di KPP dengan lebih tertib dan terjadwal. Mulai dari pendaftaran identitas, pemilihan layanan, sampai penentuan jadwal kunjungan, semuanya bisa dilakukan sendiri lewat laman resmi kunjung.pajak.go.id. Bagi yang belum terbiasa, langkah paling aman adalah membaca ulang daftar layanan yang tersedia sebelum mendaftar, supaya tidak salah pilih dan harus mengulang proses booking dari nol. Menurut saya, kehadiran sistem ini juga jadi pengingat bahwa urusan administrasi pajak sekarang menuntut kecermatan dokumen yang lebih tinggi. Apalagi kalau dokumen itu harus diterjemahkan atau dilegalisasi untuk keperluan lintas negara, misalnya bagi wajib pajak asing atau pelaku usaha yang punya mitra di luar negeri. Kalau kamu sedang menghadapi kendala soal dokumen resmi yang perlu diterjemahkan secara sah sebelum diproses instansi pajak atau lembaga lain, jangan ragu klik poster di halaman ini, atau langsung tekan tombol “KONSULTASI GRATIS” di pojok kanan situs untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut. Ringkasan Referensi Direktorat Jenderal Pajak. (2020). Layanan pengambilan nomor antrean secara daring. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Pajak. (2021). Mau ke KPP? Jangan lupa antre online, ya!. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Pajak. (2022). Aplikasi Kunjung Pajak, layanan baru untuk mudahkan wajib

SELENGKAPNYA
pnbp adalah

PNBP Adalah: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

Coba ingat kapan terakhir kali kamu membayar biaya pembuatan paspor atau legalisasi dokumen. Uang yang kamu keluarkan saat itu, ternyata, bukan pajak. Itu adalah PNBP. Banyak orang keliru menyamakan dua istilah ini, padahal keduanya berbeda secara hukum dan tujuannya. Singkatnya, PNBP adalah pungutan yang dibayarkan masyarakat kepada negara sebagai imbalan atas layanan atau pemanfaatan sumber daya yang disediakan pemerintah, di luar penerimaan pajak dan hibah. Pungutan ini hadir di banyak sisi kehidupan, mulai dari urusan kendaraan hingga sertifikasi tanah. Sebagai pakar hukum yang cukup sering menangani urusan legalitas dokumen, saya melihat sendiri bahwa pemahaman masyarakat soal PNBP masih minim. Akibatnya, banyak orang membayar pungutan tanpa tahu dasar hukumnya. Padahal, memahami PNBP justru melindungi masyarakat dari praktik pungutan liar yang mengatasnamakan negara. Pengertian PNBP Menurut Undang-Undang Definisi PNBP diatur secara resmi dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Menurut Pasal 1 ayat (1) undang-undang tersebut, PNBP adalah pungutan yang dibayar oleh orang pribadi atau badan karena memperoleh manfaat langsung maupun tidak langsung atas layanan atau pemanfaatan sumber daya dan hak yang diperoleh negara. Pungutan ini kemudian masuk ke kas pemerintah pusat, terpisah dari penerimaan pajak dan hibah, lalu dikelola lewat mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN. Jadi, ketika kamu membayar biaya pembuatan SIM, paspor, sertifikat tanah, atau legalisasi dokumen di kementerian tertentu, pembayaran itu pada umumnya tergolong PNBP, bukan pajak. Di sinilah letak perbedaan mendasarnya. Pajak bersifat memaksa dan tidak memberikan imbalan langsung. Sementara itu, PNBP muncul justru karena masyarakat menerima layanan atau manfaat tertentu secara langsung dari negara. Karena itu, besaran PNBP biasanya mengikuti jenis layanan yang diterima. Berbeda dengan pajak penghasilan yang mempertimbangkan kemampuan ekonomi wajib bayar. Dasar Hukum dan Tujuan Pengaturan PNBP Selain UU Nomor 9 Tahun 2018, pengelolaan PNBP juga diatur lewat sejumlah peraturan pelaksana. Peraturan Pemerintah, misalnya, mengatur tata cara penetapan tarif dan jenis PNBP di setiap kementerian atau lembaga. Semua regulasi ini penting agar pengelolaan PNBP tetap transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Menurut Pasal 2 UU PNBP, pengaturan PNBP punya tiga tujuan utama. Pertama, mewujudkan kemandirian bangsa dengan mengoptimalkan pendapatan negara dari PNBP untuk memperkuat ketahanan fiskal. Kedua, mendukung kebijakan pemerintah dalam memperbaiki kesejahteraan rakyat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Ketiga, mewujudkan pelayanan pemerintah yang bersih, profesional, transparan, dan akuntabel. Menariknya, undang-undang ini juga menegaskan bahwa tarif PNBP boleh ditetapkan sampai Rp0,00 atau 0 persen, khususnya untuk layanan dasar yang menyangkut kepentingan masyarakat luas. Ketentuan semacam ini menunjukkan bahwa negara tetap memperhatikan aspek keadilan sosial. Dengan begitu, PNBP tidak sekadar menjadi alat mencari keuntungan bagi pemerintah. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Jenis-Jenis PNBP di Indonesia Pasal 3 UU Nomor 9 Tahun 2018 memang menyebut bahwa objek PNBP mencakup seluruh aktivitas, hal, dan benda yang menjadi sumber penerimaan negara di luar perpajakan dan hibah. Tapi rincian jenisnya baru muncul di pasal berikutnya. Pasal 4 ayat (1) membagi objek PNBP tersebut ke dalam enam kelompok besar, seperti berikut. Setiap kementerian dan lembaga punya jenis PNBP yang berbeda-beda, tergantung tugas dan fungsinya masing-masing. Karena itulah, tarif dan mekanisme pembayarannya diatur lagi lewat peraturan pemerintah tersendiri untuk tiap instansi. Contoh PNBP dalam Kehidupan Sehari-hari Supaya lebih gampang dipahami, berikut beberapa contoh PNBP yang sering ditemui masyarakat dalam keseharian. Deretan contoh di atas menggambarkan bahwa PNBP hampir selalu hadir di setiap layanan publik yang melibatkan pemerintah. Perlu diperhatikan, khusus untuk layanan legalisasi dokumen di Kementerian Luar Negeri, pastikan pembayaran dilakukan lewat kanal resmi. Langkah ini penting agar kamu terhindar dari praktik pungutan liar yang mengatasnamakan PNBP. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Tarif dan Pengelolaan PNBP oleh Instansi Pemerintah Setiap instansi pengelola PNBP wajib merencanakan, memungut, dan mempertanggungjawabkan penerimaannya sesuai aturan yang berlaku. Seluruh dana PNBP pun wajib disetorkan langsung ke kas negara. Instansi pemungut tidak boleh memakainya begitu saja tanpa izin. Aturan ini dibuat untuk mencegah penyalahgunaan wewenang dalam pengelolaan keuangan negara. Lalu, bagaimana tarif PNBP ditentukan? Prosesnya tidak keluar begitu saja dari meja satu pejabat. Instansi pengelola PNBP mengajukan usulan tarif terlebih dahulu. Setelah itu, Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal mengevaluasi dan menetapkannya. Ketentuan lebih lanjut soal tata caranya diatur lewat Peraturan Pemerintah, sesuai Pasal 14 UU Nomor 9 Tahun 2018. Ada pengecualian menarik untuk tarif dari pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, seperti dividen BUMN. Untuk jenis ini, penetapan tarifnya justru diatur lewat undang-undang tersendiri atau disepakati langsung dalam rapat umum pemegang saham. Pengawasannya sendiri tetap berjalan berkala lewat pemeriksaan oleh instansi pengelola maupun Badan Pemeriksa Keuangan. Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar PNBP Apa perbedaan PNBP dan pajak? Pajak bersifat memaksa tanpa imbalan langsung. Sementara PNBP dibayarkan sebagai imbalan atas layanan atau manfaat tertentu yang kamu terima secara langsung dari negara. Apakah PNBP wajib dibayar oleh semua orang? Tidak selalu. PNBP hanya wajib dibayar oleh pihak yang benar-benar memanfaatkan layanan atau sumber daya tertentu milik negara, sesuai jenis dan tarif yang berlaku. Ke mana uang hasil PNBP disetorkan? Seluruh penerimaan PNBP wajib disetorkan ke kas negara dan dikelola lewat mekanisme APBN. Bukan digunakan langsung oleh instansi pemungutnya. Kesimpulan Jadi, PNBP adalah pungutan negara di luar pajak yang berasal dari layanan, pemanfaatan sumber daya alam, sampai pengelolaan kekayaan negara. Regulasi utamanya tertuang dalam UU Nomor 9 Tahun 2018, yang menegaskan tujuan, objek, hingga mekanisme pengelolaannya secara transparan. Sebagai langkah yang disarankan, pastikan kamu selalu membayar PNBP lewat kanal resmi pemerintah, terutama untuk urusan penting seperti legalisasi dan penerjemahan dokumen. Menurut saya, sebagai orang yang bergelut di bidang hukum, pemahaman yang baik soal PNBP akan membantu masyarakat menghindari kerugian akibat pungutan liar. Di sisi lain, hal ini juga mendorong tata kelola keuangan negara yang lebih transparan. Kalau kamu butuh bantuan soal legalisasi atau penerjemahan dokumen resmi yang sesuai prosedur dan bebas dari risiko pungutan tidak resmi, jangan ragu klik poster yang tersedia atau tombol KONSULTASI GRATIS di pojok kanan website ini. Tim kami siap membantu. Ringkasan Referensi Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2018). Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.

SELENGKAPNYA
KPP Pratama

KPP Pratama: Pengertian, Fungsi, dan Cara Mengurus Layanannya

Pernah dengar istilah KPP Pratama tapi masih bingung apa fungsinya? KPP Pratama adalah unit kerja Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang paling sering ditemui wajib pajak di seluruh Indonesia. Hampir setiap kabupaten atau kota punya kantor ini. Jadi, masyarakat tidak perlu jauh-jauh mengurus kewajiban perpajakan. Singkatnya, KPP Pratama bertugas melayani, mengawasi, sekaligus memberi penyuluhan kepada wajib pajak orang pribadi maupun badan usaha kecil dan menengah. Sebagai penulis yang juga bergelut dengan sisi hukum administrasi negara, saya melihat keberadaan KPP Pratama sebagai bukti nyata asas kedekatan pelayanan publik. Regulasi perpajakan memang rumit bagi orang awam. Namun begitu, dengan tersebarnya kantor ini sampai ke daerah, DJP berusaha memastikan hak dan kewajiban wajib pajak tetap terjangkau. Karena itulah, memahami fungsi dan cara kerja KPP Pratama menjadi bekal penting sebelum kamu mengurus dokumen perpajakan. Apa Itu KPP Pratama? KPP Pratama merupakan singkatan dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama. Statusnya adalah instansi vertikal DJP yang berada di bawah Kantor Wilayah DJP setempat. Kata “Pratama” sendiri menandakan kelas kantor yang menangani wajib pajak dengan skala transaksi lebih sederhana, berbeda dengan Kantor Pajak Wajib Pajak Besar atau KPP Madya. Menariknya, kantor ini sudah berganti nama beberapa kali sepanjang sejarahnya. Mulai dari Kantor Inspeksi Keuangan di masa awal kemerdekaan, sampai berubah menjadi Kantor Pelayanan Pajak setelah reformasi perpajakan tahun 1984. Barulah sejak 2006 hingga 2008, DJP resmi membentuk KPP Pratama. Ini merupakan hasil modernisasi organisasi yang berorientasi pada fungsi, bukan lagi berdasarkan jenis pajak seperti sebelumnya. Sejak saat itu, KPP Pratama menaungi hampir seluruh wajib pajak di wilayah kerjanya. Mulai dari karyawan, pelaku UMKM, hingga badan usaha kecil. Alhasil, kantor inilah yang menjadi garda terdepan pelayanan pajak nasional. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Fungsi dan Tugas KPP Pratama Ada satu hal yang perlu diluruskan. Dasar hukum yang selama ini sering dikutip, yakni PMK Nomor 167/PMK.01/2012 beserta perubahannya lewat PMK Nomor 206.2/PMK.01/2014, sebenarnya sudah tidak berlaku. Aturan itu pernah digantikan oleh PMK Nomor 210/PMK.01/2017, lalu diperbarui lagi lewat PMK Nomor 184/PMK.01/2020. Nah, pada 17 Maret 2026, Kementerian Keuangan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18 Tahun 2026 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak. Aturan baru inilah yang sekaligus mencabut PMK 210/PMK.01/2017 dan PMK 184/PMK.01/2020, sehingga menjadi rujukan resmi yang berlaku hari ini. Berdasarkan PMK 18 Tahun 2026 tersebut, KPP Pratama tetap menjalankan tugas melaksanakan pelayanan, penyuluhan, pengawasan, dan penegakan hukum terhadap wajib pajak. Cakupannya meliputi Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Tidak Langsung Lainnya, serta Pajak Bumi dan Bangunan untuk sektor tertentu. Nah, secara garis besar, fungsi KPP Pratama meliputi hal-hal berikut ini. Dari daftar ini, jelas terlihat kalau KPP Pratama bukan cuma tempat membayar pajak. Kantor ini juga berperan aktif dalam edukasi dan pengawasan. Alhasil, kepatuhan wajib pajak diharapkan terus meningkat dari waktu ke waktu. Struktur Organisasi yang Mendukung Fungsi Tersebut Dulu, banyak yang mengira struktur KPP Pratama masih memisahkan Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan dari Seksi Pengawasan dan Konsultasi sebagai dua unit berdiri sendiri. Sejak 1 Maret 2020, gambaran itu sudah berubah. DJP menggabungkan fungsi edukasi, pelayanan, dan pemrosesan permohonan wajib pajak ke dalam satu unit demi efisiensi. Fungsi ekstensifikasi, pengawasan, serta pengumpulan data lapangan pun melebur menjadi satu kesatuan kerja account representative. Penataan ini kemudian dikukuhkan lebih lanjut lewat PMK Nomor 18 Tahun 2026. Jadi, meski nama seksi bisa berbeda dari satu kantor ke kantor lain tergantung penerapan di lapangan, intinya tetap sama. Setiap KPP Pratama punya unit pelayanan dan pendaftaran, unit pengawasan kepatuhan, serta bagian umum yang mengurus administrasi internal kantor. Jenis Layanan yang Tersedia di KPP Pratama Wajib pajak bisa memanfaatkan berbagai layanan di KPP Pratama. Mulai dari administrasi dasar sampai penyelesaian sengketa pajak. Berikut beberapa layanan utama yang paling sering diakses masyarakat. Selain layanan tatap muka, DJP juga sudah mengintegrasikan sebagian layanan ke platform digital seperti DJP Online. Meski begitu, sejumlah proses, misalnya verifikasi dokumen tertentu, tetap membutuhkan kehadiran wajib pajak langsung di kantor. Cara Mengurus Layanan di KPP Pratama Baru pertama kali berurusan dengan KPP Pratama? Tenang saja, prosesnya sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan, asalkan dokumen sudah lengkap. Berikut langkah umum yang bisa kamu ikuti. Selain itu, tidak sedikit wajib pajak yang memilih memakai jasa konsultan atau penerjemah tersumpah ketika dokumen pendukungnya berasal dari luar negeri. Langkah ini penting supaya dokumen tetap sah secara hukum dan diterima oleh petugas KPP Pratama. Perlu diketahui juga, waktu penyelesaian tiap layanan berbeda-beda tergantung jenis permohonan. Pendaftaran NPWP biasanya kelar dalam hitungan hari kerja. Sementara itu, permohonan keberatan pajak bisa makan waktu lebih lama karena melewati tahap pemeriksaan. Jadi, sebaiknya kamu mengajukan permohonan jauh-jauh hari sebelum batas waktu kewajiban perpajakan berakhir, supaya terhindar dari sanksi keterlambatan. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! FAQ Seputar KPP Pratama 1. Apakah KPP Pratama melayani semua jenis pajak? Tidak. KPP Pratama fokus pada Pajak Penghasilan, PPN, PPnBM, Pajak Tidak Langsung Lainnya, dan PBB sektor tertentu. Untuk wajib pajak berskala besar, DJP mengarahkannya ke Kantor Pajak Wajib Pajak Besar. 2. Apakah pengurusan NPWP di KPP Pratama dikenakan biaya? Tidak sama sekali. Pendaftaran NPWP di KPP Pratama gratis, baik lewat jalur daring maupun tatap muka langsung. 3. Bagaimana kalau dokumen pendukung berbahasa asing? Biasanya, dokumen berbahasa asing perlu diterjemahkan lebih dulu oleh penerjemah tersumpah. Tujuannya supaya dokumen bisa diproses dan diakui secara hukum oleh petugas KPP Pratama. 4. Apa yang terjadi kalau wajib pajak telat melaporkan SPT? Wajib pajak berisiko kena sanksi administrasi berupa denda. Meski begitu, KPP Pratama tetap membuka layanan konsultasi bagi wajib pajak yang ingin mengajukan pengurangan sanksi dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Kesimpulan Jadi, KPP Pratama adalah ujung tombak pelayanan perpajakan yang menjangkau masyarakat sampai ke tingkat daerah. Fungsinya luas, mencakup pendaftaran, pengawasan, penyuluhan, hingga penyelesaian sengketa pajak. Menurut saya pribadi, memahami tugas KPP Pratama sejak awal akan sangat membantu wajib pajak menghindari kesalahan administrasi yang berpotensi menimbulkan sanksi. Maka dari itu, saya menyarankan supaya kamu menyiapkan dokumen dengan lengkap dan memastikan keabsahannya sebelum mengajukan permohonan ke KPP Pratama, terutama kalau

SELENGKAPNYA
Kantor Pelayanan Pajak

Kantor Pelayanan Pajak: Fungsi, Layanan, dan Cara Menghubunginya

Pernah bingung harus mengurus NPWP atau melaporkan SPT ke mana? Kemungkinan besar jawabannya ada di Kantor Pelayanan Pajak. Tempat inilah yang paling sering didatangi wajib pajak untuk urusan administrasi sehari-hari. Sayangnya, banyak orang masih tertukar antara fungsi kantor ini dengan Kantor Wilayah DJP atau KP2KP. Padahal bedanya cukup jelas. Kantor Pelayanan Pajak, atau yang biasa disingkat KPP, adalah unit vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang menjalankan pelayanan, penyuluhan, pengawasan, sampai penagihan pajak di wilayah kerjanya masing-masing. Selama bertahun-tahun mendampingi klien mengurus dokumen perpajakan, saya melihat sendiri bahwa memahami peran KPP secara tepat justru mempercepat proses administrasi. Kesalahan prosedur yang sering terjadi di lapangan pun bisa dihindari kalau wajib pajak tahu ke kantor mana mereka harus melangkah. Apa Itu Kantor Pelayanan Pajak? Secara struktural, KPP berada di bawah Kantor Wilayah DJP dan menjadi unit yang langsung berhadapan dengan masyarakat. Landasan hukumnya kini merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18 Tahun 2026 tentang organisasi dan tata kerja instansi vertikal DJP. Aturan ini mulai berlaku sejak 1 April 2026, menggantikan PMK 210/2017 beserta perubahannya. Lewat regulasi baru ini, struktur kanwil, KPP, dan KP2KP ditata ulang supaya pelayanan ke masyarakat jadi lebih sederhana. Jabatan fungsional yang dulu tersebar di KPP, misalnya, kini dipusatkan di kanwil. Hasilnya, KPP bisa lebih fokus menangani pelayanan langsung dan tugas administratif harian. Karena itu, penting bagi setiap wajib pajak untuk tahu persis KPP mana tempat mereka terdaftar. Sebab dari situlah surat pemberitahuan, permohonan, sampai pengajuan keberatan akan diproses. Cara paling praktis untuk mengeceknya? Buka saja laman resmi pajak.go.id/unit-kerja, lalu cari sesuai domisili atau tempat usaha. Fungsi Kantor Pelayanan Pajak dalam Sistem Perpajakan Menurut PMK 18/2026, ada beberapa fungsi utama yang dijalankan kantor pelayanan pajak. Semua fungsi itu membuat KPP jadi ujung tombak DJP dalam mengumpulkan penerimaan negara. Uang pajak yang terkumpul, pada akhirnya, membiayai pembangunan yang kita nikmati bersama. Untuk KPP Wajib Pajak Besar dan KPP Khusus, cakupan tugasnya malah lebih luas lagi. Ada bimbingan konsultasi, penggalian potensi perpajakan, hingga dukungan teknis sistem informasi yang harus mereka tangani. Semakin besar skala usaha seorang wajib pajak, semakin rumit pula layanan yang harus disediakan KPP tempatnya terdaftar. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Jenis-Jenis Kantor Pelayanan Pajak di Indonesia Lewat PMK 18/2026, kantor pelayanan pajak dibagi menjadi empat jenis. Pembagian ini disesuaikan dengan skala dan karakteristik wajib pajak yang ditangani. Direktur Jenderal Pajak yang menetapkan pembagian wajib pajak antarkantor ini. Bisa disesuaikan pula berdasarkan beban kerja, skala usaha, atau kompleksitas transaksi yang dimiliki wajib pajak bersangkutan. Bagi kebanyakan orang, termasuk pekerja lepas dan pelaku usaha kecil, urusan pajak biasanya cukup diselesaikan di KPP Pratama sesuai domisili. Sementara itu, perusahaan multinasional atau badan usaha dengan omzet besar umumnya terdaftar di KPP Wajib Pajak Besar atau KPP Khusus. Wajar saja, mengingat transaksi lintas negara yang mereka jalankan jauh lebih kompleks. Layanan yang Tersedia di Kantor Pelayanan Pajak Sebagai unit pelayanan langsung, KPP menyediakan cukup banyak layanan administrasi untuk kebutuhan harian wajib pajak. Kabar baiknya, sebagian layanan itu kini bisa diakses secara daring lewat sistem Coretax DJP. Jadi, wajib pajak tak perlu terus-menerus datang langsung ke kantor. Meski begitu, ada kalanya verifikasi dokumen fisik tetap dibutuhkan. Pengesahan akta pendirian usaha atau perubahan data kependudukan, misalnya, biasanya lebih cepat selesai kalau diurus tatap muka. Petugas KPP pun bisa memberi penjelasan lebih detail untuk sengketa pajak yang sulit dituntaskan hanya lewat kanal daring. Cara Menghubungi Kantor Pelayanan Pajak Ada beberapa saluran resmi yang bisa dipilih wajib pajak untuk menghubungi kantor pelayanan pajak, tergantung kebutuhannya. Satu hal yang wajib diingat, DJP hanya memakai domain email @pajak.go.id dan nomor kontak resmi yang tertera di pajak.go.id/unit-kerja. Karena itu, waspadalah terhadap modus penipuan yang mengatasnamakan petugas pajak. Baik lewat nomor pribadi, tautan mencurigakan, maupun permintaan pembaruan data melalui aplikasi tak resmi, semuanya patut dicurigai. Kalau menemukan indikasi penipuan, segera laporkan ke [email protected] supaya DJP bisa menindaklanjutinya. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! FAQ Seputar Kantor Pelayanan Pajak Apakah KPP dan KP2KP sama? Tidak sama. KPP menangani administrasi perpajakan dengan cakupan yang lebih lengkap. KP2KP lebih berfokus pada pelayanan langsung dan konsultasi dasar, biasanya untuk wilayah yang belum punya KPP. Bagaimana cara mengetahui KPP tempat saya terdaftar? Gampang, kok. Sejak 1 Januari 2025, Coretax DJP sudah jadi satu-satunya aplikasi resmi untuk seluruh urusan administrasi perpajakan, jadi akun DJP Online lama otomatis melebur ke sana. Login saja ke Coretax, lalu cek profil wajib pajakmu untuk melihat KPP terdaftar. Kalau masih ragu atau butuh konfirmasi cepat, tinggal telepon Kring Pajak di 1500200. Apakah semua layanan KPP bisa diurus secara online? Sebagian besar, iya. Pelaporan SPT dan permohonan NPWP misalnya, sudah tersedia daring. Namun untuk kasus tertentu, verifikasi tatap muka masih tetap diperlukan. Kesimpulan KPP memegang peran penting sebagai penghubung antara DJP dan wajib pajak. Mulai dari pelayanan administrasi harian sampai pengawasan kepatuhan, semuanya melewati kantor ini. Setelah memahami fungsi, jenis, dan saluran kontaknya, sebaiknya kamu segera memastikan di KPP mana kamu terdaftar. Dengan begitu, urusan dokumen bisa berjalan lebih lancar. Menurut saya pribadi, langkah pencegahan seperti mengecek keaslian kontak KPP jauh lebih penting daripada buru-buru merespons pesan yang mengatasnamakan petugas pajak. Masih mengalami kendala soal dokumen legalitas usaha atau perizinan yang berkaitan dengan kewajiban administratif lainnya? Jangan ragu klik poster di samping artikel ini, atau tombol “KONSULTASI GRATIS” di pojok kanan website, untuk mendapatkan pendampingan yang tepat. Ringkasan Referensi

SELENGKAPNYA
Perhitungan PPh 21

Perhitungan PPh 21 Terbaru, Ini Rumus dan Contoh Kasusnya

Perhitungan PPh 21 itu memusingkan. Coba tanya karyawan mana pun, atau staf HRD yang baru pindah divisi, hampir pasti mereka pernah salah hitung setidaknya sekali. Rumusnya berubah sejak 2024, sementara kebiasaan lama sulit dilepas begitu saja. Banyak orang masih memakai cara hitung versi lawas yang sebenarnya sudah tidak sepenuhnya berlaku. Padahal pemerintah sudah menerbitkan skema baru bernama Tarif Efektif Rata Rata, atau yang biasa disingkat TER, lewat Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2023. Justru skema ini membuat penghitungan pajak bulanan karyawan jadi lebih ringkas. Sebagai penulis yang bergelut cukup lama dengan regulasi perpajakan, saya melihat TER sebagai langkah maju karena mengurangi peluang salah hitung akibat rumus manual yang berbelit. Meski begitu, kesalahan masih kerap terjadi. Alasannya sederhana, banyak pemberi kerja belum benar-benar paham cara menentukan kategori tarif yang tepat. Nah, di artikel ini kamu akan diajak memahami rumus, tabel tarif, sampai contoh kasus perhitungan PPh 21 secara runtut dan gampang dicerna. Apa Itu PPh 21 dan Dasar Hukum Terbarunya PPh 21 pada dasarnya adalah pajak yang dipotong dari penghasilan karyawan atas pekerjaan, jasa, atau kegiatan yang mereka lakukan. Setiap bulan, sebelum gaji cair ke rekening, pemberi kerja lebih dulu memotong bagian ini. Mulai 1 Januari 2024, dasar hukumnya berubah total lewat Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2023 tentang Tarif Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21. Aturan turunannya kemudian tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168 Tahun 2023. Karena itulah, setiap perusahaan wajib menyesuaikan sistem penggajiannya dengan skema tarif efektif yang baru ini. Kalau tidak, risiko salah potong jadi jauh lebih besar. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Rumus dan Skema Tarif Efektif Rata Rata TER Skema TER membagi penghitungan pajak menjadi dua tahap dalam satu tahun. Pertama, pada masa pajak Januari hingga November, pemberi kerja memakai tarif efektif bulanan saja. Lalu, begitu masuk masa pajak Desember atau masa pajak terakhir, perhitungan dikembalikan lagi ke tarif progresif Pasal 17 ayat 1 huruf a. Berikut rumus dasarnya, supaya lebih mudah diingat: Tarif efektif bulanan sendiri dipecah menjadi tiga kategori, berdasarkan status Penghasilan Tidak Kena Pajak atau PTKP milik karyawan. Kategori A dipakai untuk status TK/0, TK/1, dan K/0. Kategori B untuk status TK/2, TK/3, K/1, dan K/2. Sementara kategori C khusus untuk status K/3. Pembagian ini penting sekali karena tiap kategori punya lapisan tarif dan ambang batas bebas pajak yang berbeda satu sama lain. Tabel Kategori Tarif Efektif Bulanan Setiap kategori TER punya ambang batas penghasilan bruto bulanan yang bebas pajak, sebelum tarifnya mulai jalan. Biar gampang dipahami, berikut gambaran singkatnya. Selain itu, ada juga tarif efektif harian yang berlaku bagi pegawai tidak tetap, mereka yang menerima upah harian, mingguan, satuan, atau borongan. Tabelnya terpisah dan tidak sama dengan tiga kategori di atas. Contoh Kasus Perhitungan PPh 21 Karyawan Biar lebih kebayang, mari lihat simulasi sederhananya. Bayangkan seorang karyawan berstatus TK/0, alias lajang tanpa tanggungan, menerima gaji bruto bulanan sebesar Rp8.000.000. Karena statusnya TK/0, otomatis dia masuk kategori TER A. Angka Rp120.000 itu adalah potongan pajak untuk masa Januari sampai November saja. Nanti, begitu masuk masa pajak Desember, perusahaan akan menghitung ulang total penghasilan setahun dikurangi PTKP, lalu mengalikannya dengan tarif progresif Pasal 17. Hasilnya kemudian dikurangi lagi dengan total pemotongan yang sudah berjalan sepanjang tahun. Dengan cara begini, jumlah pajak yang akhirnya dibayar tetap sama seperti hitungan lama. Yang berbeda cuma metode pemotongan bulanannya. Contoh Kedua: Kategori TER C Sebagai pembanding, coba lihat contoh kedua untuk karyawan berstatus kawin dengan tiga tanggungan, atau biasa ditulis K/3. Karyawan seperti ini otomatis masuk kategori TER C, sebab ambang batas PTKP-nya paling tinggi di antara semua kategori. Sebagai pembanding, karyawan berstatus TK/0 dengan gaji sama justru masuk Kategori A pada lapisan Rp11.600.001 sampai Rp12.500.000, yaitu tarif 4 persen, sehingga PPh 21 bulanannya mencapai Rp480.000. Dari dua contoh tadi, terlihat jelas bahwa status PTKP sangat memengaruhi besaran pajak bulanan. Semakin banyak tanggungan yang dimiliki karyawan, semakin rendah pula tarif efektif yang berlaku pada rentang penghasilan serupa. Karena itu, staf HRD perlu rajin memastikan data status perkawinan dan jumlah tanggungan karyawan selalu diperbarui di setiap awal tahun pajak. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Kesalahan Umum dalam Menghitung PPh 21 Sayangnya, masih banyak pemberi kerja yang keliru saat menerapkan skema TER ini. Akibatnya bisa macam macam, mulai dari kurang bayar sampai lebih bayar pajak karyawan. Berikut beberapa kesalahan yang paling sering muncul. Makanya, perusahaan sebaiknya rutin mengecek ulang data kepegawaian dan sistem payroll, supaya tetap sejalan dengan aturan terbaru. Pertanyaan yang Sering Diajukan Apakah TER menambah beban pajak karyawan? Tidak. TER cuma menyederhanakan cara pemotongan bulanan saja. Total pajak setahun tetap sama seperti hitungan memakai tarif progresif biasa. Bagaimana cara mengetahui kategori TER saya? Kategorinya ditentukan dari status PTKP yang tercatat di data kepegawaian, yakni status perkawinan dan jumlah tanggungan pada awal tahun pajak. Apakah pegawai lepas juga memakai TER bulanan? Tidak selalu. Pegawai tidak tetap dengan penghasilan harian biasanya memakai tarif efektif harian, dengan tabel yang berbeda dari TER bulanan. Kesimpulan Perhitungan PPh 21 sekarang jadi jauh lebih praktis, berkat skema Tarif Efektif Rata Rata yang diatur dalam PP Nomor 58 Tahun 2023. Karyawan maupun staf HRD sebaiknya paham betul soal kategori TER, tabel tarif, sampai mekanisme penghitungan ulang di masa pajak Desember. Menurut saya pribadi, pemahaman yang keliru terhadap skema ini justru sering jadi pemicu sengketa antara karyawan dan perusahaan. Itu sebabnya edukasi soal aturan ini perlu terus digalakkan. Kalau kamu masih ragu menghitung PPh 21 sendiri, atau butuh pendampingan seputar dokumen perpajakan dan urusan legalitas lainnya, langsung saja klik poster di samping artikel ini. Bisa juga tekan tombol KONSULTASI GRATIS di pojok kanan website untuk mendapat bantuan langsung dari tim kami. Ringkasan Referensi

SELENGKAPNYA
PPh 23 Adalah

PPh 23 Adalah: Pengertian, Tarif, dan Cara Menghitungnya

Pernah menerima faktur dari rekanan, lalu bingung berapa pajak yang harus dipotong? Situasi seperti ini hampir selalu berujung pada satu nama: PPh 23. Banyak pelaku usaha keliru memotong pajak ini, sebagian karena terburu-buru, sebagian lagi karena memang belum paham objek dan tarifnya. Padahal, kekeliruan sekecil apa pun bisa berbuntut sanksi dari kantor pajak. Sebagai praktisi hukum yang cukup sering menangani sengketa administrasi perpajakan, saya melihat sendiri betapa banyak masalah yang sebenarnya bisa dicegah kalau pengelola keuangan memahami dasar-dasar PPh 23 sejak awal, bukan menyerahkannya begitu saja kepada konsultan pajak. Melalui tulisan ini, kita akan menelusuri apa itu PPh 23, dari mana dasar hukumnya berasal, objek dan tarif yang berlaku, sampai cara menghitungnya lewat contoh yang mudah diikuti. Dengan begitu, kamu bisa memotong dan melaporkan pajak ini dengan benar sejak transaksi pertama. Pengertian PPh Pasal 23 PPh Pasal 23 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan yang diterima wajib pajak dalam negeri, termasuk bentuk usaha tetap, selain penghasilan yang sudah dipotong lewat PPh Pasal 21. Sumbernya beragam. Bisa dari modal, bisa dari jasa yang diserahkan, bisa juga dari hadiah dan penghargaan. Kalau PPh 21 lekat dengan penghasilan karyawan, PPh 23 justru berputar di ranah lain, yakni transaksi antarbadan usaha atau antara badan usaha dengan perorangan tertentu. Yang membayarkan penghasilan, dialah yang bertindak sebagai pemotong pajak. Setelah itu, pemotong wajib menyetorkan pajak ke kas negara dan menerbitkan bukti potong untuk penerima penghasilan. Karena itulah, penerima penghasilan tidak perlu lagi menyetor sendiri PPh 23 atas transaksi yang sudah dipotong pihak lawan transaksinya. Dasar Hukum dan Pihak Pemotong PPh 23 Aturan mengenai PPh 23 tertuang dalam Pasal 23 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Beleid ini kemudian disempurnakan lewat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Selain itu, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 141/PMK.03/2015 memerinci jenis jasa lain yang menjadi objek pemotongan. Lalu, siapa saja yang wajib memotong PPh 23? Berikut daftarnya. Jadi, tidak semua orang pribadi punya kewajiban ini. Hanya mereka yang ditunjuk secara khusus oleh Direktur Jenderal Pajak yang wajib memotong. Menariknya, kewajiban ini bersifat aktif. Artinya, pemotong harus memotong pajak pada saat pembayaran dilakukan atau saat penghasilan terutang, tergantung mana yang lebih dulu terjadi. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Objek Pajak PPh 23 Objek PPh 23 mencakup berbagai jenis penghasilan yang muncul dari modal, jasa, dan penggunaan harta. Secara garis besar, objek ini terbagi ke dalam dua kelompok besar, sesuai tarif yang dikenakan. Objek dengan Tarif 15% Kelompok pertama mencakup dividen, bunga, royalti, serta hadiah dan penghargaan yang belum dipotong PPh Pasal 21. Satu catatan penting, dividen yang diterima orang pribadi punya skema pajak final tersendiri, sehingga tidak masuk ke kelompok ini. Objek dengan Tarif 2% Kelompok kedua mencakup sewa dan penghasilan lain atas penggunaan harta, kecuali sewa tanah dan bangunan yang sudah kena PPh final. Di kelompok ini juga ada imbalan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan puluhan jenis jasa lain sesuai PMK 141/PMK.03/2015. Beberapa contoh yang sering muncul dalam praktik bisnis sehari-hari misalnya jasa penerjemahan, jasa akuntansi, jasa perancangan iklan, dan jasa perawatan mesin. Karena daftarnya cukup panjang, sebaiknya pelaku usaha mengecek dulu daftar lengkapnya sebelum menentukan tarif pemotongan yang tepat. Ada pula sejumlah penghasilan yang justru dikecualikan dari pemotongan PPh 23. Misalnya, penghasilan yang dibayarkan kepada bank, sewa guna usaha dengan hak opsi, serta dividen dari cadangan laba ditahan bagi perseroan terbatas yang memenuhi syarat kepemilikan saham tertentu. Mengetahui pengecualian ini penting, supaya pemotong tidak salah langkah dan justru merugikan pihak penerima penghasilan. Tarif PPh 23 dan Cara Menghitungnya Setelah objeknya jelas, tinggal satu langkah lagi, yaitu menghitung besaran pajaknya. Rumusnya sederhana saja. Tarif dikalikan jumlah bruto penghasilan. Rumus PPh 23 = Tarif x Jumlah Bruto Ada satu hal yang wajib diperhatikan. Jika penerima penghasilan tidak punya Nomor Pokok Wajib Pajak, tarifnya otomatis naik dua kali lipat dari tarif normal. Aturan ini sengaja dibuat untuk mendorong kepatuhan administrasi perpajakan. Supaya lebih mudah dipahami, mari lihat contohnya. PT Sinar Abadi menggunakan jasa konsultan pajak senilai Rp10.000.000 dalam satu bulan. Karena jasa konsultan masuk objek bertarif 2%, PPh 23 yang dipotong adalah 2% dikali Rp10.000.000, hasilnya Rp200.000. Selanjutnya, PT Sinar Abadi membayarkan Rp9.800.000 kepada konsultan tersebut, sementara Rp200.000 disetorkan ke kas negara paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya. Setelah menyetor, kewajiban belum selesai. Pemotong masih harus melaporkan pemotongan tersebut lewat SPT Masa PPh Unifikasi, paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya. Sejak sistem administrasi pajak diperbarui lewat Coretax, laporan PPh 23 memang sudah tidak lagi memakai formulir tersendiri, melainkan digabung dengan jenis pemotongan lain dalam satu SPT Unifikasi. Satu hal perlu diluruskan di sini. Sanksi keterlambatan setor bukan lagi flat 2% per bulan seperti aturan lama. Sejak UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan berlaku, besaran bunga mengikuti tarif acuan yang ditetapkan Menteri Keuangan setiap bulan, sehingga angkanya naik turun, dan pada praktiknya justru sering berada di bawah 1% per bulan. Sementara itu, keterlambatan lapor tetap dikenai denda administrasi Rp100.000 untuk setiap Surat Pemberitahuan. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! FAQ Seputar PPh 23 Apakah PPh 23 dikenakan pada semua jenis jasa? Tidak semua. PPh 23 hanya berlaku untuk jenis jasa yang secara spesifik diatur dalam Pasal 23 UU PPh dan PMK 141/PMK.03/2015, seperti jasa teknik, manajemen, konsultan, dan konstruksi. Apa yang terjadi jika penerima penghasilan tidak punya NPWP? Tarifnya langsung naik dua kali lipat dari tarif normal. Jadi, tarif 2% menjadi 4%, sedangkan tarif 15% menjadi 30%. Apakah PPh 23 bisa menjadi kredit pajak? Bisa. Bukti potong PPh 23 dapat dikreditkan terhadap PPh terutang badan usaha penerima penghasilan pada akhir tahun pajak, lewat Surat Pemberitahuan Tahunan. Kesimpulan Singkatnya, PPh 23 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan dari modal, jasa, serta hadiah dan penghargaan, dengan tarif 15% atau 2% tergantung jenis objeknya. Salah menentukan objek atau tarif bisa berujung sanksi administrasi, padahal risiko ini sebenarnya bisa dihindari sejak awal. Dari pengalaman saya menangani berbagai kasus pajak, ketelitian dalam mengklasifikasikan jenis transaksi selalu menjadi kunci agar kewajiban pemotongan

SELENGKAPNYA
tambang pasir

Tambang Pasir Ilegal Marak, Ini Aturan dan Sanksi Hukumnya

Sanksi tambang pasir ilegal belakangan ini ramai dibicarakan. Wajar saja. Aktivitas penambangan tanpa izin makin sering muncul di berbagai daerah, dari pinggiran sungai kecil sampai kawasan pesisir yang dulunya sepi. Sungai jadi rusak, banjir lebih gampang datang, dan negara kehilangan pemasukan yang seharusnya bisa dipakai untuk pembangunan. Singkatnya begini: pelaku tambang pasir tanpa izin bisa dijerat penjara sampai lima tahun, ditambah denda yang angkanya bisa tembus Rp100 miliar, sesuai Undang-Undang Minerba. Sebagai orang yang menekuni bidang hukum, saya melihat sendiri bagaimana aturan ini sering berhenti hanya di atas kertas. Banyak kasus menguap begitu saja di tahap penyelidikan. Penyebabnya klasik: koordinasi antarinstansi lemah, pengawasan di lapangan juga jauh dari kata memadai. Karena itulah, warga biasa sebenarnya perlu tahu duduk perkaranya, supaya bisa ikut mengawasi dari luar. Apa Itu Tambang Pasir Ilegal? Tambang pasir ilegal, sederhananya, adalah kegiatan menambang tanpa mengantongi Izin Usaha Pertambangan atau IUP, Izin Pertambangan Rakyat, maupun izin resmi lainnya dari pemerintah. Praktik semacam ini gampang ditemukan di sungai, kawasan pesisir, bahkan di tengah lahan pertanian warga. Biasanya, pelaku beroperasi diam-diam saat malam hari. Tujuannya jelas, menghindari razia aparat. Meski begitu, akibatnya tetap terasa nyata di sekitar lokasi. Sungai jadi dangkal, tebing gampang longsor, dan ekosistem air yang tadinya seimbang jadi kacau dalam waktu lama. Kenapa fenomena ini terus berulang? Ada beberapa alasan yang saling berkaitan: Ditambah lagi, kesadaran hukum di sebagian masyarakat memang belum sepenuhnya terbentuk. Kombinasi semua faktor itu yang membuat tambang ilegal sulit diberantas tuntas. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Aturan Hukum yang Mengatur Tambang Pasir Ilegal Aturan tambang pasir ilegal di Indonesia sebenarnya bersumber dari beberapa regulasi yang saling melengkapi. Masing-masing punya fungsi berbeda, tapi tujuannya sama: menjerat pelaku dari berbagai sisi, mulai dari penambang di lapangan sampai pihak yang menampung hasilnya. UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba Undang-undang ini lahir sebagai perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Inilah payung hukum utama yang dipakai untuk menindak pertambangan tanpa izin, termasuk urusan pasir. Selain soal sanksi, aturan ini juga mewajibkan reklamasi dan pemulihan lingkungan bagi pemegang izin resmi setelah kegiatan tambang selesai. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2021 jo. PP Nomor 25 Tahun 2024 Aturan ini mengatur sisi teknis pelaksanaan usaha pertambangan mineral dan batubara. Isinya mencakup tata cara perizinan, tahap eksplorasi, sampai kegiatan pascatambang. Bagi aparat penegak hukum, peraturan ini jadi rujukan penting saat menilai apakah sebuah tambang benar-benar legal atau tidak. UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Di luar UU Minerba, pelaku tambang ilegal juga bisa terjerat aturan lingkungan hidup kalau kegiatannya sampai mencemari atau merusak ekosistem. Artinya, ada potensi jeratan hukum berlapis. Baik dari sisi legalitas izin, maupun dari dampak yang ditimbulkan terhadap alam sekitar. Sanksi Hukum bagi Pelaku Tambang Pasir Ilegal Sanksi tambang pasir ilegal diatur cukup rinci dalam UU Minerba, tepatnya di Pasal 158 dan Pasal 161. Pasal 158 UU Nomor 3 Tahun 2020 menyebutkan, setiap orang yang menambang tanpa Izin Usaha Pertambangan, IUPK, IPR, atau izin lainnya bisa dipidana penjara paling lama lima tahun. Dendanya juga tidak main-main, maksimal Rp100 miliar. Ketentuan ini berlaku untuk perorangan maupun korporasi yang terbukti menambang tanpa dokumen resmi. Ada lagi, Pasal 161 UU Minerba menyasar pihak yang menampung, mengolah, mengangkut, atau menjual hasil tambang ilegal. Ancamannya sama persis: penjara maksimal lima tahun, denda hingga Rp100 miliar. Jadi bukan cuma penambang yang bisa kena jerat. Pihak-pihak yang ikut menikmati hasil tambang tersebut pun berisiko dihukum. Berikut beberapa pasal kunci terkait pidana pertambangan tanpa izin yang perlu kamu tahu: Menurut saya pribadi, sebagai orang yang bergelut di bidang hukum, angka sanksi finansial sebesar ini sebenarnya sudah cukup berat kalau dilihat dari teksnya saja. Sayangnya, penerapan di lapangan sering tidak konsisten. Akibatnya, efek jera yang diharapkan jadi minim. Dampak Tambang Ilegal bagi Lingkungan dan Masyarakat Dampak tambang ilegal jelas menyentuh soal hukum. Namun cakupannya lebih luas dari itu, sampai ke kehidupan sosial dan kondisi ekologi sekitar. Kerusakannya pun sering bersifat jangka panjang, bahkan sulit dipulihkan sepenuhnya. Beberapa dampak yang sering muncul di lapangan antara lain: Belum lagi soal ekonomi jangka panjang. Negara kehilangan potensi pendapatan dari royalti dan pajak yang mestinya mengalir ke kas daerah. Ujung-ujungnya, pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut jadi ikut terhambat. Langkah Melaporkan Tambang Pasir Ilegal Masyarakat sebenarnya punya peran besar dalam memberantas tambang pasir ilegal. Setiap warga berhak melapor kalau menemukan dugaan aktivitas tambang tanpa izin di sekitarnya. Laporan bisa disampaikan ke kepolisian setempat, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral provinsi, atau langsung ke Kementerian ESDM. Satu hal yang perlu diingat, sertakan bukti pendukung. Foto, video, atau titik koordinat lokasi akan sangat membantu proses penyelidikan aparat. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! FAQ Seputar Sanksi Tambang Pasir Ilegal 1. Apa sanksi bagi pelaku tambang pasir ilegal?Pelaku bisa dipidana penjara paling lama lima tahun, dengan denda maksimal Rp100 miliar, sesuai Pasal 158 UU Minerba. 2. Apakah pembeli pasir dari tambang ilegal juga bisa dihukum?Bisa. Pasal 161 UU Minerba juga menjerat pihak yang menampung, mengolah, atau menjual hasil tambang tanpa izin resmi. 3. Ke mana masyarakat bisa melaporkan tambang ilegal?Kamu bisa melapor ke kepolisian, Dinas ESDM provinsi, atau langsung ke Kementerian ESDM, dengan menyertakan bukti pendukung. Kesimpulan Sanksi tambang pasir ilegal sudah diatur tegas lewat UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba. Ancamannya jelas: penjara sampai lima tahun, denda sampai Rp100 miliar. Meski begitu, penegakannya di lapangan masih menghadapi banyak tantangan. Pengawasan lemah, kesadaran hukum masyarakat pun belum merata. Sebagai langkah nyata, ada baiknya kamu ikut aktif melaporkan aktivitas mencurigakan di sekitar, sekaligus memastikan proyek konstruksi yang kamu kerjakan memakai pasir dari sumber legal. Sebagai pakar hukum, saya yakin betul, kolaborasi antara aparat, pemerintah daerah, dan warga biasa adalah kunci untuk menekan praktik ini secara berkelanjutan. Kalau kamu sedang menghadapi persoalan hukum terkait pertambangan, entah sebagai pelaku usaha atau korban dampak lingkungan, jangan ragu mencari pendampingan yang tepat. Klik poster yang tersedia atau tombol “KONSULTASI GRATIS” di pojok kanan website untuk

SELENGKAPNYA