Pemerintah punya harapan besar agar UMKM naik kelas dan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, namun kenyataan di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda.
Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa UMKM menyumbang sekitar 61% dari PDB Indonesia dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja nasional, tapi angka besar ini tidak berarti kualitas dan daya saing para pelakunya ikut meningkat.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM yang dikutip Kemenko Perekonomian, terdapat sekitar 65,5 juta unit UMKM di Indonesia, namun hanya sebagian kecil yang berhasil bertumbuh menjadi usaha menengah ke atas.
Data DPR RI tahun 2023 mencatat baru sekitar 27 juta UMKM yang bergabung dalam ekosistem digital, artinya masih lebih dari separuh pelaku UMKM Indonesia belum tersentuh digitalisasi sama sekali.
Kondisi ini terjadi karena banyak masalah struktural, budaya, dan sistem yang terus menghambat mereka.
Selama masalah-masalah ini tidak ditangani secara serius dan menyeluruh, slogan “UMKM naik kelas” akan terus hanya menjadi wacana yang tidak pernah benar-benar terwujud.
Lalu, apa saja hambatan nyata yang membuat UMKM Indonesia sulit berkembang? Mari kita bahas satu per satu.
10 Tantangan yang Menghambat UMKM Sulit Berkembang
Perjalanan UMKM untuk naik kelas bukan soal modal atau produk yang bagus saja.
Ada lapisan masalah yang jauh lebih dalam dan saling berkaitan, mulai dari cara berpikir pelaku usaha hingga sulitnya mereka mengakses ekosistem bisnis yang lebih luas.
Berikut adalah sepuluh tantangan utama yang paling sering menghambat pertumbuhan UMKM di Indonesia.
1. Keterbatasan Akses Permodalan
Modal adalah kebutuhan dasar sebuah usaha, dan ini paling sering menjadi penghalang pertama bagi pelaku UMKM.
Banyak pelaku UMKM yang tidak memiliki aset tetap yang cukup untuk dijadikan jaminan saat mengajukan pinjaman ke bank.
Proses pengajuan kredit yang panjang dan berbelit pun kerap membuat mereka menyerah sebelum prosesnya selesai.
Pada akhirnya, tidak sedikit yang mengandalkan pinjaman dari rentenir atau pinjaman informal dengan bunga jauh lebih tinggi.
Ini justru semakin membebani operasional usaha mereka. Kondisi ini terus berulang dan sulit dihentikan tanpa ada perubahan sistem yang nyata dari berbagai pihak.
2. Lemahnya Manajemen Keuangan
Sebagian besar pelaku UMKM di Indonesia masih mencampur uang pribadi dengan uang bisnis dalam satu rekening yang sama.
Tidak adanya catatan keuangan yang rapi membuat mereka sulit mengetahui apakah usahanya benar-benar menghasilkan keuntungan atau hanya terlihat untung di permukaan.
Kondisi ini juga membuat mereka tidak bisa menyajikan laporan keuangan yang memadai saat ingin mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan formal.
Tanpa data keuangan yang akurat, setiap keputusan bisnis pun menjadi serba tidak terukur dan penuh risiko.
Penelitian Aribawa (2016) yang dipublikasikan dalam Jurnal Siasat Bisnis Universitas Gadjah Mada mengkonfirmasi bahwa literasi keuangan yang lemah secara signifikan memengaruhi kinerja dan keberlangsungan UMKM kreatif di Jawa Tengah, dan temuan ini relevan untuk menggambarkan kondisi UMKM Indonesia secara lebih luas (Aribawa, 2016).
3. Minimnya Kemampuan Digital dan Teknologi
Di era serba digital ini, ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan teknologi bisa menjadi kelemahan serius bagi sebuah usaha.
Banyak pelaku UMKM yang masih enggan atau tidak tahu cara memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk mereka.
Bahkan untuk sekadar membuat akun media sosial bisnis yang terlihat profesional pun masih menjadi tantangan bagi sebagian besar dari mereka.
Padahal, konsumen zaman sekarang sangat bergantung pada pencarian digital sebelum memutuskan membeli sesuatu. Tanpa kehadiran di dunia digital, UMKM akan semakin tertinggal dan kehilangan pasar yang sebenarnya sudah terbuka di depan mereka.
4. Ketidakmampuan Bersaing dengan Produk Impor dan E-Commerce Asing
Gempuran produk impor murah, terutama dari China, sudah menjadi ancaman nyata bagi banyak UMKM lokal.
Produk-produk tersebut hadir dengan harga jauh lebih murah namun dengan tampilan yang tidak kalah menarik, sehingga konsumen yang sensitif terhadap harga cenderung memilihnya.
Platform e-commerce lintas batas yang semakin mudah diakses memperparah kondisi ini karena UMKM lokal harus bersaing di arena yang sama sekali tidak setara.
Banyak pengusaha kecil yang akhirnya memilih menyerah dan menutup usahanya daripada terus berjuang dalam kondisi yang merugikan.
Tanpa kebijakan perlindungan yang lebih tegas dan ekosistem yang mendukung, UMKM lokal akan terus tergerus oleh persaingan global yang tidak seimbang ini.
5. Tidak Adanya Legalitas dan Izin Usaha yang Resmi
Masih banyak pelaku UMKM yang menjalankan usahanya tanpa legalitas yang jelas karena dianggap rumit, mahal, dan tidak diperlukan.
Padahal, ketiadaan legalitas ini justru menjadi penghalang besar saat mereka ingin mengakses pembiayaan formal, mengikuti tender pemerintah, atau menjalin kerja sama dengan perusahaan besar.
Tanpa badan hukum yang sah, kepercayaan dari mitra bisnis dan pelanggan korporat pun sulit dibangun dari awal.
Usaha yang tidak berbadan hukum juga rentan terhadap sengketa dan tidak mendapat perlindungan hukum yang memadai ketika masalah datang.
Ketidakpahaman tentang manfaat legalitas usaha ini menciptakan jebakan informalitas yang terus membatasi ruang gerak dan potensi pertumbuhan UMKM.
6. Kualitas SDM yang Belum Memadai
Kemampuan orang-orang di balik sebuah UMKM sangat menentukan seberapa jauh usaha tersebut bisa berkembang.
Banyak pelaku UMKM yang tidak memiliki latar belakang pendidikan bisnis atau manajemen yang cukup sehingga menjalankan usaha secara coba-coba tanpa strategi yang jelas.
Mereka juga sering kesulitan merekrut dan mempertahankan karyawan berkualitas karena tidak mampu menawarkan gaji yang bersaing.
Minimnya kemampuan memimpin dan mengelola tim juga membuat banyak UMKM tidak siap ketika usahanya mulai tumbuh dan membutuhkan sistem yang lebih terorganisir.
Pakar manajemen dan guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menegaskan bahwa salah satu hambatan terbesar UMKM Indonesia adalah pola pikir “pedagang” yang belum berubah menjadi pola pikir “pengusaha”, sebuah pergeseran cara berpikir yang sangat penting namun sering diabaikan (Kasali, Disruption, Gramedia Pustaka Utama, 2017).
7. Lemahnya Strategi Pemasaran
Produk yang bagus tidak akan menghasilkan penjualan yang optimal kalau tidak didukung oleh cara pemasaran yang tepat.
Sebagian besar UMKM hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan tidak punya anggaran khusus untuk kegiatan pemasaran.
Mereka tidak memahami konsep membangun merek, menentukan target pasar, dan memposisikan produk sehingga usaha mereka terlihat tidak berbeda dari ribuan pesaing lainnya.
Tidak mampunya menyusun strategi pemasaran yang terstruktur membuat pertumbuhan penjualan jadi stagnan dan hanya bergantung pada pelanggan lama. Akibatnya, UMKM sulit memperluas jangkauan pasar dan terus terkurung dalam lingkaran bisnis yang sempit.
8. Infrastruktur dan Akses Pasar yang Terbatas
Bagi UMKM yang berada di luar Pulau Jawa atau di daerah terpencil, keterbatasan infrastruktur pengiriman barang menjadi penghalang serius untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Biaya kirim yang tinggi membuat harga jual produk menjadi tidak kompetitif di pasar nasional, apalagi pasar internasional.
Keterbatasan akses internet yang stabil juga menjadi kendala tersendiri bagi mereka yang ingin mulai berjualan secara online.
Kondisi ini menciptakan jurang yang dalam antara UMKM di perkotaan dengan UMKM di daerah terpencil dalam hal kemudahan mengakses pasar dan peluang pertumbuhan bisnis.
Selama ketimpangan infrastruktur ini belum diatasi, pemerataan pertumbuhan UMKM secara nasional akan terus menjadi pekerjaan rumah yang berat.
9. Kurangnya Inovasi Produk dan Layanan
Banyak UMKM Indonesia terjebak di zona nyaman dengan menjual produk yang sama bertahun-tahun tanpa ada pembaruan yang berarti.
Tidak adanya inovasi membuat produk mereka kehilangan daya tarik di tengah perubahan selera konsumen yang terus bergerak. Inovasi di sini mencakup banyak hal.
Mulai dari memperbaiki kemasan, meningkatkan kualitas layanan, hingga mencari model bisnis yang lebih hemat dan efektif.
Sayangnya, keterbatasan pengetahuan, waktu, dan sumber daya membuat inovasi sering kali menjadi hal terakhir yang dipikirkan oleh pelaku UMKM. Tanpa pembaruan yang konsisten, UMKM akan semakin sulit mempertahankan posisinya di pasar yang terus berubah dan makin kompetitif.
10. Ketergantungan pada Satu Saluran Penjualan
Menggantungkan semua penjualan pada satu platform atau satu jalur distribusi adalah strategi yang penuh risiko.
Ketika satu saluran terganggu, misalnya perubahan algoritma marketplace, penutupan platform, atau perubahan kebijakan mitra distributor, seluruh bisnis langsung ikut terdampak.
Membuka beragam saluran penjualan membutuhkan kemampuan pengelolaan dan sumber daya yang tidak semua UMKM miliki.
Akibatnya, banyak UMKM yang tidak siap menghadapi guncangan dari luar dan akhirnya kolaps ketika satu andalan mereka bermasalah.
Ketergantungan ini menunjukkan betapa rapuhnya pondasi bisnis sebagian besar UMKM Indonesia yang perlu segera diperkuat.
Cara Mengembangkan UMKM dan Meningkatkan Omsetnya
Meski tantangannya berat, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Setiap hambatan yang sudah disebutkan di atas sebenarnya punya solusi nyata yang bisa dijalankan secara bertahap.
Dibutuhkan komitmen, strategi yang tepat, dan kemauan untuk keluar dari zona nyaman agar UMKM benar-benar bisa naik level dan meningkatkan omset secara signifikan.
Berikut adalah delapan langkah strategis yang bisa mulai kamu jalankan.
1. Mengurus Legalitas Usaha untuk Keperluan Bisnis
Langkah pertama dan paling mendasar dalam membangun bisnis yang serius adalah memastikan usaha kamu sudah punya legalitas yang sah secara hukum.
Di Indonesia, kamu bisa memilih beberapa bentuk badan usaha sesuai kebutuhan dan skala bisnis, antara lain PT Umum, CV, atau PT Perorangan yang cocok untuk usaha skala kecil menengah.
PT Umum dan CV akan mendapatkan dokumen berupa Akta Pendirian atau Akta Notaris serta Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Hukum dan HAM sebagai bukti legalitas resmi.
Sementara itu, PT Perorangan yang diatur dalam UU Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 akan mendapatkan Akta Penegasan dan SK Kemenkumham dengan proses yang lebih simpel dan biaya yang lebih terjangkau.
Dokumen legalitas ini punya banyak fungsi penting.
Seperti membuka rekening bank atas nama perusahaan, mengajukan pinjaman modal usaha ke lembaga keuangan, mengikuti tender pemerintah maupun swasta, menjalin kerja sama B2B dengan perusahaan besar, hingga mendaftarkan merek dagang kamu secara resmi.
Dengan legalitas yang lengkap, kepercayaan dari mitra bisnis, investor, dan pelanggan korporat akan jauh lebih mudah kamu dapatkan.
Mengurus legalitas usaha adalah investasi jangka panjang yang membuka pintu ke peluang bisnis yang jauh lebih besar ke depannya.
2. Manajemen Operasional agar SOP Kerja Lebih Efisien
Bisnis yang sedang tumbuh tidak bisa terus berjalan hanya berdasarkan kebiasaan dan perkiraan saja, ia membutuhkan sistem kerja yang terstruktur dan bisa dijalankan oleh siapa saja.
Standard Operating Procedure (SOP) adalah kunci untuk memastikan setiap proses dalam bisnis kamu berjalan secara konsisten, efisien, dan tidak bergantung pada satu orang tertentu saja.
Mulailah dengan menuliskan setiap alur kerja penting secara terperinci, mulai dari proses produksi, pengemasan, pelayanan pelanggan, hingga penanganan komplain, dalam bentuk dokumen yang mudah dipahami oleh siapa saja.
Dengan SOP yang jelas, kamu bisa melatih karyawan baru lebih cepat, menekan kesalahan operasional, dan tidak harus terlibat di setiap detail teknis bisnis setiap harinya.
Gunakan alat bantu manajemen proyek seperti Trello, Asana, atau Notion untuk memantau pekerjaan tim dan memastikan semua berjalan sesuai rencana yang sudah ditetapkan.
Evaluasi SOP secara rutin, setidaknya setiap tiga bulan, untuk menemukan bagian mana yang bisa diperbaiki atau disederhanakan demi hasil yang lebih efisien.
Bisnis yang punya sistem operasional yang kuat adalah bisnis yang siap tumbuh ke skala lebih besar tanpa kekacauan di dalamnya.
3. Manajemen Keuangan agar Bisnis Sehat
Kesehatan keuangan adalah pondasi keberlangsungan sebuah bisnis, dan semuanya dimulai dari disiplin dalam mengelola uang sejak awal usaha berdiri.
Hal pertama yang wajib dilakukan adalah memisahkan rekening pribadi dengan rekening bisnis, ini bukan sekadar saran, melainkan langkah wajib yang tidak boleh dilewatkan.
Buat pencatatan pemasukan dan pengeluaran secara rutin, idealnya setiap hari, menggunakan aplikasi keuangan seperti BukuWarung, Jurnal.id, atau bahkan Google Sheets sederhana jika belum mampu membeli software berbayar.
Pahami tiga laporan keuangan dasar: laporan laba rugi untuk mengetahui apakah bisnis untung, neraca untuk melihat kondisi aset dan utang, serta laporan arus kas untuk memastikan bisnis tidak kehabisan uang tunai di tengah jalan.
Tentukan harga jual berdasarkan perhitungan biaya produksi yang akurat, bukan hanya mengikuti harga kompetitor, agar margin keuntungan kamu tetap terjaga setiap saat.
Sisihkan minimal 10 hingga 15 persen dari pendapatan untuk dana darurat bisnis dan reinvestasi agar usaha bisa terus berkembang tanpa harus selalu mengandalkan pinjaman dari luar.
Dengan pengelolaan keuangan yang sehat, kamu juga bisa membangun kepercayaan di mata bank dan investor ketika kamu membutuhkan akses permodalan suatu saat nanti.
4. Branding Usaha agar Jadi Lebih Profesional
Membangun merek usaha adalah tentang bagaimana bisnis kamu dikenal dan diingat oleh pasar, serta apa yang membedakan kamu dari ribuan pesaing lainnya.
Mulailah dengan menentukan identitas merek kamu secara jelas. Siapa target pelanggan kamu, apa keunggulan utama yang kamu tawarkan, dan bagaimana gaya komunikasi bisnis kamu ingin terdengar di telinga pelanggan.
Investasikan pada tampilan visual yang konsisten dan terlihat profesional, mulai dari logo, warna utama, jenis huruf, hingga template konten media sosial yang seragam, karena semua ini akan menciptakan kesan bisnis yang serius dan layak dipercaya.
Pastikan setiap titik pertemuan pelanggan dengan bisnis kamu, dari kemasan produk, tampilan akun media sosial, hingga cara kamu membalas pesan WhatsApp, mencerminkan identitas merek yang sama dan konsisten.
Bangun cerita yang jujur di balik bisnis kamu karena konsumen zaman sekarang tidak hanya membeli produk, mereka juga peduli pada nilai dan cerita yang ada di balik produk yang mereka beli.
Konsistensi adalah hal terpenting dalam membangun merek, tampilkan identitas yang sama di semua platform dan saluran komunikasi tanpa pengecualian.
Merek yang kuat adalah aset bisnis jangka panjang yang nilainya akan terus bertumbuh seiring perkembangan usaha kamu.
5. Digital Marketing untuk Meningkatkan Penjualan
Di era digital ini, tidak memanfaatkan pemasaran digital sama artinya dengan membiarkan banyak peluang penjualan berlalu begitu saja setiap harinya.
Kuasai minimal dua hingga tiga platform pemasaran digital yang paling sesuai dengan target pasar kamu.
Contohnya Instagram dan TikTok untuk produk konsumer, hingga LinkedIn dan Google untuk segmen B2B.
Manfaatkan platform iklan berbayar seperti Meta Ads untuk Facebook dan Instagram guna menjangkau calon pembeli berdasarkan demografi, minat, dan kebiasaan mereka; gunakan Google Ads untuk menangkap konsumen yang sudah aktif mencari produk kamu di mesin pencari; dan coba TikTok Ads yang saat ini menawarkan biaya per klik lebih rendah dengan jangkauan organik yang masih sangat tinggi.
Pelajari dasar-dasar SEO atau Search Engine Optimization agar produk atau toko online kamu bisa muncul di halaman pertama Google ketika calon pelanggan mencari kata kunci yang relevan dengan bisnismu.
Buat konten yang benar-benar berguna bagi audiens kamu, seperti tutorial, proses di balik layar, ulasan pelanggan, atau tips yang relevan dengan bidang bisnis kamu, bukan hanya konten promosi yang membosankan.
Ukur setiap kampanye digital kamu menggunakan data dan analitik yang tersedia di masing-masing platform agar kamu bisa terus mengoptimalkan anggaran iklan dan meningkatkan hasil yang didapat.
Dengan strategi pemasaran digital yang terencana dan berbasis data, omset bisnis kamu bisa meningkat secara signifikan tanpa harus mengeluarkan biaya pemasaran yang terlalu besar.
6. Mendapatkan Akses Pembiayaan
Modal yang cukup adalah bahan bakar untuk mempercepat pertumbuhan bisnis, dan UMKM kini punya lebih banyak pilihan sumber pembiayaan dibandingkan sebelumnya.
Mulailah dengan membangun rekam jejak kredit yang baik, pastikan semua tagihan bisnis dan pribadi kamu selalu dibayar tepat waktu karena ini akan memengaruhi penilaian kreditmu di mata lembaga keuangan.
Manfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disediakan pemerintah dengan bunga rendah dan syarat yang lebih mudah dibandingkan kredit komersial biasa yang ada di pasaran.
Pertimbangkan juga platform pinjaman berbasis teknologi atau fintech lending yang kini semakin banyak menawarkan modal usaha dengan proses yang cepat dan sepenuhnya bisa dilakukan secara digital.
Jika bisnis kamu sudah punya legalitas dan laporan keuangan yang rapi, peluang untuk mendapatkan pembiayaan dari bank konvensional atau BPR pun akan semakin terbuka lebar.
Jangan lewatkan program hibah dan pendanaan dari pemerintah daerah, BUMN, maupun lembaga internasional yang secara rutin membuka program dukungan khusus bagi UMKM.
Ingat bahwa pembiayaan yang baik adalah pembiayaan yang digunakan untuk kegiatan produktif dan sudah punya rencana pengembalian yang jelas, bukan untuk menutup biaya operasional yang sebenarnya bisa dihemat.
7. Bergabung Komunitas Pengusaha
Lingkungan pergaulan sangat menentukan seberapa jauh wawasan dan cara berpikir bisnis kamu bisa berkembang.
Selain itu, komunitas pengusaha merupakan salah satu pilihan terbaik yang bisa kamu ambil tanpa biaya besar.
Ada dua jenis komunitas yang idealnya kamu masuki.
Pertama adalah komunitas yang spesifik sesuai lini bisnis kamu, misalnya komunitas pengusaha kuliner, komunitas pengusaha fashion lokal, atau komunitas pebisnis properti.
Di sini, kamu bisa mendapatkan informasi industri yang sangat relevan, peluang kolaborasi, dan belajar langsung dari sesama pemain di bidang yang sama.
Kedua, komunitas pengusaha secara umum seperti BNI Xpora, komunitas Tangan Di Atas, atau berbagai komunitas wirausaha lokal di kotamu.
Dengan begitu, kamu bisa memperluas jaringan lintas industri dan mendapatkan sudut pandang bisnis yang lebih beragam.
Di dalam komunitas ini, kamu bisa menemukan mentor berpengalaman yang mau berbagi ilmu, mitra bisnis potensial, referral pelanggan, hingga informasi program pemerintah yang tidak selalu mudah ditemukan sendiri.
Aktiflah berpartisipasi dalam diskusi, webinar, dan acara komunitas karena menjadi anggota pasif yang hanya menerima tanpa berkontribusi tidak akan memberimu banyak manfaat.
Bangun hubungan yang tulus dan saling menguntungkan, bukan jaringan yang hanya dipakai saat butuh sesuatu saja.
Komunitas yang tepat bisa menjadi faktor yang mempercepat pertumbuhan bisnis kamu sekaligus menjaga semangat kewirausahaan kamu tetap hidup di tengah berbagai rintangan.
8. Mengikuti dan Memanfaatkan Teknologi Terbaru
Pelaku UMKM yang ingin tetap relevan dan terus berkembang di era ini perlu menjadikan teknologi sebagai bagian dari strategi bisnis mereka sehari-hari.
Salah satu teknologi yang paling berpengaruh dan wajib dimanfaatkan saat ini adalah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), yang kini sudah bisa diakses secara gratis atau dengan biaya yang sangat terjangkau oleh siapa saja.
Untuk keperluan konten dan penulisan teks promosi, kamu bisa memanfaatkan ChatGPT atau Claude untuk membuat caption media sosial, artikel blog, skrip video, hingga template email marketing hanya dalam beberapa menit saja.
Untuk kebutuhan desain visual, Canva AI dan Adobe Firefly bisa membantu kamu membuat konten grafis yang terlihat profesional meski tanpa latar belakang ilmu desain sama sekali.
Untuk melayani pelanggan, kamu bisa mengintegrasikan chatbot berbasis AI ke WhatsApp Business atau website kamu agar pertanyaan pelanggan bisa dijawab otomatis selama 24 jam penuh tanpa perlu menambah karyawan baru.
Untuk keperluan analisis bisnis dan riset pasar, alat seperti Google Analytics, Meta Business Suite, dan berbagai platform analitik berbasis AI bisa membantu kamu memahami perilaku konsumen dan mengambil keputusan bisnis berdasarkan data yang nyata.
Dengan menggunakan teknologi AI secara strategis, UMKM bisa menekan biaya operasional, meningkatkan produktivitas tim, dan bersaing lebih efektif melawan pemain yang lebih besar di pasar.

Kesimpulan
UMKM Indonesia menghadapi tantangan yang kompleks dan berlapis, mulai dari lemahnya pengelolaan keuangan, rendahnya tingkat digitalisasi, tidak adanya legalitas usaha, hingga sulitnya mengakses permodalan yang membuat sebagian besar dari mereka sulit keluar dari jebakan skala kecil dan informalitas.
Data dari Kemenko Perekonomian dan berbagai penelitian akademik sudah memperlihatkan bahwa meski jumlah UMKM sangat besar, kualitas dan daya saing mereka secara umum masih jauh dari cukup untuk bisa bersaing di level yang lebih tinggi.
Namun, setiap tantangan itu sebenarnya punya solusi yang bisa dijalankan secara bertahap, mulai dari mengurus legalitas usaha, membangun sistem keuangan yang sehat, hingga memanfaatkan digital marketing dan teknologi AI untuk efisiensi operasional sehari-hari.
Kunci terpentingnya ada pada perubahan cara berpikir, dari sekadar berjualan menjadi membangun bisnis yang sistematis, terukur, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang.
Bergabung dalam komunitas pengusaha, terus belajar, dan tidak takut mengadopsi teknologi baru adalah tiga hal yang akan mempercepat perjalanan UMKM menuju level berikutnya.
Pada akhirnya, naik kelas bukan sesuatu yang bisa terjadi secara instan atau hanya karena menunggu dukungan dari pemerintah, melainkan hasil dari kerja keras, strategi yang tepat, dan konsistensi yang dijalankan setiap hari oleh pelaku usahanya sendiri.
Jika delapan langkah dalam artikel ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, UMKM kamu punya peluang nyata untuk menjadi salah satu yang berhasil membuktikan bahwa naik kelas itu memang bisa dilakukan.
Referensi:
- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI. (2023). Dorong UMKM Naik Kelas dan Go Export, Pemerintah Siapkan Ekosistem Pembiayaan yang Terintegrasi. Diakses dari https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/5318/dorong-umkm-naik-kelas-dan-go-export-pemerintah-siapkan-ekosistem-pembiayaan-yang-terintegrasi
- Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. (2023). Data UMKM Indonesia. Diakses dari https://kemenkopukm.go.id
- Pusat Kajian Anggaran DPR RI. (2023). Digitalisasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Info Singkat Vol. XV No. 24, Desember 2023. Diakses dari https://berkas.dpr.go.id/pusaka/files/info_singkat/Info%20Singkat-XV-24-II-P3DI-Desember-2023-241.pdf
- Aribawa, D. (2016). Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Kinerja dan Keberlangsungan UMKM di Jawa Tengah. Jurnal Siasat Bisnis, 20(1). Universitas Gadjah Mada. Diakses dari https://www.researchgate.net/publication/301280784
- Kasali, R. (2017). Disruption: Tak Ada yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi, Motivasi Saja Tidak Cukup. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN: 9786020338682.
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Pemerintah Republik Indonesia. Diakses dari https://jdih.setkab.go.id
- Bank Indonesia. (2022). Kajian Pengembangan UMKM dan Korporasi: Akses Pembiayaan UMKM Indonesia. Jakarta: Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen BI. Diakses dari https://www.bi.go.id
- Google, Temasek, & Bain & Company. (2023). e-Conomy SEA 2023: Reaching New Heights — Navigating the Path to Profitable Growth. Diakses dari https://www.bain.com/insights/e-conomy-sea-2023/








