
Piutang Usaha Menumpuk? Gini Cara Mengatasinya
Piutang usaha adalah uang yang masih harus dibayar pelanggan kepada perusahaan. Piutang muncul ketika perusahaan sudah memberikan barang atau jasa, tetapi pelanggan belum langsung melakukan pembayaran karena menggunakan sistem tempo atau kredit. Sistem pembayaran tempo memang bisa membantu meningkatkan penjualan. Pelanggan menjadi lebih mudah membeli barang atau menggunakan jasa tanpa harus membayar seluruh biaya di awal. Namun, penjualan yang besar belum tentu membuat kondisi keuangan perusahaan sehat. Bisa saja omzet terlihat tinggi, tetapi uang yang benar-benar masuk ke rekening perusahaan masih sedikit karena banyak invoice belum dibayar. Karena itu, piutang usaha tidak boleh hanya dianggap sebagai catatan pembukuan. Piutang perlu dikelola sebagai bagian dari strategi penjualan, pengaturan arus kas, dan perlindungan bisnis. Apa Itu Piutang Usaha? Piutang usaha adalah hak perusahaan untuk menerima pembayaran dari pelanggan atas barang atau jasa yang sudah diberikan. Piutang biasanya muncul dari transaksi penjualan dengan sistem kredit atau pembayaran bertempo. Dalam laporan keuangan, piutang usaha dicatat sebagai aset. Alasannya, perusahaan memiliki hak untuk menerima uang dari pelanggan pada waktu yang sudah disepakati. Piutang usaha memiliki beberapa fungsi penting bagi bisnis, yaitu: Meskipun begitu, pembayaran secara kredit tidak sebaiknya diberikan kepada semua pelanggan. Perusahaan perlu memeriksa kemampuan bayar pelanggan sebelum memberikan fasilitas tempo. Perusahaan juga perlu menentukan batas maksimal kredit, waktu pembayaran, dan dokumen yang wajib dilengkapi. Perbedaan Piutang Usaha dan Utang Dagang Piutang usaha adalah uang yang harus diterima perusahaan dari pelanggan. Sementara itu, utang dagang adalah uang yang harus dibayar perusahaan kepada pemasok atau pihak lain. Keduanya sama-sama muncul dari transaksi kredit, tetapi posisi perusahaan berbeda. Pada piutang usaha, perusahaan bertindak sebagai pihak yang menagih. Kalau utang dagang, perusahaan bertindak sebagai pihak yang memiliki kewajiban membayar. Berikut perbedaannya: Aspek Piutang Usaha Utang Dagang Pengertian Uang yang harus diterima perusahaan Uang yang harus dibayar perusahaan Pihak yang terlibat Pelanggan atau klien Pemasok atau vendor Posisi dalam laporan keuangan Aset Kewajiban Dampak pada arus kas Menjadi kas masuk Menjadi kas keluar Sumber transaksi Penjualan secara kredit Pembelian secara kredit Risiko utama Pelanggan terlambat atau gagal membayar Perusahaan terlambat membayar pemasok Contoh Piutang Usaha dalam Bisnis Piutang usaha dapat ditemukan dalam berbagai jenis bisnis, mulai dari usaha perdagangan, jasa, manufaktur, dan proyek. 1. Piutang pada Bisnis Distributor Sebuah distributor mengirim barang senilai Rp100 juta kepada toko ritel. Kedua pihak sepakat bahwa pembayaran dilakukan 30 hari setelah barang diterima. Selama toko belum membayar, distributor mencatat Rp100 juta tersebut sebagai piutang usaha. 2. Piutang pada Bisnis Jasa Sebuah agensi pemasaran digital menyelesaikan proyek promosi senilai Rp25 juta. Setelah pekerjaan selesai, agensi mengirim invoice dengan batas pembayaran 14 hari. Sebelum klien melakukan pembayaran, nilai Rp25 juta masih tercatat sebagai piutang. 3. Piutang pada Bisnis Manufaktur Sebuah pabrik tekstil menerima pesanan senilai Rp200 juta. Pelanggan membayar uang muka sebesar 30%, sedangkan sisanya dibayar 60 hari setelah barang dikirim. Setelah barang dikirim, sisa pembayaran tersebut menjadi piutang usaha pabrik. 4. Piutang pada Bisnis Konstruksi Sebuah kontraktor menyelesaikan pekerjaan sesuai tahap yang telah disepakati. Setelah hasil pekerjaan disetujui, kontraktor mengajukan tagihan kepada pemilik proyek. Selama tagihan belum dibayar, nilai tersebut menjadi piutang perusahaan kontraktor. Piutang tidak selalu berarti pelanggan bermasalah. Piutang masih tergolong normal jika pelanggan membayar sesuai waktu yang disepakati. Masalah mulai muncul ketika pembayaran terlambat, dokumen transaksi tidak lengkap, atau perusahaan tidak memiliki sistem penagihan yang jelas. Dampak Piutang Macet terhadap Arus Kas Piutang macet adalah tagihan yang sulit atau gagal dibayar pelanggan. Kondisi ini dapat mengganggu arus kas karena perusahaan sudah mencatat penjualan, tetapi uangnya belum benar-benar diterima. Sebagai contoh, perusahaan mencatat penjualan sebesar Rp500 juta. Namun, jika Rp300 juta masih belum dibayar pelanggan, perusahaan hanya memiliki sebagian uang tunai untuk menjalankan kegiatan usaha. Piutang macet dapat menimbulkan beberapa masalah, seperti: Karena itu, perusahaan perlu memantau umur setiap piutang. Salah satu cara yang umum digunakan adalah membuat daftar umur piutang atau aging schedule. Piutang dapat dikelompokkan menjadi: Semakin lama piutang tidak dibayar, semakin besar risiko tagihan tersebut sulit ditagih. Perusahaan juga dapat menggunakan Days Sales Outstanding atau DSO. DSO menunjukkan rata-rata waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk menerima pembayaran dari pelanggan. Rumus sederhananya adalah: DSO = Rata-rata Piutang Γ· Penjualan Kredit Γ Jumlah Hari Sebagai contoh, perusahaan memberikan waktu pembayaran 30 hari. Namun, hasil perhitungan menunjukkan bahwa pelanggan rata-rata baru membayar setelah 55 hari. Artinya, terdapat keterlambatan rata-rata selama 25 hari. Selama waktu tersebut, uang perusahaan masih tertahan di pelanggan. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2024 juga sering dikaitkan dengan penghapusan piutang macet. Namun, aturan tersebut tidak berlaku untuk seluruh piutang dagang antarperusahaan. PP Nomor 47 Tahun 2024 mengatur penghapusan piutang macet tertentu milik UMKM kepada bank atau lembaga keuangan milik negara. Penerapannya memiliki syarat dan batasan tertentu. Karena itu, perusahaan tidak dapat langsung menghapus tagihan pelanggan dengan menggunakan aturan tersebut. Cara Mencegah Piutang Macet Piutang macet dapat dikurangi jika perusahaan memiliki aturan kredit dan sistem penagihan yang jelas. Pencegahan sebaiknya dilakukan sebelum transaksi, bukan setelah pelanggan berhenti membayar. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah: Perusahaan juga sebaiknya tidak menyerahkan seluruh keputusan kredit kepada tim penjualan. Tim penjualan biasanya berfokus mengejar omzet, sedangkan tim keuangan perlu menjaga arus kas dan risiko pembayaran. Karena itu, pemberian kredit sebaiknya mendapatkan persetujuan dari pihak yang berwenang di bagian keuangan atau manajemen. Piutang Usaha Masuk Debit atau Kredit? Piutang usaha memiliki saldo normal di sisi debit karena termasuk aset perusahaan. Ketika penjualan kredit terjadi, jumlah piutang bertambah di sisi debit. Ketika pelanggan melakukan pembayaran, saldo piutang berkurang di sisi kredit. Pada waktu yang sama, saldo kas bertambah di sisi debit. Contoh pencatatannya sebagai berikut: Transaksi Debit Kredit Penjualan kredit Rp10 juta Piutang Usaha Rp10 juta Pendapatan Rp10 juta Pelanggan membayar Rp10 juta Kas Rp10 juta Piutang Usaha Rp10 juta Pencatatan yang rapi membantu perusahaan mengetahui: Perusahaan sebaiknya memiliki catatan piutang untuk setiap pelanggan. Dengan begitu, bagian keuangan dapat mengetahui tagihan mana yang sudah dibayar dan tagihan mana yang masih harus ditagih. Tanpa pencatatan yang baik, perusahaan dapat kehilangan informasi penting. Masalah tersebut juga dapat memicu salah tagih, perbedaan saldo, atau sengketa dengan pelanggan. Dokumen Legal untuk Melindungi Piutang Piutang yang memiliki dokumen lengkap lebih mudah ditagih daripada piutang yang hanya berdasarkan percakapan lisan atau








