Terbaru

Day: 4 jam yang lalu

Menampilkan semua artikel yang telah dipublikasi pada tanggal tersebut

Tidak Lapor LKPM? Ini Sanksi yang Mengintai Perusahaan

Sanksi tidak lapor LKPM ternyata bukan cuma teguran biasa. Banyak pengusaha menyangka Laporan Kegiatan Penanaman Modal, atau yang biasa disingkat LKPM, cuma formalitas tahunan yang bisa ditunda-tunda. Padahal, kalau dibiarkan, kelalaian semacam ini bisa berujung pada pembekuan izin usaha. Bahkan, dalam kasus tertentu, Nomor Induk Berusaha alias NIB bisa dicabut sepenuhnya. Singkatnya, pemerintah sekarang mengaitkan langsung kepatuhan LKPM dengan profil risiko perusahaan di sistem OSS. Sebagai pakar hukum yang mengikuti perkembangan aturan perizinan berusaha, saya melihat pengetatan ini sebagai langkah yang pas. Selama bertahun-tahun, LKPM memang sering dianggap remeh, terutama oleh pengusaha skala kecil dan menengah. Karena itu, penguatan sanksi lewat Peraturan BKPM 5/2025 justru mendorong tertib administrasi investasi yang selama ini kendor. Memahami risiko sanksi tidak lapor LKPM sejak awal jauh lebih murah, ketimbang menanggung akibat pencabutan izin usaha di kemudian hari. LKPM Wajib Dilaporkan, Bukan Cuma Formalitas Tahunan LKPM adalah laporan berkala soal perkembangan realisasi penanaman modal. Setiap pelaku usaha yang sudah punya NIB wajib menyampaikannya. Isinya mencakup nilai investasi, jumlah tenaga kerja, sampai kendala yang dihadapi perusahaan. Data ini kemudian diverifikasi pemerintah lewat sistem Online Single Submission, atau OSS. Pemerintah memakai LKPM buat memantau komitmen investasi yang sudah didaftarkan pelaku usaha. Dengan begitu, laporan ini jadi instrumen pengawasan, bukan cuma dokumen arsip yang numpuk di lemari. Sayangnya, banyak perusahaan baru sadar pentingnya LKPM setelah akses OSS mereka bermasalah. Siapa yang Wajib Lapor LKPM? Kewajiban pelaporan LKPM ini berlaku bagi pelaku usaha skala Kecil, Menengah, dan Besar yang telah mengantongi NIB, sedangkan skala Usaha Mikro dikecualikan. Adapun frekuensi pelaporannya dibedakan menurut ukuran bisnis, yaitu per semester untuk Usaha Kecil dan per triwulan untuk Usaha Menengah serta Besar, sesuai dengan Peraturan BKPM 5/2025. Perusahaan yang baru berdiri maupun yang sudah lama beroperasi sama-sama terikat kewajiban ini selama NIB mereka masih aktif. Bahkan, perusahaan yang belum memiliki realisasi investasi sekalipun tetap wajib memberikan laporan kemajuan. Sejak tahap persiapan usaha pun progres penanaman modal sudah wajib dilaporkan, supaya pemerintah bisa memantau perkembangan investasi secara berkelanjutan. Kenapa LKPM Berpengaruh pada Reputasi Usaha LKPM juga jadi cerminan kredibilitas perusahaan di mata regulator. Perusahaan dengan riwayat pelaporan rapi biasanya lebih gampang mengurus perizinan tambahan di kemudian hari. Sebaliknya, riwayat pelaporan yang berantakan bisa menghambat proses perizinan lain, misalnya perluasan usaha atau pengajuan fasilitas investasi baru. Dasar Hukum dan Jadwal Lapor LKPM Terbaru Aturan soal LKPM saat ini merujuk pada Peraturan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Nomor 5 Tahun 2025, atau biasa disingkat Permen BKPM 5/2025. Regulasi ini merupakan turunan teknis dari Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Aturan itu berlaku efektif sejak Oktober 2025, menggantikan PP Nomor 5 Tahun 2021. Berdasarkan Pasal 286 Permen BKPM 5/2025, jadwal lapor LKPM dibagi sebagai berikut: Selain jadwal, Pasal 285 ayat (3) juga menegaskan bahwa data tenaga kerja termasuk informasi wajib yang mesti dicantumkan. Artinya, LKPM bukan cuma soal nilai investasi. Ada juga dampak usaha terhadap penyerapan tenaga kerja yang harus dilaporkan. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Jenis Sanksi Administratif LKPM yang Mengintai Sanksi administratif LKPM dijatuhkan berjenjang, dari yang ringan sampai paling berat. Pemerintah tidak langsung mencabut izin usaha begitu perusahaan telat lapor sekali. Tapi, kalau pelanggaran berulang, eskalasi sanksinya bakal makin cepat. Secara umum, tahapan sanksi tidak lapor LKPM meliputi: Ketentuan ini sebenarnya melanjutkan semangat Pasal 46 dan Pasal 47 PerkaBKPM 5/2021. Hanya saja, sekarang diperkuat dengan cakupan pengawasan yang lebih luas lewat PP 28/2025. Aturan baru ini bahkan membuka ruang penegakan yang lebih tegas, dengan menambahkan opsi denda administratif ke daftar sanksi. Kondisi yang Memicu Sanksi Tidak Lapor LKPM Tidak semua orang tahu, sanksi administratif LKPM tidak cuma dipicu keterlambatan semata. Berdasarkan Pasal 373 ayat (2) Permen BKPM 5/2025, ada beberapa kondisi spesifik yang bisa memicu sanksi, yaitu: Pemerintah lalu mengolah seluruh data itu jadi nilai kepatuhan, sesuai Pasal 290 Permen BKPM 5/2025. Pelaku usaha dengan nilai kepatuhan rendah berpotensi masuk pengawasan lanjutan. Singkatnya, satu kesalahan kecil yang terus berulang bisa berdampak jauh lebih besar dari yang dibayangkan pemilik usaha. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Dampak Nilai Kepatuhan Rendah Nilai kepatuhan yang rendah bukan cuma soal status LKPM semata. Skor ini juga jadi pertimbangan pemerintah ketika menilai kelayakan perusahaan untuk mendapat fasilitas atau kemudahan berusaha lainnya. Selain itu, perusahaan dengan riwayat pengawasan berulang biasanya menghadapi proses verifikasi yang lebih ketat pada permohonan perizinan berikutnya. Karena itu, menjaga nilai kepatuhan tetap baik sejak awal jauh lebih efisien, ketimbang memperbaikinya setelah kadung bermasalah. Cara Lapor LKPM Agar Terhindar dari Sanksi Menghindari sanksi tidak lapor LKPM sebetulnya tidak susah, asal perusahaan disiplin mengelola jadwal pelaporan. Berikut langkah praktis yang bisa kamu terapkan: Selain langkah teknis di atas, perusahaan juga sebaiknya menunjuk penanggung jawab khusus untuk urusan kepatuhan perizinan. Dengan begitu, risiko keterlambatan akibat human error bisa ditekan jauh lebih signifikan. Manfaat Tambahan Disiplin Melapor Disiplin melapor LKPM bukan cuma soal menghindari sanksi. Data yang konsisten juga membantu perusahaan memantau perkembangan investasinya sendiri secara lebih terstruktur. Selanjutnya, riwayat kepatuhan yang baik bisa jadi nilai tambah saat perusahaan mengajukan insentif fiskal atau kemudahan perizinan lain di masa depan. Karena itu, kepatuhan LKPM sebaiknya dipandang sebagai investasi jangka panjang. Bukan cuma beban administratif yang bikin pusing tiap periode. Pada akhirnya, risiko sanksi tidak lapor LKPM bisa dicegah, asal perusahaan konsisten menjalankan langkah-langkah di atas sejak awal periode pelaporan. FAQ Seputar Sanksi Tidak Lapor LKPM 1. Apakah LKPM wajib untuk semua jenis usaha? Ya. LKPM wajib bagi seluruh pelaku usaha yang sudah punya NIB, entah usaha kecil, menengah, atau besar, dengan frekuensi pelaporan yang berbeda-beda. 2. Berapa lama sanksi penghentian sementara berlaku sebelum izin dicabut? Durasinya tergantung tingkat kepatuhan dan tindak lanjut perusahaan setelah menerima peringatan tertulis. Karena itu, respons cepat terhadap teguran sangat menentukan. 3. Apakah keterlambatan satu periode langsung berujung sanksi berat? Tidak. Sanksi berat baru berlaku kalau ketidakpatuhan terjadi berulang, misalnya dua periode berturut-turut tanpa laporan. 4. Ke mana perusahaan harus melapor jika izin usaha sudah terlanjur ditangguhkan? Perusahaan tetap bisa

SELENGKAPNYA
pengelolaan dana aplikasi penghasil uang

Pajak Aplikasi Penghasil Uang: Ini Aturan Lengkapnya

Pajak aplikasi penghasil uang menjadi pertanyaan yang makin sering muncul seiring maraknya aplikasi survei, cashback, hingga platform konten yang menjanjikan penghasilan tambahan. Banyak pengguna belum menyadari bahwa dana yang cair dari aplikasi tersebut sebenarnya tetap termasuk objek pajak. Padahal, keliru memahami kewajiban ini bisa berujung sanksi administrasi di kemudian hari. Sebagai penulis yang mendalami regulasi perpajakan, saya menilai minimnya edukasi pajak digital menjadi penyebab utama banyak pengguna aplikasi penghasil uang tidak melaporkan penghasilannya secara sukarela. Secara singkat, seluruh penghasilan dari aplikasi penghasil uang, baik berupa saldo, uang tunai, maupun barang, tetap dikenai Pajak Penghasilan sesuai Undang-Undang PPh. Bahkan, aturan terbaru kini secara khusus mengatur perlakuan pajak bagi kreator konten digital yang selama ini kerap menggunakan skema tarif rendah. Pada artikel ini, Anda akan memahami dasar hukum pengenaan pajak atas penghasilan digital, jenis aplikasi yang tergolong objek pajak, skema tarif yang berlaku, hingga cara melaporkannya dengan benar. Apakah Penghasilan dari Aplikasi Penghasil Uang Kena Pajak? Penghasilan dari aplikasi penghasil uang termasuk objek Pajak Penghasilan berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana diubah melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Pasal ini menegaskan bahwa objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima wajib pajak, baik dari Indonesia maupun luar negeri. Oleh karena itu, bentuk pembayaran bukan menjadi faktor penentu kewajiban pajak. Selanjutnya, penghasilan berupa saldo digital, uang elektronik, produk barter, maupun transfer bank tetap dianggap sebagai tambahan kemampuan ekonomis yang harus dilaporkan. Sebagai tambahan, ketentuan ini berlaku untuk berbagai sumber penghasilan digital, seperti hasil endorsement, komisi afiliasi, monetisasi konten, hadiah aplikasi survei, hingga cashback dari platform belanja daring yang bersifat komersial. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS Jenis Penghasilan Digital yang Tergolong Objek Pajak Berikut beberapa jenis penghasilan dari aplikasi digital yang termasuk objek pajak: Perubahan Aturan Pajak untuk Kreator Konten Digital Perubahan signifikan dalam pajak aplikasi penghasil uang terjadi setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2026 yang mengubah Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan. Aturan ini secara khusus mengeluarkan kreator konten digital dari kelompok wajib pajak yang dapat memanfaatkan fasilitas PPh Final UMKM sebesar 0,5 persen. Berdasarkan Pasal 56 ayat (4) huruf b PP Nomor 20 Tahun 2026, penghasilan dari jasa pembuat atau pencipta konten pada media daring, termasuk influencer, pemengaruh, selebgram, blogger, dan vlogger, dikategorikan sebagai penghasilan dari pekerjaan bebas. Dengan demikian, penghasilan tersebut tidak lagi dapat dikenai tarif final UMKM, melainkan mengikuti skema Pajak Penghasilan umum. Menariknya, Menteri Keuangan Purbaya menegaskan bahwa kebijakan ini bukan ditujukan khusus untuk mengincar kreator konten, melainkan bentuk penerapan prinsip perlakuan pajak yang setara bagi seluruh wajib pajak berpenghasilan tinggi. Sebagai pakar yang mengamati kebijakan ini, saya berpendapat langkah tersebut cukup logis, mengingat penghasilan sebagian kreator konten kerap melebihi batas kewajaran fasilitas UMKM yang semula dirancang untuk pelaku usaha mikro dan kecil. Pengecualian bagi Pemilik Agensi Konten Namun demikian, ketentuan ini tidak berlaku mutlak bagi seluruh pelaku ekonomi digital. Apabila seorang kreator konten mendirikan usaha yang mempekerjakan orang lain secara terorganisir, seperti agensi konten atau studio produksi, penghasilan dari bisnis tersebut dapat dikategorikan sebagai penghasilan usaha, sehingga berpotensi tetap memenuhi syarat fasilitas PPh Final UMKM. Skema Perhitungan Pajak Penghasilan Digital Skema perhitungan pajak aplikasi penghasil uang berbeda-beda tergantung status wajib pajak dan besaran penghasilannya. Oleh karena itu, penting memahami kategori mana yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Berikut beberapa skema yang umum berlaku: Selanjutnya, wajib pajak tetap perlu melaporkan seluruh penghasilan tersebut dalam Surat Pemberitahuan Tahunan, meskipun sebagian sudah dipotong pihak lain. Cara Melaporkan Pajak Penghasilan dari Aplikasi Digital Cara melaporkan pajak penghasilan digital kini semakin mudah berkat sistem elektronik yang disediakan Direktorat Jenderal Pajak. Namun demikian, wajib pajak tetap perlu memahami dokumen pendukung yang harus disiapkan sebelum pelaporan. Berikut tahapan umum pelaporan pajak penghasilan dari aplikasi digital: Dengan mengikuti tahapan tersebut, wajib pajak dapat terhindar dari risiko sanksi administrasi akibat keterlambatan maupun kesalahan pelaporan. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS FAQ Seputar Pajak Aplikasi Penghasil Uang 1. Apakah saldo dari aplikasi survei atau kuis tetap kena pajak? Ya. Selama saldo tersebut dapat dikonversi menjadi uang atau memiliki nilai ekonomis, penghasilan tersebut tetap termasuk objek Pajak Penghasilan. 2. Apakah kreator konten masih bisa menggunakan tarif PPh Final UMKM 0,5 persen? Tidak, sejak berlakunya PP Nomor 20 Tahun 2026, penghasilan kreator konten dikategorikan sebagai pekerjaan bebas dan wajib menggunakan skema PPh progresif. 3. Bagaimana jika penghasilan dari aplikasi digital masih di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak? Wajib pajak tetap disarankan melaporkan penghasilan tersebut dalam SPT Tahunan, meskipun tidak terutang pajak, guna menjaga kepatuhan administrasi perpajakan. Kesimpulan Pajak aplikasi penghasil uang pada dasarnya mengikuti prinsip umum Pajak Penghasilan, yakni setiap tambahan kemampuan ekonomis wajib dilaporkan tanpa memandang bentuk maupun sumbernya. Oleh karena itu, langkah paling tepat bagi pengguna aplikasi penghasil uang adalah mencatat seluruh penghasilan secara rutin, agar pelaporan pajak tahunan dapat dilakukan dengan akurat. Sebagai penulis yang mendalami regulasi perpajakan, saya memandang perubahan aturan bagi kreator konten mencerminkan upaya pemerintah menyesuaikan kebijakan pajak dengan perkembangan ekonomi digital yang terus bergerak cepat. Namun, edukasi berkelanjutan tetap diperlukan agar masyarakat tidak terjebak asumsi bahwa penghasilan digital bebas dari kewajiban perpajakan. Jika Anda masih bingung menentukan skema pajak yang sesuai dengan jenis penghasilan digital Anda, jangan biarkan ketidaktahuan ini menimbulkan risiko sanksi di kemudian hari. Klik poster yang tersedia atau tombol KONSULTASI GRATIS di pojok kanan website ini untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari tim ahli kami. Ringkasan Referensi

SELENGKAPNYA
PIRT Adalah

PIRT Adalah: Pengertian, Syarat, dan Cara Mengurusnya

PIRT adalah izin edar yang wajib dimiliki pelaku usaha pangan skala rumahan, sebelum produknya boleh dijual ke masyarakat. Banyak pemilik usaha kuliner rumahan bingung membedakan izin ini dengan izin edar BPOM. Padahal, keduanya punya fungsi dan cakupan yang berbeda. Singkatnya, PIRT ditujukan untuk pangan olahan berisiko rendah yang diproduksi memakai peralatan manual sampai semi otomatis di rumah tangga. Kekeliruan memahami cakupan izin ini sering bikin pelaku usaha salah langkah sejak awal. Entah mengurus izin yang tidak sesuai kategori produknya, atau justru menunda-nunda pengurusan karena merasa belum perlu. Sebagai pakar hukum yang sering mendampingi pelaku UMKM pangan, saya menilai izin ini sebenarnya jauh lebih mudah diurus dibanding bayangan kebanyakan orang. Banyak pengusaha rumahan menunda pengurusan PIRT, karena takut prosesnya berbelit. Padahal, sejak sistem OSS mengintegrasikan layanan ini, seluruh tahapan bisa dipantau secara daring. Tanpa harus bolak-balik ke kantor dinas. PIRT Adalah Izin Edar untuk Pangan Olahan Rumahan PIRT merupakan singkatan dari Pangan Industri Rumah Tangga. Istilah ini merujuk pada sertifikat yang menandakan sebuah produk pangan sudah memenuhi syarat keamanan, untuk diedarkan di wilayah lokal. Berdasarkan Pasal 35 Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan, produk yang diproduksi rumah tangga dengan peralatan manual atau semi otomatis wajib memiliki izin edar dari pemerintah daerah. Sejak berlakunya reformasi perizinan lewat UU Cipta Kerja, istilah sertifikatnya berubah jadi SPP-IRT. Kepanjangannya, Sertifikat Pemenuhan Komitmen Industri Pangan Produksi Rumah Tangga. Meski namanya berbeda dari sebutan lama, fungsinya tetap sama sebagai bukti legalitas produk pangan rumahan. Perbedaan PIRT dan Izin Edar BPOM PIRT diterbitkan oleh pemerintah kabupaten/kota lewat Dinas Kesehatan setempat. Sementara izin edar BPOM diterbitkan langsung oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Selain itu, produk PIRT cuma boleh dipasarkan dalam skala lokal, dan tidak diperkenankan untuk kegiatan ekspor. Perbedaan lainnya ada pada tingkat risiko produk yang diatur. PIRT hanya berlaku untuk pangan olahan berisiko rendah dengan masa simpan relatif pendek. Sementara izin BPOM mencakup produk dengan proses produksi lebih kompleks dan jangkauan pasar yang jauh lebih luas. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami kategori produknya sejak awal, supaya tidak salah memilih jenis izin edar. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Syarat Mengurus PIRT yang Wajib Dipenuhi Sebelum mengajukan permohonan, pelaku usaha wajib memenuhi beberapa syarat administratif dan teknis. Berikut rincian syarat utamanya: Selain syarat di atas, pelaku usaha juga wajib memastikan produknya bukan termasuk kategori pangan berisiko tinggi. Produk seperti susu, daging olahan, atau makanan kaleng yang butuh sterilisasi khusus, tidak bisa memakai PIRT dan harus mengurus izin edar BPOM. Selain itu, tempat produksi juga tidak boleh berada di kawasan industri, pusat perbelanjaan, atau lokasi komersial lain di luar rumah tinggal. Ketentuan ini memang membatasi skala usaha PIRT. Namun, di sisi lain, aturan ini juga menjaga agar pengawasan keamanan pangan tetap mudah dilakukan oleh petugas Dinas Kesehatan setempat. Kategori Sarana Produksi Level I dan II Hasil pemeriksaan sarana produksi akan menentukan level kelayakan usaha, yaitu level I atau level II. Kedua level ini menunjukkan tingkat pemenuhan syarat higiene dan sanitasi tempat produksi. Makin tinggi levelnya, makin besar pula peluang permohonan disetujui tanpa perbaikan tambahan. Perbedaan level ini juga berpengaruh pada frekuensi pengawasan yang akan dilakukan pemerintah daerah di kemudian hari. Biasanya, usaha dengan level kelayakan lebih rendah mendapat kunjungan pengawasan lebih sering, dibanding usaha yang sudah mencapai level lebih tinggi. Maka dari itu, menjaga kebersihan dan tata kelola dapur produksi jadi penting. Bukan cuma soal lolos pemeriksaan awal, tapi juga memudahkan proses pengawasan di masa mendatang. Cara Mengurus PIRT Secara Online Lewat OSS Pengurusan PIRT kini terintegrasi penuh dengan sistem Online Single Submission Risk-Based Approach, atau biasa disingkat OSS RBA. Sistem ini menghubungkan data pelaku usaha dengan Dinas Kesehatan setempat secara otomatis. Berikut tahapan cara mengurus PIRT yang umum dilalui pelaku usaha: Selanjutnya, kalau hasil pemeriksaan sarana belum memenuhi syarat, pelaku usaha diberi waktu untuk melakukan perbaikan. Batas waktu pemenuhan komitmen umumnya diberikan selama tiga bulan, sejak hasil pengawasan diterbitkan. Berapa Lama Proses Penerbitan PIRT? Secara umum, proses penerbitan SPP-IRT membutuhkan waktu sekitar dua minggu, setelah seluruh tahapan penyuluhan dan pemeriksaan sarana selesai dilakukan. Namun, durasi ini bisa berbeda di setiap daerah. Tergantung jadwal penyuluhan dan ketersediaan petugas pemeriksa lapangan. Sebagai tambahan, pelaku usaha sebaiknya aktif berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat, kalau jadwal penyuluhan belum kunjung ditetapkan. Sikap proaktif semacam ini terbukti mempercepat proses. Terutama di daerah dengan jumlah pemohon yang cukup banyak dalam satu periode. Masa Berlaku dan Biaya Mengurus PIRT SPP-IRT bukan izin yang berlaku selamanya. Sertifikat ini punya masa berlaku tertentu, dan wajib diperpanjang sebelum kedaluwarsa. Berikut poin penting seputar masa berlaku dan biayanya: Karena itu, pelaku usaha sebaiknya mengecek langsung ke Dinas Kesehatan atau DPMPTSP setempat, untuk memastikan ada tidaknya biaya tambahan di wilayah masing-masing. Dengan begitu, tidak ada kejutan biaya yang tidak terduga selama proses berlangsung. Selain itu, penting juga dicatat, masa berlaku sertifikat bisa berbeda menurut jenis produknya. Beberapa daerah menetapkan masa berlaku lebih pendek untuk produk dengan tanggal kedaluwarsa singkat, dibandingkan produk kering yang tahan lama. Karena itu, pelaku usaha sebaiknya menanyakan ketentuan spesifik tersebut, saat pertama kali mengajukan permohonan. FAQ Seputar PIRT 1. Apakah semua jenis makanan bisa menggunakan izin PIRT? Tidak. Produk berisiko tinggi seperti susu, daging olahan, dan makanan kaleng yang butuh sterilisasi, wajib menggunakan izin edar BPOM, bukan PIRT. 2. Apakah izin PIRT bisa dipakai untuk menjual produk ke luar negeri? Tidak bisa. PIRT hanya berlaku untuk peredaran produk dalam skala lokal, dan tidak diperkenankan dipakai untuk kegiatan ekspor. 3. Apa yang terjadi jika PIRT sudah kedaluwarsa tapi belum diperpanjang? Produk yang masih beredar dengan sertifikat kedaluwarsa berisiko ditarik dari pasaran, karena dianggap tidak punya izin edar yang sah. 4. Apakah usaha rumahan wajib punya PIRT sejak awal berjualan? Idealnya, ya. Memahami bahwa PIRT adalah syarat legalitas produk pangan rumahan sejak awal usaha, akan menghindarkan pelaku UMKM dari risiko teguran atau penarikan produk di kemudian hari. Kesimpulan PIRT adalah izin edar penting bagi pelaku usaha pangan rumahan, agar produknya bisa dipasarkan secara legal. Prosesnya kini jauh lebih sederhana, berkat integrasi sistem OSS dengan layanan Dinas Kesehatan. Sebagai pakar

SELENGKAPNYA
likuidator vs kurator

Perbedaan Likuidator dan Kurator dan Tugas Pentingnya

Pernah dengar istilah likuidator dan kurator, lalu bertanya-tanya apa bedanya? Wajar saja. Perbedaan likuidator dan kurator memang sering bikin bingung, bahkan bagi sebagian pelaku usaha yang sudah lama berkecimpung di dunia bisnis. Padahal, dua profesi ini berdiri di atas landasan hukum yang berbeda, dengan tugas yang juga tidak sama persis. Singkatnya begini. Kurator muncul ketika sebuah perusahaan atau perorangan dinyatakan pailit oleh pengadilan. Tugasnya mengurus dan membereskan harta yang tersisa. Likuidator punya cerita lain. Ia hadir saat perusahaan memilih bubar secara sukarela, bukan karena terlilit utang yang tak sanggup dibayar. Selama bertahun-tahun menangani perkara kepailitan dan pembubaran badan usaha, saya cukup sering menjumpai klien yang keliru menyamakan dua peran ini. Akibatnya fatal. Mereka salah menentukan langkah hukum, padahal situasinya menuntut penanganan yang berbeda. Nah, supaya kamu tidak mengalami hal serupa, mari kita bedah satu per satu perbedaan likuidator dan kurator, lengkap dengan tugas masing-masing. Apa Itu Kurator dan Dasar Hukumnya? Kurator adalah sosok yang ditunjuk pengadilan untuk mengurus, mengelola, sekaligus membereskan harta debitur yang sudah dinyatakan pailit. Aturan mainnya tertuang jelas dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, atau yang biasa disingkat UU K-PKPU. Begini prosesnya. Setelah Pengadilan Niaga menjatuhkan putusan pailit terhadap debitur, entah itu perorangan maupun badan usaha, barulah kurator resmi ditunjuk untuk turun tangan. Ia bisa berasal dari Balai Harta Peninggalan, lembaga milik pemerintah, atau dari kalangan kurator swasta yang sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM. Menariknya, kurator tidak bekerja sendirian tanpa pengawasan. Sepanjang proses kepailitan berjalan, ada hakim pengawas yang memantau setiap langkahnya. Jadi, segala tindakan kurator harus bisa dipertanggungjawabkan secara hukum, bukan sekadar keputusan sepihak. Syarat Menjadi Kurator Tidak sembarang orang boleh mengambil peran ini. Ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi lebih dulu: Apa Itu Likuidator dan Kapan Ditunjuk? Ceritanya berbeda untuk likuidator. Ia ditunjuk untuk menuntaskan seluruh urusan sebuah perusahaan yang memutuskan bubar. Dasar hukumnya ada di Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, tepatnya Pasal 142 sampai Pasal 152. Menariknya, badan hukum lain punya aturan sendiri-sendiri soal ini. Yayasan misalnya, tunduk pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 jo. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, yang juga memakai istilah likuidator dalam proses pembubarannya. Sementara koperasi malah punya sebutan berbeda. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian jo. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023, pihak yang membereskan harta koperasi yang bubar disebut Penyelesai, bukan likuidator. Kapan sebenarnya likuidator dibutuhkan? Biasanya, kondisi berikut yang memicunya: Kalau RUPS tidak menunjuk likuidator secara khusus, jangan khawatir. Berdasarkan UU PT, direksi perusahaan otomatis bertindak sebagai likuidator. Jadi, proses likuidasi perusahaan tetap bisa jalan terus meski tidak ada pihak luar yang ditunjuk. Jasa Pendampingan dan Konsultan Hukum Profesional, Didampingi Advokat Resmi. KLIK DI SINI! Perbedaan Likuidator dan Kurator dari Berbagai Aspek Sampai di sini, mungkin kamu sudah mulai menangkap gambarannya. Tapi, biar lebih jelas, mari kita lihat perbedaan likuidator dan kurator dari sisi yang lebih rinci: Memahami perbedaan ini penting, karena akan menentukan langkah hukum yang tepat sesuai kondisi perusahaanmu. Meski begitu, ada satu benang merah yang menyatukan keduanya. Sama-sama bertujuan menyelesaikan hak dan kewajiban pihak terkait secara adil. Tugas dan Tanggung Jawab Kurator dalam Kepailitan Menjalankan tugas kurator kepailitan itu tidak main-main. Ada banyak kepentingan yang harus dijaga sekaligus, mulai dari debitur sampai deretan kreditor yang menagih haknya. Berikut tanggung jawab utamanya: Selain daftar tugas di atas, kurator juga punya wewenang melanjutkan atau menghentikan kegiatan usaha debitur, jika memang situasinya mengharuskan. Namun, keputusan sebesar itu tetap perlu persetujuan hakim pengawas dan panitia kreditor. Tidak bisa diambil sendiri begitu saja. Tugas dan Tanggung Jawab Likuidator dalam Proses Likuidasi Perusahaan Kalau kurator sibuk dengan urusan pailit, likuidator fokus menuntaskan seluruh urusan perseroan yang sudah diputuskan bubar. Proses likuidasi perusahaan umumnya melewati tahapan berikut: Begitu semua tahapan itu rampung, status badan hukum perseroan pun berakhir secara resmi. Di titik inilah peran likuidator terlihat krusial. Tanpa kehadirannya, proses pembubaran bisa berantakan dan menimbulkan sengketa di kemudian hari. Jasa Pendampingan dan Konsultan Hukum Profesional, Didampingi Advokat Resmi. KLIK DI SINI! FAQ Seputar Likuidator dan Kurator 1. Apakah likuidator dan kurator bisa dijabat oleh orang yang sama? Bisa saja, terutama jika orang tersebut punya kompetensi di dua bidang sekaligus. Meski begitu, konteks penunjukannya tetap berbeda. Kurator ditunjuk pengadilan dalam perkara kepailitan, sedangkan likuidator ditunjuk RUPS dalam pembubaran yang sifatnya sukarela. 2. Apa akibatnya jika kurator atau likuidator lalai menjalankan tugas? Keduanya bisa dimintai pertanggungjawaban secara pribadi, kalau terbukti lalai atau melakukan kesalahan yang merugikan pihak lain. Pihak yang dirugikan pun berhak mengajukan gugatan ganti rugi lewat jalur hukum. 3. Berapa lama proses kepailitan atau likuidasi biasanya berlangsung? Idealnya, proses kepailitan rampung dalam waktu tidak lebih dari lima tahun, sesuai UU K-PKPU. Sementara itu, proses likuidasi umumnya diselesaikan sekitar tiga puluh hari, terhitung sejak pengumuman pertama hingga pengumuman kedua. Namun, praktiknya bisa molor, tergantung seberapa rumit aset perusahaan yang harus diselesaikan. Kesimpulan Jadi, di mana letak perbedaan likuidator dan kurator yang sesungguhnya? Ada pada dasar hukum, konteks penunjukan, dan objek yang mereka urus. Kurator hadir saat sebuah entitas dinyatakan pailit lewat putusan pengadilan. Likuidator hadir saat perusahaan memutuskan bubar secara sukarela, atau karena sebab lain di luar kepailitan. Dari pengalaman menangani berbagai perkara serupa, saya meyakini bahwa memahami perbedaan ini bukan sekedar pengetahuan teoretis. Ini soal langkah nyata yang akan menentukan nasib bisnismu ke depan. Salah menempuh jalur hukum, akibatnya bisa merembet ke mana-mana. Kalau saat ini kamu sedang menghadapi masalah kepailitan, sengketa utang piutang, atau berencana membubarkan perusahaan, sebaiknya jangan buru-buru mengambil keputusan sendiri. Konsultasikan dulu dengan ahli hukum yang memang menguasai bidangnya. Dengan begitu, kamu bisa menghindari kesalahan prosedur yang berpotensi merugikan, baik dari sisi finansial maupun hukum. Klik saja tombol “KONSULTASI GRATIS” di pojok kanan website ini, atau klik poster yang tersedia, untuk mendapatkan pendampingan langsung dari tim ahli kami. Ringkasan Referensi

SELENGKAPNYA

Akuisisi Adalah: Pengertian, Jenis, dan Contoh Kasusnya

Akuisisi adalah kata yang sering muncul di berita bisnis. Tapi jarang ada yang benar-benar paham apa konsekuensi hukumnya. Banyak pengusaha tergiur bayangan ekspansi kilat lewat jalur ini, lalu lupa bahwa prosesnya diatur ketat oleh undang-undang di Indonesia. Singkatnya begini: akuisisi adalah tindakan mengambil alih saham suatu perseroan, yang berujung pada berpindahnya kendali atas perusahaan tersebut ke tangan pihak lain. Sebagai orang yang bertahun-tahun bergelut dengan hukum korporasi, saya melihat akuisisi sebagai lebih dari transaksi jual beli saham biasa. Ada nyawa perusahaan yang dipertaruhkan di sana. Karena itu, setiap pelaku usaha sebaiknya memahami betul aspek legalitasnya sebelum mengambil keputusan besar semacam ini. Salah langkah dalam memahami prosedur akuisisi bisa berujung sengketa panjang, dan yang dirugikan bukan cuma pemilik modal, melainkan juga karyawan serta kreditor perusahaan. Apa Itu Akuisisi Menurut Hukum Perusahaan Indonesia? Secara yuridis, pengertian akuisisi sudah dijelaskan gamblang dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, atau biasa disingkat UUPT. Pasal 1 angka 11 UUPT menyebutkan bahwa pengambilalihan merupakan perbuatan hukum yang dilakukan badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham suatu perseroan. Akibatnya, kendali atas perseroan itu pun berpindah ke tangan pihak yang mengambil alih. Ketentuan ini lalu diperkuat lewat Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas. Aturan ini mengatur hal-hal teknis, mulai dari syarat sampai tata cara pelaksanaan akuisisi. Menurut saya, hadirnya dua regulasi ini menunjukkan satu hal: negara serius melindungi kepentingan pemegang saham minoritas, karyawan, dan kreditor dalam setiap proses pengambilalihan. Jadi, akuisisi tidak bisa dilakukan seenaknya sendiri tanpa mempedulikan hak pihak-pihak yang terdampak. Dasar Hukum Akuisisi Perusahaan di Indonesia Selain UUPT dan PP Nomor 27 Tahun 1998, ada beberapa regulasi lain yang perlu diperhatikan pelaku usaha sebelum benar-benar melangkah ke proses akuisisi. Berikut daftarnya: Karena itu, pelaku usaha harus memastikan akuisisi yang dilakukan tidak menimbulkan dampak monopoli di pasar. Sebagai tambahan, kalau nilai aset atau nilai penjualan hasil akuisisi melampaui ambang batas tertentu, transaksi itu wajib dinotifikasikan ke KPPU paling lambat 30 hari kerja sejak tanggal transaksi berlaku efektif secara yuridis.i aset atau penjualan hasil akuisisi melampaui batas tertentu, transaksi itu wajib diberitahukan ke KPPU, paling lambat 30 hari setelah tanggal berlaku efektif secara yuridis. Jenis-Jenis Akuisisi yang Perlu Diketahui Akuisisi bisa dibedakan dari beberapa sudut pandang. Memahami jenis-jenisnya penting, supaya pelaku usaha bisa menentukan strategi dan konsekuensi hukum yang paling pas untuk kondisi mereka. Berdasarkan Objek yang Diambil Alih Berdasarkan Hubungan Bisnis Tiap jenis akuisisi punya implikasi hukum dan pajak yang berbeda. Ambil contoh akuisisi aset. Prosesnya cenderung lebih ringkas dari sisi perizinan, sebab badan hukum perusahaan target tetap berdiri sendiri. Meski begitu, konsultasi dengan ahli hukum tetap dibutuhkan, agar struktur transaksi benar-benar sesuai dengan tujuan bisnis perusahaan. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Proses dan Tahapan Akuisisi Perusahaan Akuisisi tidak bisa dilakukan secara instan. Ada beberapa tahapan formal yang wajib dilalui, sesuai UUPT dan PP Nomor 27 Tahun 1998. Berikut gambaran umumnya: Kalau akuisisi berpotensi menimbulkan praktik monopoli, pelaku usaha wajib melaporkannya ke KPPU. Sayangnya, tahapan ini kerap diabaikan oleh pelaku usaha kecil. Padahal, kelalaian melapor bisa berbuntut sanksi administratif yang jumlahnya tidak kecil. Contoh Kasus Akuisisi di Indonesia Praktik akuisisi sudah lama terjadi di berbagai sektor industri Indonesia, dari perbankan sampai teknologi. Di sektor perbankan, misalnya, pernah tercatat beberapa transaksi akuisisi oleh investor asing terhadap bank swasta domestik, dengan tujuan memperluas pangsa pasar di dalam negeri. Sektor consumer goods pun tidak luput. Merek-merek lokal kerap diakuisisi perusahaan multinasional demi memperluas jaringan distribusi mereka. Beralih ke sektor teknologi, sejumlah perusahaan rintisan pernah diakuisisi oleh perusahaan teknologi yang skalanya lebih besar. Tujuannya jelas: memperkuat ekosistem digital sekaligus memperluas basis pengguna. Menariknya, transaksi semacam ini tetap tunduk pada kewajiban pemberitahuan ke KPPU, asalkan nilai transaksinya melewati ambang batas yang ditentukan peraturan. Jadi, sebelum resmi berjalan, setiap kasus akuisisi selalu membutuhkan kajian hukum yang mendalam terlebih dahulu. FAQ Seputar Akuisisi 1. Apa perbedaan akuisisi dan merger? Akuisisi adalah pengambilalihan saham, di mana perusahaan target tetap berdiri sebagai badan hukum terpisah. Sementara merger, atau penggabungan, membuat salah satu perusahaan bubar dan melebur ke perusahaan lain. 2. Apakah akuisisi selalu memerlukan persetujuan pemerintah? Tidak selalu. Namun, jika nilai aset atau nilai penjualan hasil akuisisi melampaui batas tertentu, transaksi itu wajib diberitahukan ke KPPU untuk mencegah praktik monopoli. 3. Bagaimana nasib karyawan setelah perusahaan diakuisisi? Berdasarkan aturan ketenagakerjaan, hubungan kerja pada dasarnya tetap berlanjut seperti biasa. Meski begitu, karyawan berhak mengundurkan diri dengan tetap mendapatkan hak-haknya, jika memang tidak bersedia melanjutkan hubungan kerja dengan pengendali baru. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Kesimpulan Akuisisi adalah instrumen hukum yang sah untuk memperluas atau memperkuat bisnis. Namun pelaksanaannya harus tunduk pada UUPT, PP Nomor 27 Tahun 1998, serta ketentuan persaingan usaha yang berlaku. Karena itu, langkah paling bijak adalah menyusun rancangan akuisisi secara transparan, melibatkan notaris, dan memperhitungkan potensi keberatan dari kreditor maupun karyawan sejak awal. Sebagai pakar hukum, saya menilai kepatuhan terhadap prosedur ini justru melindungi kedua belah pihak dari sengketa di kemudian hari. Bukan menghambat proses bisnis, seperti yang sering dikira banyak orang. Kalau kamu sedang mempertimbangkan rencana akuisisi, atau butuh pendampingan hukum untuk menyusun rancangan akuisisi yang sesuai regulasi, jangan menunda langkah antisipatif itu. Klik poster yang tersedia, atau tombol KONSULTASI GRATIS di pojok kanan website ini, untuk berdiskusi langsung dengan tim ahli hukum kami. Ringkasan Referensi

SELENGKAPNYA
Cara Cek Desain Industri Terdaftar Lewat PDKI Sebelum Mendaftar

Cara Cek Desain Industri Lewat PDKI Sebelum Mendaftar

Sebelum mendaftarkan desain industri, ada satu langkah yang sebaiknya tidak dilewatkan, yaitu melakukan penelusuran terhadap desain yang sudah ada. Penelusuran ini penting untuk mengetahui apakah desain yang akan didaftarkan memiliki kemiripan dengan desain yang sebelumnya telah diungkapkan kepada publik. Di Indonesia, perlindungan desain industri berkaitan erat dengan unsur kebaruan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, hak desain industri diberikan untuk desain industri yang baru. Suatu desain dianggap baru apabila pada tanggal penerimaan permohonan, desain tersebut tidak sama dengan pengungkapan yang telah ada sebelumnya. Salah satu cara melakukan penelusuran adalah melalui Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI) yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Melalui PDKI, masyarakat dapat mencari informasi mengenai berbagai kekayaan intelektual yang tercatat dalam sistem, termasuk desain industri. Namun, pengecekan desain industri tidak cukup hanya dengan memasukkan nama produk ke PDKI. Pemohon perlu memahami apa yang harus dicari, bagaimana membandingkan desain, dan bagaimana menilai informasi yang ditemukan. Berikut panduan lengkap cara cek desain industri terdaftar yang dapat dilakukan sebelum mengajukan permohonan. Cara Cek Desain Industri Terdaftar Lewat PDKI PDKI merupakan pangkalan data kekayaan intelektual yang disediakan DJKI untuk memberikan akses informasi mengenai data kekayaan intelektual. Salah satu informasi yang dapat ditelusuri melalui sistem tersebut adalah desain industri. 1. Buka layanan PDKI DJKIAkses kanal resmi PDKI yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. 2. Pilih kategori Desain IndustriPastikan pencarian dilakukan pada kategori Desain Industri, bukan jenis kekayaan intelektual lainnya. 3. Masukkan kata kunci desainKetik kata kunci yang berkaitan dengan produk atau desain yang ingin diperiksa. Gunakan beberapa variasi kata kunci agar hasil pencarian lebih luas. 4. Periksa hasil pencarianTelusuri daftar desain yang muncul dan pilih hasil yang memiliki karakteristik atau tampilan yang paling mendekati desain yang akan didaftarkan. 5. Bandingkan gambar desainJangan hanya melihat nama atau judul desain. Periksa gambar dan bandingkan bentuk, konfigurasi, pola, komposisi garis atau warna, serta karakter visual lainnya. 6. Periksa informasi desainPerhatikan informasi seperti nomor permohonan atau pendaftaran, tanggal penerimaan, nama pemohon atau pemilik, dan status desain. 7. Catat desain yang relevanJika menemukan desain yang memiliki kemiripan, simpan informasi tersebut sebagai bahan evaluasi sebelum mengajukan permohonan pendaftaran desain industri Menurut UU No. 31 Tahun 2000, desain industri adalah kreasi mengenai bentuk, konfigurasi, komposisi garis atau warna, atau gabungan dari unsur tersebut yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta digunakan untuk menghasilkan suatu produk. Karena itu, ketika melakukan cara cek desain industri terdaftar, perbandingan sebaiknya diarahkan pada karakteristik visual desain. Misalnya, pada sebuah kemasan, perhatikan bentuk keseluruhan, susunan elemen, pola, konfigurasi, dan kombinasi warna yang menjadi bagian dari desain tersebut. Informasi lain yang perlu diperhatikan adalah nomor permohonan atau pendaftaran, nama desain, pemohon atau pemilik, tanggal penerimaan, serta status desain yang tercantum dalam database. Tanggal penerimaan menjadi informasi yang penting karena berkaitan dengan penentuan kebaruan. Sementara itu, status dapat membantu mengetahui posisi permohonan atau pendaftaran desain yang ditemukan dalam database. Dengan demikian, PDKI dapat digunakan sebagai titik awal untuk mengetahui apakah sudah terdapat desain yang serupa atau relevan sebelum pemohon mengajukan desainnya sendiri. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Apa Itu Prior Art dalam Desain Industri? Dalam pembahasan kekayaan intelektual, istilah prior art sering digunakan untuk merujuk pada informasi atau pengungkapan yang telah tersedia sebelumnya dan dapat menjadi pembanding terhadap suatu objek yang akan dilindungi. Dalam desain industri Indonesia, konsep yang sangat berkaitan dengan hal tersebut adalah kebaruan. Pasal 2 UU No. 31 Tahun 2000 menyatakan bahwa hak desain industri diberikan untuk desain industri yang baru. Selanjutnya, desain industri dianggap baru apabila pada tanggal penerimaan desain tersebut tidak sama dengan pengungkapan yang telah ada sebelumnya. Pengungkapan sebelumnya tidak terbatas pada desain yang sudah terdaftar. Pasal 2 UU Desain Industri mengatur bahwa desain tidak dianggap baru apabila sebelum tanggal penerimaan desain tersebut telah diumumkan atau digunakan di Indonesia maupun di luar Indonesia. Artinya, seseorang tidak dapat hanya mencari apakah desain tersebut sudah terdaftar di PDKI. Penelusuran juga perlu mempertimbangkan apakah desain yang sama atau relevan pernah diperlihatkan kepada publik sebelumnya. Misalnya, sebuah perusahaan membuat desain botol dengan bentuk tertentu dan belum pernah mendaftarkannya. Namun, ternyata bentuk yang sama sudah dipublikasikan dalam katalog produk atau situs perusahaan lain sebelum tanggal pengajuan. Fakta tersebut tetap perlu diperhatikan dalam penelusuran karena persoalan kebaruan tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya nomor pendaftaran. Hal inilah yang membuat penelusuran sebelum pendaftaran menjadi penting. Meski demikian, istilah prior art perlu digunakan secara hati-hati dalam konteks desain industri. Tidak semua desain yang terlihat mirip secara otomatis membuat desain baru kehilangan kebaruan. Penilaian mengenai apakah suatu desain memenuhi persyaratan kebaruan tetap harus dilakukan berdasarkan ketentuan hukum dan pemeriksaan terhadap desain yang bersangkutan. Dengan kata lain, hasil pencarian PDKI sebaiknya dipandang sebagai informasi awal untuk melakukan evaluasi, bukan sebagai keputusan final bahwa sebuah desain pasti dapat atau tidak dapat didaftarkan. Cara Penelusuran Desain Industri Sebelum Mendaftar Langkah penelusuran sebelum daftar desain industri sebaiknya dilakukan secara sistematis agar hasilnya tidak terlalu sempit. Sebelum melakukan pencarian, tentukan terlebih dahulu bagian mana dari desain yang menjadi karakteristik utamanya. Misalnya, sebuah produk memiliki bentuk yang tidak biasa, konfigurasi tertentu, atau kombinasi pola dan warna yang menjadi ciri khas. Unsur-unsur tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kata kunci dan objek yang akan dibandingkan. Selanjutnya, lakukan pencarian menggunakan beberapa variasi kata kunci. Hindari hanya menggunakan nama produk atau nama merek karena desain yang serupa dapat tercatat dengan nama yang berbeda. Setelah mendapatkan hasil pencarian di PDKI, periksa gambar desain yang muncul. Bandingkan tampilan desain secara keseluruhan dan perhatikan bagian-bagian yang memiliki kemiripan. Apabila menemukan desain yang relevan, catat informasi pentingnya. Misalnya nomor permohonan atau pendaftaran, nama desain, tanggal penerimaan, nama pemohon atau pemilik, status, serta gambar desain. Catatan ini dapat membantu ketika melakukan perbandingan lebih lanjut. Penelusuran juga sebaiknya tidak berhenti di PDKI. DJKI dalam panduan mengenai kebaruan desain industri menyebutkan bahwa penelusuran dapat dilakukan melalui PDKI dan WIPO Global Design Database. Pencarian juga dapat diperluas melalui mesin pencari, media sosial, situs belanja daring, dan sumber lain yang relevan. Hal tersebut penting karena

SELENGKAPNYA

PKP Adalah: Pengertian, Syarat, dan Cara Daftar PKP

PKP adalah status pajak yang cepat atau lambat akan ditemui hampir semua pengusaha yang usahanya terus tumbuh. Singkatnya begini: PKP adalah kependekan dari Pengusaha Kena Pajak, yakni pengusaha yang menyerahkan barang kena pajak dan/atau jasa kena pajak, sehingga punya kewajiban memungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Masalahnya, banyak pemilik usaha baru sadar soal status ini setelah omzetnya melejit jauh. Akibatnya, mereka telat mengurus pengukuhan dan berujung kena sanksi administrasi yang sebenarnya bisa dihindari. Dari pengalaman saya menekuni regulasi perpajakan bertahun-tahun, ada satu kesalahpahaman yang terus berulang. PKP kerap dianggap sebagai beban baru saja. Padahal kalau dikelola dengan tepat, status ini justru membuka keuntungan, mulai dari hak mengkreditkan pajak masukan sampai naiknya kredibilitas usaha di mata mitra bisnis maupun instansi pemerintah. Jadi, memahami aturan PKP sejak awal jelas jauh lebih menguntungkan daripada menunggu sampai ditegur DJP. Lewat artikel ini, kamu akan diajak memahami pengertian PKP, dasar hukum yang menaunginya, syarat PKP yang wajib dipenuhi, sampai cara daftar PKP selengkap-lengkapnya. Selain itu, di bagian akhir juga ada jawaban untuk pertanyaan yang paling sering muncul seputar topik ini. Apa Itu PKP? Pengertian dan Dasar Hukumnya PKP adalah status yang diberikan kepada pengusaha, baik orang pribadi maupun badan usaha, yang telah memenuhi kriteria sebagai Pengusaha Kena Pajak sesuai aturan perpajakan yang berlaku. Aturannya sendiri diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang PPN, yang kemudian diperbarui lewat Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) Nomor 7 Tahun 2021. Di samping itu, batasan omzet pengusaha kecil sebesar Rp4,8 miliar per tahun masih merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 197/PMK.03/2013, meski ketentuan batas waktu pelaporan pengukuhan PKP dalam PMK tersebut sudah digantikan oleh PMK Nomor 164 Tahun 2023. Berdasarkan aturan-aturan tersebut, pengusaha yang omzetnya sudah melewati batas pengusaha kecil wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP. Meski begitu, pengusaha dengan omzet di bawah batas itu tetap boleh memilih dikukuhkan secara sukarela. Dengan kata lain, status PKP tidak selalu soal kewajiban. Kadang, ini justru jadi pilihan strategis yang sengaja diambil pelaku usaha. Begitu dikukuhkan, kewajiban baru pun muncul, dan jumlahnya tidak sedikit. Beberapa di antaranya: Perbedaan PKP dan Non-PKP Bedanya cukup jelas. Pengusaha non-PKP tidak berhak menerbitkan faktur pajak dan tidak wajib memungut PPN dari konsumennya. PKP justru sebaliknya. Kewajiban memungut PPN melekat padanya, tapi sebagai gantinya, ia berhak mengkreditkan pajak masukan atas pembelian barang atau jasa untuk kegiatan usahanya. Syarat PKP yang Wajib Dipenuhi Pengusaha Sebelum mengajukan pengukuhan, ada baiknya kamu memahami dulu syarat PKP secara utuh, biar prosesnya tidak berbelit di tengah jalan. Secara garis besar, syarat ini terbagi jadi dua kelompok: syarat omzet dan syarat administratif. Pertama soal omzet. Pengusaha wajib dikukuhkan sebagai PKP kalau peredaran bruto atau penerimaan brutonya sudah melampaui Rp4,8 miliar dalam satu tahun buku. Merujuk Pasal 17 ayat (3) PMK 164/2023, kewajiban melaporkan usaha untuk dikukuhkan dilakukan paling lambat akhir tahun buku saat omzet melampaui batas tersebut. Misalnya, kalau omzet menembus Rp4,8 miliar pada bulan Juli, maka pengajuan pengukuhan PKP paling lambat harus dilakukan pada Desember di tahun yang sama. Kedua, syarat administratif. Dokumen yang biasanya diminta antara lain: Ada satu hal menarik di sini. Pengusaha yang omzetnya belum menyentuh batas tetap bisa mengajukan PKP secara sukarela. Biasanya, pilihan ini diambil perusahaan yang butuh status PKP untuk keperluan tender, kerja sama bisnis, atau permintaan dari mitra kerja. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Cara Daftar PKP Secara Online dan Offline Setelah syarat PKP terpenuhi, langkah berikutnya adalah memahami cara daftar PKP yang benar. Saat ini DJP sudah menyediakan dua jalur pendaftaran: online lewat sistem Coretax DJP, dan offline dengan datang langsung ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Pendaftaran PKP Online Jalur ini umumnya lebih praktis karena kamu tidak perlu antre di kantor pajak. Berikut tahapannya. Pendaftaran PKP Secara Langsung ke KPP Ada juga jalur konvensional bagi yang lebih nyaman datang langsung. Mula-mula, siapkan seluruh dokumen persyaratan, baik dalam bentuk fisik maupun salinan digital. Setelah itu, datangi KPP sesuai domisili usaha dan serahkan berkas ke petugas pelayanan. Biasanya, petugas akan melakukan survei lapangan untuk memastikan keberadaan usaha benar-benar sesuai dengan data yang dilaporkan. Jika hasil survei sesuai, KPP akan menerbitkan Surat Pengukuhan PKP dalam waktu yang sudah ditentukan. Dari situ, resmi sudah kamu berstatus PKP, lengkap dengan kewajiban perpajakan yang menyertainya. Hak, Kewajiban, dan Konsekuensi Setelah Menjadi PKP Memahami konsekuensi setelah dikukuhkan sama pentingnya dengan memahami cara mendaftarnya. Sebagai PKP, kamu mendapat sejumlah hak baru, tapi juga kewajiban baru yang harus dijalankan secara konsisten. Dari sisi hak, PKP berhak mengkreditkan pajak masukan atas pembelian barang atau jasa yang berkaitan langsung dengan kegiatan usahanya. Selain itu, status ini juga mendongkrak kredibilitas usaha di mata mitra bisnis, terutama untuk kepentingan tender pemerintah atau kerja sama dengan perusahaan besar. Sayangnya, kewajiban yang mengikutinya juga tidak ringan. Beberapa konsekuensi yang perlu diperhatikan: Di sisi lain, kalau omzet usaha kembali turun di bawah Rp4,8 miliar selama dua tahun buku berturut-turut, kamu bisa mengajukan pencabutan status PKP ke KPP setempat. Karena itu, memantau kondisi omzet usaha dari waktu ke waktu jadi kebiasaan yang layak dijaga. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! FAQ Seputar PKP 1. Apakah usaha kecil wajib menjadi PKP? Tidak selalu. Usaha dengan omzet di bawah Rp4,8 miliar per tahun masuk kategori pengusaha kecil, jadi tidak wajib dikukuhkan sebagai PKP, kecuali kamu memang memilih mendaftar secara sukarela. 2. Berapa lama proses pengukuhan PKP setelah pendaftaran? Umumnya, verifikasi dan survei lapangan memakan waktu beberapa hari kerja sejak berkas dinyatakan lengkap. Namun, durasinya bisa berbeda-beda tergantung kebijakan KPP setempat. 3. Apakah status PKP bisa dicabut? Bisa. Kamu berhak mengajukan pencabutan kalau omzet turun di bawah batas pengusaha kecil selama dua tahun buku berturut-turut. DJP sendiri juga berwenang mencabutnya secara jabatan bila ditemukan pelanggaran. Kesimpulan Jadi begini. PKP adalah status perpajakan yang menandai kewajiban pengusaha untuk memungut, menyetor, dan melaporkan PPN atas transaksi usahanya. Status ini wajib dimiliki begitu omzet melampaui Rp4,8 miliar per tahun buku, meski tetap terbuka untuk diajukan secara sukarela sesuai kebutuhan bisnis.

SELENGKAPNYA
uu pt

5 Pasal Penting UU PT yang Wajib Dipahami Pengusaha

Pasal penting UU PT sering luput dari perhatian pengusaha. Padahal, pemahaman yang keliru terhadap ketentuan ini bisa berujung sengketa hukum di kemudian hari. Banyak pendiri perusahaan cuma fokus pada proses administratif pendirian PT, tanpa benar-benar mengerti hak dan kewajiban yang melekat pada badan hukum tersebut. Akibatnya, begitu muncul masalah internal maupun eksternal, mereka kebingungan mencari dasar hukumnya sendiri. Singkatnya begini. UU PT adalah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang jadi payung hukum utama bagi pendirian, pengelolaan, sampai pembubaran PT di Indonesia. Sebagian ketentuannya sudah diubah lewat Undang-Undang Cipta Kerja. Sebagai orang yang cukup lama mendalami hukum korporasi, saya melihat banyak pengusaha, terutama pelaku usaha pemula, terlalu cepat mendirikan PT tanpa memahami konsekuensi hukum di baliknya. Padahal, lima pasal kunci sebenarnya bisa jadi pegangan utama sebelum melangkah lebih jauh. Nah, di artikel ini kamu akan diajak memahami lima pasal penting UU PT yang berkaitan langsung dengan tanggung jawab, modal, sampai tata kelola perusahaan. Dengan begitu, kamu bisa menjalankan bisnis secara lebih aman dan sesuai koridor hukum. Pasal 1 Angka 1: Definisi dan Konsep Dasar PT Pasal 1 angka 1 UU PT, sebagaimana diubah oleh UU Cipta Kerja, menjadi fondasi awal yang wajib dipahami setiap pengusaha. Pasal ini mendefinisikan Perseroan Terbatas sebagai badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, dan menjalankan kegiatan usaha dengan modal yang terbagi dalam saham. Menariknya, definisi ini juga mencakup badan hukum perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro dan Kecil. Jadi, PT sekarang tidak lagi identik dengan perusahaan besar semata. Karena itu, pelaku UMKM pun berkesempatan mendirikan PT dengan skema yang jauh lebih sederhana dibanding sebelumnya. Konsep persekutuan modal ini penting dipahami. Sebab, ini menegaskan bahwa PT merupakan entitas hukum yang terpisah dari pemiliknya. Dengan kata lain, PT bisa memiliki aset, menandatangani kontrak, serta digugat atau menggugat pihak lain atas namanya sendiri. Implikasi Pasal 1 bagi Pengusaha Berikut beberapa implikasi penting dari pasal ini: Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Pasal 3: Tanggung Jawab Terbatas Pemegang Saham Pasal 3 UU PT mengatur prinsip tanggung jawab terbatas. Ini salah satu alasan utama kenapa pengusaha memilih bentuk PT ketimbang badan usaha lain. Berdasarkan pasal ini, pemegang saham tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan, dan tidak bertanggung jawab atas kerugian perseroan melebihi saham yang dimilikinya. Namun, prinsip ini bukan tanpa pengecualian. Ketentuan ini bisa gugur apabila terbukti terjadi pencampuran harta pribadi dan harta perseroan. Atau kalau pemegang saham terlibat langsung dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan perseroan. Fenomena ini dikenal sebagai piercing the corporate veil dalam praktik hukum korporasi. Saya sendiri, sebagai orang yang cukup sering mengamati praktik di lapangan, menilai banyak pengusaha kurang menyadari batas perlindungan hukum ini. Padahal, memahami Pasal 3 dengan tepat bisa mencegah pemegang saham kehilangan perlindungan tanggung jawab terbatas gara-gara kelalaian administratif semata. Kondisi yang Menghapus Tanggung Jawab Terbatas Beberapa kondisi yang dapat menghapus perlindungan tanggung jawab terbatas antara lain: Pasal 7: Syarat Pendirian PT Syarat pendirian PT diatur secara rinci dalam Pasal 7 UU PT, yang juga sudah diubah lewat UU Cipta Kerja. Berdasarkan ketentuan terbaru, perseroan didirikan oleh dua orang atau lebih dengan akta notaris berbahasa Indonesia, lalu memperoleh status badan hukum setelah didaftarkan kepada Menteri Hukum dan HAM. Menariknya, ketentuan minimal dua pendiri ini dikecualikan bagi beberapa jenis badan usaha. Misalnya perseroan yang seluruh sahamnya dimiliki negara, BUMN, BUMD, serta perseroan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro dan Kecil. Karena itu, pelaku usaha perorangan kini bisa mendirikan PT tanpa perlu mencari mitra pendiri tambahan. Soal permodalan, Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2021 tentang Modal Dasar Perseroan turut menghapus batas minimum modal dasar sebesar lima puluh juta rupiah yang sebelumnya diwajibkan. Dengan begitu, besaran modal dasar PT kini sepenuhnya ditentukan berdasarkan kesepakatan para pendiri, kecuali untuk bidang usaha tertentu yang diatur secara khusus. Tahapan Umum Pendirian PT Berikut tahapan umum pendirian PT sesuai ketentuan terbaru: Pasal 74: Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Pasal 74 UU PT mewajibkan perseroan yang menjalankan kegiatan usaha di bidang atau berkaitan dengan sumber daya alam untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan, yang lebih dikenal dengan istilah TJSL atau CSR. Kewajiban ini dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Ketentuan ini tidak berlaku sama bagi seluruh jenis perseroan. Hanya perseroan yang bidang usahanya bersinggungan langsung dengan sumber daya alam yang wajib melaksanakan TJSL secara mutlak. Meski begitu, semakin banyak perusahaan di luar sektor tersebut yang tetap menjalankan CSR sebagai bagian dari strategi keberlanjutan bisnis mereka. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Karena itu, pengusaha yang bergerak di sektor pertambangan, kehutanan, maupun perkebunan wajib memahami pasal ini secara mendalam. Kelalaian dalam melaksanakan TJSL bisa berakibat pada sanksi administratif, bahkan berdampak pada reputasi perusahaan di mata publik dan investor. Pasal 97: Tanggung Jawab Direksi dalam Pengelolaan Perseroan Pasal 97 UU PT mengatur tanggung jawab direksi dalam menjalankan pengurusan perseroan. Setiap anggota direksi wajib melaksanakan tugasnya dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab, demi kepentingan dan usaha perseroan. Berikut beberapa poin penting dari pasal ini: Kalau pasal ini dipahami dengan baik, pengusaha yang menjabat sebagai direksi bisa lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis. Terutama keputusan yang berdampak besar terhadap keuangan maupun keberlangsungan perseroan. FAQ Seputar Pasal Penting UU PT 1. Apakah PT bisa didirikan oleh satu orang saja? Bisa, khusus bagi pelaku usaha yang memenuhi kriteria Usaha Mikro dan Kecil sesuai ketentuan UU Cipta Kerja, tanpa perlu akta notaris seperti PT pada umumnya. 2. Apakah pemegang saham selalu terbebas dari tanggung jawab pribadi? Tidak selalu. Tanggung jawab terbatas bisa gugur apabila terjadi pencampuran harta pribadi dengan harta perseroan, atau perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur Pasal 3 UU PT. 3. Apakah semua PT wajib melaksanakan CSR? Tidak. Kewajiban TJSL berdasarkan Pasal 74 UU PT hanya berlaku bagi perseroan yang kegiatan usahanya berkaitan langsung dengan sumber daya alam. Kesimpulan Pasal penting UU PT yang sudah dibahas di atas menunjukkan satu hal. Mendirikan dan menjalankan PT bukan

SELENGKAPNYA
PPh Final 0,5% UMKM: Ada Batas Waktu, Ini Aturannya

PPh Final 0,5% UMKM: Ada Batas Waktu, Ini Aturannya

PPh Final 0,5% UMKM selama ini dikenal sebagai salah satu skema pajak yang cukup membantu pelaku usaha kecil. Cara menghitungnya relatif sederhana. Namun, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian, yaitu masa berlaku tarif tersebut. Tarif 0,5% memang dapat digunakan oleh wajib pajak yang memenuhi persyaratan. Sayangnya, fasilitas itu tidak berjalan selamanya. Pemerintah sudah menentukan jangka waktu pemanfaatannya melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2022. Mengenal PPh Final 0,5% untuk Pelaku UMKM Pajak UMKM 0,5 persen merupakan skema PPh final yang berlaku bagi wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu dan memenuhi ketentuan peraturan perpajakan. Dasar hukumnya saat ini adalah PP Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan. Regulasi tersebut mengatur beberapa aspek PPh, termasuk pengenaan pajak atas penghasilan dari kegiatan usaha dengan peredaran bruto tertentu. Dasar hukum tarif PPh Final UMKM Ketentuan mengenai tarif PPh final tersebut dapat ditemukan dalam PP Nomor 55 Tahun 2022. Peraturan ini menjadi salah satu rujukan utama dalam memahami skema pajak penghasilan bagi wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu. Dalam kondisi yang memenuhi persyaratan, tarif yang dikenakan adalah 0,5% dari peredaran bruto. Ada pula aturan khusus bagi wajib pajak orang pribadi. Bagian peredaran bruto sampai dengan Rp500 juta dalam satu tahun pajak mendapatkan fasilitas sesuai ketentuan yang berlaku. Baca juga: Panduan SP2DK Pajak: Cara Menjawab dan Dokumen yang Disiapkan PPh Final 0,5% UMKM Ada Batas Waktunya Pertanyaan mengenai batas waktu PPh Final UMKM 0,5% cukup sering muncul. Wajar saja. Banyak pelaku usaha mengetahui tarifnya, namun belum tentu mengetahui sampai kapan tarif tersebut dapat digunakan. PP 55 Tahun 2022 sudah mengatur jangka waktu pemanfaatan PPh final berdasarkan bentuk wajib pajak. Jadi, selama persyaratan terpenuhi, tarif 0,5% memang dapat digunakan. Namun, masa pemanfaatannya tetap memiliki batas. Berapa lama tarif 0,5% bisa digunakan? Jangka waktu yang ditetapkan dalam PP 55 Tahun 2022 berbeda berdasarkan bentuk wajib pajak. Secara garis besar, ketentuannya sebagai berikut: Angka tersebut penting dicatat sejak awal. Mengapa masa berlaku perlu dicatat? Ada alasan sederhana. Ketika masa penggunaan PPh final selesai, wajib pajak perlu mengikuti ketentuan penghitungan pajak berikutnya. Dengan kata lain, omzet yang masih berada dalam batas tertentu tidak otomatis membuat tarif 0,5% dapat terus dipakai setelah masa fasilitas berakhir. Siapa yang Boleh Menggunakan Tarif PPh Final 0,5%? Tidak setiap orang yang menjalankan usaha dapat langsung menggunakan tarif PPh final 0,5%. Ada persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Salah satu hal yang paling sering menjadi perhatian adalah peredaran bruto atau omzet usaha. PP 55 Tahun 2022 mengatur skema bagi wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu. Batas omzet Rp4,8 miliar Batas Rp4,8 miliar menjadi salah satu angka yang cukup dikenal dalam pembahasan pajak UMKM. Pelaku usaha perlu memantau jumlah omzetnya sepanjang tahun. Jangan hanya melihat pemasukan satu bulan. Catat transaksi secara rutin. Kemudian, lakukan rekap secara berkala agar posisi omzet dapat diketahui dengan jelas. Baca juga: Konsultan Pajak: Tugas, Manfaat, Ciri serta Rekomendasi Jasa Konsultasi Pajak Terbaik Ada pengecualian dan ketentuan khusus Selain batas omzet, terdapat penghasilan tertentu yang memiliki perlakuan perpajakan tersendiri. Karena itu, tidak semua pemasukan usaha dapat diperlakukan dengan cara yang sama. Khusus wajib pajak orang pribadi, PP 55 Tahun 2022 memberikan fasilitas atas bagian peredaran bruto sampai Rp500 juta dalam satu tahun pajak, selama memenuhi ketentuan. Karena itu, menghitung pajak dengan cara langsung mengalikan seluruh omzet dengan 0,5% belum tentu tepat. Cara Menghitung PPh Final 0,5% UMKM Sekilas, perhitungan tarif PPh final memang cukup mudah. Tinggal mengetahui peredaran bruto yang menjadi dasar pengenaan, lalu menerapkan tarif yang berlaku. Namun, untuk wajib pajak orang pribadi, ada ketentuan mengenai omzet sampai Rp500 juta yang perlu diperhitungkan terlebih dahulu. Dengan demikian, bagian omzet yang menjadi dasar pengenaan PPh final adalah: Rp800 juta – Rp500 juta = Rp300 juta Selanjutnya, tarif PPh final 0,5% diterapkan pada bagian tersebut: Rp300 juta × 0,5% = Rp1,5 juta Jadi, dalam contoh sederhana tersebut, PPh final yang terutang adalah Rp1,5 juta. Contoh ini hanya menggambarkan cara kerja dasar. Kondisi nyata setiap wajib pajak bisa berbeda. Jenis penghasilan, status wajib pajak, serta ketentuan yang berlaku pada tahun pajak bersangkutan tetap harus diperiksa. Jangan mengandalkan catatan omzet seadanya Kesalahan administrasi sering bermula dari hal yang terlihat kecil. Misalnya, transaksi tidak dicatat pada hari yang sama atau bukti pembayaran tidak disimpan. Awalnya mungkin terasa sepele. Namun, ketika omzet sudah besar dan transaksi semakin banyak, pencatatan yang berantakan bisa menyulitkan proses penghitungan pajak. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Apa yang Terjadi Saat Masa PPh Final 0,5% Berakhir? Berakhirnya masa PPh final tidak berarti kewajiban pajak usaha ikut berhenti. Justru, pada tahap inilah pemilik usaha perlu lebih serius memperhatikan mekanisme penghitungan pajaknya. Setelah masa penggunaan fasilitas berakhir, wajib pajak harus mengikuti ketentuan PPh yang sesuai dengan status dan kondisi usahanya. Perubahan tersebut sebaiknya dipersiapkan jauh-jauh hari. Mulai siapkan pembukuan Pembukuan menjadi semakin penting ketika usaha memasuki mekanisme pajak sesuai ketentuan umum. Mulai dari pendapatan, biaya, aset, utang, hingga transaksi usaha perlu dicatat dengan tertib. Dokumen pendukung juga sebaiknya disimpan secara sistematis. Bagi bisnis yang sejak awal sudah memiliki administrasi keuangan yang rapi, proses penyesuaian tentu lebih mudah. Perhatikan bentuk badan usaha Bentuk badan usaha ikut menentukan masa penggunaan tarif PPh final. PT, misalnya, mempunyai jangka waktu yang berbeda dibandingkan CV atau firma. Karena itu, pemilik usaha perlu mengetahui secara tepat status wajib pajaknya. Hal ini menjadi semakin penting ketika perusahaan berencana mengubah struktur bisnis. Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menggunakan PPh Final UMKM Masih ada pelaku UMKM yang mengira tarif 0,5% berlaku selamanya. Selama omzet usaha belum melewati Rp4,8 miliar, tarif dianggap tetap bisa digunakan. Pemahaman tersebut perlu diluruskan. Masa berlaku PPh Final 0,5% tetap memiliki batas waktu, meskipun omzet usaha masih berada dalam kriteria yang ditentukan. Kesalahan lain muncul karena pemilik usaha tidak mencatat kapan mulai menggunakan skema tersebut. Akibatnya, mereka kesulitan menentukan kapan masa fasilitas berakhir. Supaya lebih tertib, beberapa langkah berikut dapat dilakukan: Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi risiko salah hitung atau salah menerapkan tarif. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung

SELENGKAPNYA
Contoh Rahasia Dagang dalam Bisnis dan Cara Melindunginya

Contoh Rahasia Dagang dalam Bisnis dan Cara Melindunginya

Contoh rahasia dagang dalam bisnis bisa Anda temukan di mana saja, mulai dari resep, cara produksi, daftar pelanggan, sampai algoritma yang menjalankan sebuah aplikasi. Semua itu masuk kategori rahasia dagang, salah satu bentuk kekayaan intelektual yang justru dilindungi karena tidak dibuka ke publik. Kalau Anda sedang membangun bisnis, apalagi startup berbasis teknologi, memahami berbagai contoh rahasia dagang dalam bisnis jadi langkah awal supaya aset paling berharga di perusahaan Anda tidak bocor begitu saja ke tangan kompetitor. Artikel ini akan membahas berbagai contoh rahasia dagang dalam bisnis, mulai dari resep dan formula yang sudah dijaga puluhan tahun oleh brand besar, sampai bagaimana startup menjaga data pelanggan dan algoritma sebagai aset intelektual yang harus dilindungi secara hukum. Apa Itu Rahasia Dagang? Rahasia dagang diatur secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang. Pasal 1 undang-undang ini menyebutkan bahwa rahasia dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di bidang teknologi dan atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemiliknya. Cakupan perlindungannya cukup luas, meliputi metode produksi, metode pengolahan, metode penjualan, sampai informasi lain di bidang teknologi dan bisnis yang punya nilai ekonomi dan tidak diketahui masyarakat umum, seperti diatur dalam Pasal 2. Supaya sebuah informasi bisa dianggap rahasia dagang, Pasal 3 undang-undang ini menetapkan tiga syarat yang harus dipenuhi sekaligus, yaitu informasi tersebut bersifat rahasia, punya nilai ekonomi, dan dijaga kerahasiaannya lewat upaya yang layak dan patut. Sujana Donandi S., pakar hukum kekayaan intelektual yang menulis buku Hukum Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia (2019), menekankan bahwa perlindungan rahasia dagang berbeda dari hak kekayaan intelektual lain seperti merek atau paten karena tidak memerlukan proses pendaftaran ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Selama tiga unsur tadi terpenuhi dan perusahaan bisa membuktikannya, perlindungan hukum otomatis melekat pada informasi tersebut. Ciri khas inilah yang membuat rahasia dagang berbeda dari paten. Kalau Anda mematenkan sebuah formula, Anda wajib membuka detail teknisnya ke publik dan perlindungannya hanya berlaku selama masa waktu tertentu, biasanya dua puluh tahun. Sebaliknya, rahasia dagang bisa dilindungi selama pemiliknya konsisten menjaga kerahasiaannya, tanpa batas waktu. Contoh Rahasia Dagang Resep dan Formula Kalau bicara soal contoh rahasia dagang resep dan formula, dua nama yang paling sering disebut adalah KFC dan Coca-Cola. Resep bumbu ayam goreng KFC yang terdiri dari sebelas jenis rempah awalnya hanya diingat oleh pendirinya, Kolonel Sanders. Setelah dituliskan, salinan resep tersebut kini disimpan rapat dalam sebuah brankas di Kentucky, Amerika Serikat, dan hanya segelintir orang yang punya akses untuk mengetahuinya secara utuh. Coca-Cola punya cerita serupa. Formula minuman ini sengaja tidak dipatenkan karena perusahaan tidak mau mengungkap komposisi bahannya ke publik. Dengan menjadikannya rahasia dagang, Coca-Cola bisa terus menjaga cita rasa khasnya tanpa batas waktu, selama formula itu tetap dirahasiakan. Konsekuensinya, perusahaan harus menerapkan pengamanan berlapis, termasuk membatasi jumlah orang yang tahu resep lengkap dan memisahkan proses produksi ke beberapa lokasi berbeda supaya tidak ada satu pihak pun yang memegang seluruh informasi. Nilai strategi ini pernah diuji langsung. Pada tahun 2006, sejumlah karyawan Coca-Cola diduga mencoba menjual resep rahasia perusahaan kepada pesaing utamanya, PepsiCo. Kasus ini kemudian dilaporkan ke FBI dan pelakunya berhasil ditangkap sebelum informasi rahasia itu benar-benar berpindah tangan. Kejadian ini jadi pengingat bahwa ancaman kebocoran rahasia dagang tidak selalu datang dari pihak luar, tapi juga bisa muncul dari orang dalam perusahaan sendiri. Selain makanan dan minuman, formula juga banyak dijaga sebagai rahasia dagang di industri lain, misalnya komposisi kimia produk pembersih rumah tangga, campuran cat dengan warna dan daya tahan tertentu, atau racikan bahan pada produk kosmetik. Semua contoh ini punya kesamaan, yaitu nilai ekonominya justru muncul karena formulanya tidak diketahui pesaing, bukan karena kualitas bahan bakunya semata. Cara menentukan apakah sebuah formula sebaiknya dipatenkan atau dijadikan rahasia dagang biasanya bergantung pada beberapa pertimbangan praktis. Kalau formula itu sulit ditiru lewat proses rekayasa balik atau reverse engineering, rahasia dagang jadi pilihan yang lebih menguntungkan karena perlindungannya tidak dibatasi waktu. Sebaliknya, kalau produk mudah dibongkar dan cara kerjanya bisa langsung terlihat begitu sampai di tangan konsumen, misalnya pada perangkat mekanik atau gawai elektronik, paten biasanya jadi pilihan yang lebih masuk akal karena rahasia dagang tidak akan bisa bertahan lama pada produk semacam itu. Pertimbangan lain adalah usia ekonomis produk. Kalau siklus hidup produk cenderung pendek, proses pengajuan paten yang bisa memakan waktu bertahun-tahun justru kurang efisien dibanding langsung menjaganya sebagai rahasia dagang sejak hari pertama diluncurkan. Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS! Rahasia Dagang dalam Metode Produksi Selain resep, rahasia dagang juga mencakup cara kerja di balik layar sebuah bisnis. Metode produksi, misalnya teknik pengolahan bahan baku supaya hasil akhirnya lebih renyah, lebih awet, atau lebih murah diproduksi, termasuk informasi yang bisa dilindungi selama perusahaan menjaganya dengan baik. Begitu juga dengan metode pengolahan dan metode penjualan, dua hal yang secara eksplisit disebutkan dalam Pasal 2 UU Rahasia Dagang sebagai bagian dari lingkup perlindungan. Strategi pemasaran pun sering masuk kategori ini. Daftar target konsumen yang sudah disegmentasi secara detail, teknik penetapan harga yang disesuaikan dengan perilaku pasar, sampai rencana peluncuran produk yang belum diumumkan ke publik, semuanya bisa dianggap sebagai rahasia dagang selama informasi itu punya nilai ekonomi dan sengaja dijaga kerahasiaannya. Banyak perusahaan menuangkan kewajiban menjaga informasi semacam ini ke dalam perjanjian kerja tertulis dengan karyawan, supaya ada dasar hukum yang jelas kalau suatu saat terjadi pelanggaran. Contoh lain yang sering luput dari perhatian adalah daftar pemasok atau vendor dengan harga negosiasi khusus, rencana ekspansi ke kota atau negara baru sebelum diumumkan secara resmi, hingga hasil riset pasar internal yang jadi dasar pengambilan keputusan bisnis. Semua informasi ini punya nilai ekonomi tinggi kalau dilihat dari sudut pandang pesaing, karena bisa mempercepat mereka menyusun strategi tandingan tanpa perlu melakukan riset dari nol. Perusahaan waralaba juga umumnya menjadikan standar operasional prosedur, mulai dari cara melayani pelanggan sampai tata letak gerai, sebagai bagian dari rahasia dagang yang hanya dibuka kepada mitra yang sudah menandatangani perjanjian waralaba, sehingga keunikan pengalaman pelanggan di setiap gerai tetap terjaga meski dikelola oleh pihak yang berbeda-beda. Contoh Rahasia Dagang Data Pelanggan Di antara

SELENGKAPNYA