Cara menghitung ROI adalah keterampilan dasar yang wajib dikuasai siapa pun yang menaruh uang di bisnis, properti, atau instrumen investasi. Tanpa hitungan ini, kamu hanya menebak apakah sebuah keputusan menguntungkan atau tidak.
Sebagai praktisi hukum yang kerap mendampingi pelaku usaha dan investor, saya sering melihat orang tergiur janji untung besar tanpa menghitung apa pun. Padahal, satu rumus sederhana bisa membantu menyaring tawaran yang masuk akal dari yang mencurigakan.
Singkatnya, ROI atau return on investment mengukur seberapa besar keuntungan bersih dibanding modal yang ditanam. Hasilnya dinyatakan dalam persen sehingga mudah dibandingkan.
Nah, di artikel ini kita bahas rumus, contoh hitungan, cara menafsirkan hasil, dan sisi hukumnya. Kamu juga akan tahu kesalahan yang sering membuat ROI tampak lebih bagus dari kenyataan.
Pengertian ROI dan Mengapa Penting bagi Bisnis
ROI adalah singkatan dari Return on Investment. Artinya tingkat pengembalian atas investasi yang sudah dikeluarkan.
Angka ini menjawab satu pertanyaan sederhana. Untuk setiap rupiah yang ditanam, berapa rupiah keuntungan bersih yang kembali?
ROI dipakai di banyak situasi. Pemilik usaha memakainya untuk menilai mesin baru, kampanye iklan, atau pembukaan cabang.
Investor memakainya untuk membandingkan properti, saham, dan usaha patungan. Manajer keuangan memakainya untuk memilih proyek mana yang layak didanai lebih dulu.
Keunggulan ROI ada pada kesederhanaannya. Hitungannya cepat dan hasilnya mudah dipahami semua pihak.
Menurut saya, ROI paling berguna sebagai alat saring awal. Ia belum cukup untuk memutuskan, tapi sangat membantu menyingkirkan pilihan yang jelas tidak masuk akal.

Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS!
Rumus Cara Menghitung ROI
Rumus dasarnya pendek. Namun, kamu perlu cermat menentukan angka mana yang masuk ke dalamnya.
Rumus Dasar ROI
Rumusnya sebagai berikut:
ROI = (Keuntungan Bersih ÷ Biaya Investasi) × 100%
Keuntungan bersih adalah hasil investasi dikurangi semua biaya yang timbul. Biaya investasi adalah total uang yang kamu keluarkan untuk memperoleh hasil itu.
Rumus lain yang setara memakai nilai akhir:
ROI = ((Nilai Akhir − Biaya Investasi) ÷ Biaya Investasi) × 100%
Kedua rumus menghasilkan angka yang sama. Pilih yang paling cocok dengan data yang kamu punya.
Langkah Menghitungnya
Ikuti urutan berikut agar hasilnya akurat:
- Kumpulkan seluruh biaya investasi, termasuk biaya tambahan seperti ongkos, perizinan, dan administrasi.
- Tentukan total hasil yang diterima dalam periode yang kamu ukur.
- Kurangi hasil dengan seluruh biaya untuk mendapat keuntungan bersih.
- Bagi keuntungan bersih dengan biaya investasi.
- Kalikan dengan 100 untuk memperoleh persen.
Tentukan juga periode pengukuran. ROI satu tahun tidak bisa langsung dibandingkan dengan ROI lima tahun.
ROI Tahunan atau Annualized ROI
Ketika periode investasi berbeda, ubah hasilnya menjadi ROI per tahun. Rumus yang umum dipakai adalah:
ROI Tahunan = ((1 + ROI)^(1 ÷ jumlah tahun) − 1) × 100%
Misalnya, ROI total 30 persen diperoleh dalam dua tahun. Hitungannya, 1,30 dipangkatkan setengah menghasilkan sekitar 1,1402.
Setelah dikurangi 1, ROI tahunannya sekitar 14,02 persen. Angka ini lebih adil untuk dibandingkan dengan investasi lain.
Contoh Cara Menghitung ROI
Contoh akan membuat rumus terasa nyata. Semua angka berikut fiktif.
Contoh ROI Usaha
Rina membuka usaha kopi dengan modal Rp100.000.000. Setelah setahun, setelah semua biaya operasional dibayar, keuntungan bersihnya Rp25.000.000.
Hitungannya:
- Keuntungan bersih: Rp25.000.000.
- Biaya investasi: Rp100.000.000.
- ROI = 25.000.000 ÷ 100.000.000 × 100% = 25 persen.
Artinya, setiap Rp1 yang ditanam menghasilkan Rp0,25 keuntungan bersih dalam setahun.
Contoh ROI Properti
Budi membeli sebidang tanah seharga Rp500.000.000. Biaya pembelian seperti BPHTB dan notaris sebesar Rp30.000.000.
Dua tahun kemudian, ia menjual tanah itu Rp600.000.000. Dalam penjualan, ia membayar PPh final sebesar 2,5 persen dari nilai jual, yaitu Rp15.000.000.
Hitungannya:
- Total biaya investasi: Rp500.000.000 + Rp30.000.000 = Rp530.000.000.
- Keuntungan bersih: Rp600.000.000 − Rp15.000.000 − Rp530.000.000 = Rp55.000.000.
- ROI = 55.000.000 ÷ 530.000.000 × 100% = sekitar 10,38 persen.
Dalam dua tahun, ROI tahunannya sekitar 5,06 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibanding ROI kotor yang terlihat dari selisih harga saja.
Tarif pajak dan komponen biaya dapat berbeda sesuai jenis objek dan ketentuan terbaru. Cek peraturan yang berlaku sebelum menghitung.
Contoh ROI Iklan
Toko daring mengeluarkan Rp10.000.000 untuk iklan sebulan. Iklan itu menghasilkan penjualan Rp40.000.000 dengan margin laba kotor 40 persen.
Hitungannya:
- Laba kotor dari penjualan: Rp40.000.000 × 40% = Rp16.000.000.
- Keuntungan bersih dari iklan: Rp16.000.000 − Rp10.000.000 = Rp6.000.000.
- ROI = 6.000.000 ÷ 10.000.000 × 100% = 60 persen.
Bandingkan dengan ROAS, yaitu penjualan dibagi biaya iklan. Hasilnya Rp40.000.000 ÷ Rp10.000.000 sama dengan 4 kali.
ROAS terlihat bagus, tetapi tidak memperhitungkan margin. ROI lebih jujur karena memakai keuntungan, bukan omzet.
Cara Menafsirkan Hasil ROI dan Keterbatasannya
Angka ROI baru bermakna bila ditafsirkan dengan benar. Beberapa hal perlu kamu pertimbangkan.
ROI positif berarti investasi menghasilkan keuntungan. ROI negatif berarti kamu merugi.
Tidak ada angka ROI yang baik untuk semua kondisi. Standar yang wajar berbeda antara usaha kuliner, properti, dan pasar modal.
Bandingkan hasilmu dengan alternatif lain. Misalnya, jika deposito atau obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil tertentu dengan risiko rendah, usaha yang berisiko tinggi harus menawarkan ROI yang jauh lebih besar.
ROI juga punya beberapa keterbatasan:
- ROI tidak memperhitungkan waktu, sehingga 20 persen dalam setahun dan 20 persen dalam lima tahun tampak sama.
- ROI tidak menggambarkan risiko investasi.
- ROI sangat bergantung pada komponen biaya yang dimasukkan.
- ROI tidak memperhitungkan nilai waktu uang atau inflasi.
Karena itu, lengkapi ROI dengan ukuran lain. Pelaku usaha sering memakai payback period, net present value, dan internal rate of return untuk keputusan besar.
Menurut pengalaman saya, kesalahan paling sering adalah menghilangkan biaya tersembunyi. Ongkos perizinan, perawatan, dan waktu kerja pemilik jarang masuk hitungan, padahal nyata.
ROI, Pajak, dan Aspek Hukum Investasi
ROI yang kamu hitung belum tentu sama dengan yang kamu terima. Pajak dan biaya hukum bisa menggeser hasilnya.
Penghasilan dari investasi umumnya dikenai pajak menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan. Jenis pajak dan tarifnya bergantung pada sumber penghasilan, seperti bunga, dividen, sewa, atau penjualan aset.
Karena itu, hitung ROI sebelum dan sesudah pajak. ROI setelah pajak menggambarkan hasil yang benar-benar tersisa.
Dari sisi hukum, perhatikan legalitas pihak yang menawarkan investasi. Penawaran investasi di sektor keuangan harus berasal dari pihak yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan.
Janji ROI tetap dan tinggi dalam waktu singkat adalah tanda bahaya. Skema seperti ini sering berujung penipuan atau investasi ilegal.
Berikut hal yang perlu kamu cek sebelum menaruh uang:
- Izin usaha pihak yang menawarkan investasi.
- Apakah produk atau entitasnya terdaftar di OJK atau instansi terkait.
- Kejelasan perjanjian, termasuk risiko, jangka waktu, dan cara penarikan dana.
- Apakah imbal hasil yang dijanjikan masuk akal dibanding pasar.
- Rekam jejak dan laporan keuangan pihak penerima dana.
Kamu bisa menghubungi layanan konsumen OJK atau memeriksa daftar entitas legal di situs resminya. Laporkan penawaran yang mencurigakan agar kerugian tidak meluas.
Untuk investasi berbasis perjanjian, seperti patungan usaha, tuangkan kesepakatan secara tertulis. Perjanjian yang rinci memudahkan penagihan bila terjadi wanprestasi.
Tips Meningkatkan ROI Usaha
ROI bisa diperbaiki dengan menaikkan keuntungan atau menurunkan biaya. Berikut langkah yang bisa dicoba.
- Tinjau seluruh biaya dan hapus pengeluaran yang tidak menghasilkan nilai.
- Naikkan harga atau margin pada produk yang permintaannya kuat.
- Fokuskan modal pada kanal atau produk dengan ROI tertinggi.
- Percepat perputaran persediaan agar modal tidak mengendap.
- Negosiasikan harga dengan pemasok untuk menurunkan biaya pokok.
- Ukur ROI setiap kampanye dan hentikan yang terus merugi.
- Catat semua transaksi dengan rapi agar hitungan akurat.
Pencatatan keuangan yang tertib juga membantu kepatuhan pajak. Data yang rapi mempermudah pelaporan dan pembuktian bila ada pemeriksaan.
Sebagai contoh, pemilik toko mencatat ROI per produk dan menemukan satu lini barang menyedot modal tanpa keuntungan. Setelah dikurangi, ROI keseluruhan toko naik cukup jelas.
Terakhir, tetapkan target ROI sebelum berinvestasi. Target memudahkan kamu menilai apakah hasil sesuai harapan.

Layanan Pendirian PT Umum dan CV dengan Skema Bayar Setelah Jadi, Bonus Gabung Komunitas Pengusaha. KLIK DI SINI untuk KONSULTASI GRATIS!
FAQ Seputar Cara Menghitung ROI
Apa rumus ROI?
Rumusnya adalah keuntungan bersih dibagi biaya investasi, lalu dikalikan 100 persen. Hasilnya menunjukkan persentase keuntungan terhadap modal.
Berapa ROI yang dianggap bagus?
Tidak ada angka tunggal. Nilai yang wajar bergantung pada jenis usaha, risiko, dan alternatif investasi lain yang tersedia.
Apa bedanya ROI dan ROAS?
ROI memakai keuntungan bersih, sedangkan ROAS membandingkan penjualan dengan biaya iklan. ROI lebih menggambarkan keuntungan nyata karena memperhitungkan margin.
Kesimpulan
Cara menghitung ROI cukup sederhana, yaitu membagi keuntungan bersih dengan biaya investasi lalu mengalikannya dengan 100 persen. Agar akurat, masukkan semua biaya, perhatikan jangka waktu, dan hitung hasil setelah pajak.
Dari pengalaman saya, investor yang disiplin menghitung dan memeriksa legalitas jauh lebih jarang tertipu. Jangan percaya janji keuntungan tinggi tanpa dasar yang bisa diperiksa.
Kalau kamu ingin menyusun perjanjian investasi atau memeriksa legalitas sebuah penawaran usaha, klik poster yang tersedia atau tombol KONSULTASI GRATIS di pojok kanan website ini. Tim kami siap membantu menelaah dokumen dan melindungi kepentinganmu.
Ringkasan
- ROI mengukur keuntungan bersih terhadap biaya investasi dan dinyatakan dalam persen.
- Rumus dasarnya adalah keuntungan bersih dibagi biaya investasi dikali 100 persen.
- ROI tahunan membantu membandingkan investasi dengan jangka waktu berbeda.
- Contoh usaha dengan modal Rp100 juta dan untung bersih Rp25 juta menghasilkan ROI 25 persen.
- ROI iklan lebih jujur dibanding ROAS karena memakai laba, bukan omzet.
- ROI tidak memperhitungkan waktu dan risiko, jadi lengkapi dengan ukuran lain.
- Hitung ROI setelah pajak dan periksa legalitas pihak yang menawarkan investasi.
- Janji imbal hasil tetap dan sangat tinggi adalah tanda bahaya.
Referensi
- Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan beserta perubahannya.
- Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
- Otoritas Jasa Keuangan, informasi investasi legal dan ilegal, ojk.go.id.
- Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, iaiglobal.or.id.
- Direktorat Jenderal Pajak, pajak.go.id.





