PHK karena pelanggaran berat sering dianggap sebagai hukuman final yang membuat karyawan kehilangan semua haknya. Anggapan itu keliru, karena hukum tetap menyisakan hak tertentu dan menetapkan syarat ketat bagi perusahaan.
Sebagai praktisi hukum yang kerap menangani sengketa hubungan industrial, saya melihat dua sisi masalah. Ada perusahaan yang langsung memecat tanpa bukti, dan ada karyawan yang pasrah tanpa tahu haknya.
Keduanya berisiko. Perusahaan bisa kalah di pengadilan, sedangkan karyawan bisa kehilangan hak yang seharusnya masih ia terima.
Nah, di artikel ini kita bahas lengkap. Mulai dari pengertian, contoh pelanggaran, syarat sah, prosedur, sampai hak yang tetap kamu dapat.
Apa Itu PHK karena Pelanggaran Berat dan Dasar Hukumnya
PHK karena pelanggaran berat adalah pemutusan hubungan kerja oleh pengusaha akibat pekerja melakukan pelanggaran serius terhadap aturan kerja. Pelanggarannya dinilai begitu berat sehingga hubungan kerja tidak layak dilanjutkan.
Dalam peraturan yang berlaku sekarang, istilah yang dipakai adalah pelanggaran bersifat mendesak. Istilah lama “kesalahan berat” tidak lagi menjadi rujukan utama.
Meski begitu, dalam percakapan sehari-hari orang masih memakai istilah pelanggaran berat. Substansinya tetap sama.

Dasar Hukum yang Berlaku
Dasar hukumnya mencakup Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan dan Undang-Undang tentang Cipta Kerja. Aturan teknisnya ada dalam Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 tentang PKWT, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, serta Pemutusan Hubungan Kerja.
Selain itu, Undang-Undang tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial mengatur jalur sengketa. Putusan pengadilan juga memengaruhi cara hakim menilai kasus semacam ini.
Karena aturan bisa berubah, saya menyarankan kamu memeriksa versi terbaru di situs resmi Kementerian Ketenagakerjaan.
Peran Perjanjian Kerja dan Peraturan Perusahaan
Pelanggaran bersifat mendesak harus diatur lebih dulu dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Artinya, perusahaan tidak bisa menambah daftar pelanggaran setelah kejadian.
Menurut saya, inilah salah satu pegangan terkuat bagi karyawan. Jika perbuatanmu tidak tercantum sebagai pelanggaran berat, dasar PHK-nya melemah.
Karena itu, baca peraturan perusahaan sejak hari pertama bekerja. Dokumen ini menentukan batas yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan.
Contoh Pelanggaran Berat yang Bisa Berujung PHK
Daftar pelanggaran berat umumnya mengacu pada perbuatan yang merusak kepercayaan atau keselamatan di tempat kerja. Rincian pastinya bergantung pada aturan yang berlaku dan dokumen internal perusahaan.
Pelanggaran yang Menyangkut Kejujuran
Kelompok ini berkaitan dengan integritas pekerja terhadap perusahaan. Contohnya sebagai berikut.
- Penipuan, pencurian, atau penggelapan barang dan uang milik perusahaan.
- Memberikan keterangan palsu yang merugikan perusahaan.
- Membocorkan rahasia perusahaan yang seharusnya dijaga.
- Memalsukan dokumen, laporan, atau data kerja.
Kelompok ini sering dianggap paling berat. Pasalnya, kepercayaan menjadi dasar hubungan kerja.
Pelanggaran yang Menyangkut Perilaku di Tempat Kerja
Perbuatan pada kelompok ini mengganggu keamanan dan ketertiban kerja. Contohnya sebagai berikut.
- Menyerang, menganiaya, mengancam, atau mengintimidasi rekan kerja maupun atasan.
- Mabuk, mengonsumsi minuman keras, atau memakai narkotika di lingkungan kerja.
- Melakukan perbuatan asusila atau perjudian di lingkungan kerja.
- Merusak atau membiarkan barang perusahaan dalam keadaan bahaya sehingga menimbulkan kerugian.
Perusahaan biasanya menilai tingkat keparahan dan dampaknya. Pelanggaran yang terjadi berulang cenderung diperlakukan lebih berat.
Pelanggaran Pidana dan Pelanggaran Lain
Perbuatan yang diancam pidana berat di lingkungan perusahaan juga bisa masuk kategori ini. Contohnya tindak kekerasan atau pelanggaran hukum lain yang berkaitan dengan pekerjaan.
Namun, pengusaha tidak boleh langsung menyimpulkan seseorang bersalah. Pembuktian tetap dibutuhkan, dan asas praduga tak bersalah tetap berlaku.
Sebagai praktisi, saya sering melihat tuduhan pelanggaran berat disampaikan tanpa bukti kuat. Pada kondisi itu, posisi perusahaan sebenarnya lemah.
Syarat PHK karena Pelanggaran Berat yang Sah
Tidak setiap kesalahan karyawan boleh diberi sanksi PHK. Ada syarat yang harus terpenuhi agar keputusan itu sah.
Pelanggaran Harus Diatur Secara Tertulis
Perbuatan yang dituduhkan harus tercantum sebagai pelanggaran bersifat mendesak dalam dokumen internal yang sah. Dokumen itu juga harus sudah diketahui pekerja sebelumnya.
Jika pekerja belum pernah menerima atau membaca aturan itu, perusahaan sulit memakainya sebagai dasar. Sosialisasi peraturan perusahaan menjadi bagian penting.
Pastikan peraturan perusahaan sudah disahkan sesuai ketentuan. Peraturan yang belum sah punya daya ikat yang lemah.
Pembuktian yang Kuat
Perusahaan wajib membuktikan bahwa pekerja benar-benar melakukan pelanggaran. Bukti bisa berupa rekaman kamera pengawas, keterangan saksi, dokumen, atau hasil audit internal.
Lakukan pemeriksaan secara adil. Beri kesempatan pekerja menyampaikan penjelasan atau pembelaan sebelum keputusan diambil.
Catat hasil pemeriksaan secara tertulis. Catatan ini menjadi bahan penting jika perkara dibawa ke pengadilan.
Asas Praduga Tak Bersalah dan Proses Pidana
Mahkamah Konstitusi pernah membatalkan ketentuan lama yang memperbolehkan PHK langsung atas tuduhan pelanggaran berat tanpa putusan pidana yang berkekuatan hukum tetap. Putusan itu menegaskan pentingnya asas praduga tak bersalah.
Dalam praktik, jika pelanggaran juga merupakan tindak pidana, perusahaan bisa melaporkannya kepada polisi. Namun, hubungan kerja dan proses pidana berjalan di jalur yang berbeda.
Karena itu, perusahaan tetap perlu menempuh prosedur PHK yang diatur dalam peraturan ketenagakerjaan. Pekerja tidak bisa dipecat begitu saja hanya karena dilaporkan.
Hak yang Didapat Karyawan yang Terkena PHK karena Pelanggaran Berat
Banyak orang mengira pekerja yang dipecat karena pelanggaran berat tidak mendapat apa pun. Hukum menyatakan lain.
Uang Penggantian Hak
Pekerja tetap berhak atas uang penggantian hak. Komponennya antara lain cuti tahunan yang belum diambil dan belum gugur, serta ongkos pulang bagi pekerja dan keluarganya ke tempat pekerja diterima bekerja.
Hak lain bisa muncul dari perjanjian kerja atau peraturan perusahaan. Karena itu, baca dokumen tersebut dengan teliti.
Uang Pisah
Pekerja juga dapat memperoleh uang pisah. Besarannya diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
Jika dokumen internal tidak mengatur, kamu perlu mendiskusikannya dengan perusahaan. Simpan hasil kesepakatan secara tertulis.
Hak yang Umumnya Tidak Diterima
Pekerja yang di-PHK karena pelanggaran bersifat mendesak pada umumnya tidak menerima uang pesangon dan uang penghargaan masa kerja. Ketentuan ini membedakannya dari PHK karena efisiensi.
Pekerja juga biasanya tidak memenuhi syarat untuk memperoleh manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan pada kondisi tertentu. Cek ketentuan BPJS Ketenagakerjaan untuk kasusmu.
Meski begitu, jaminan hari tua di BPJS Ketenagakerjaan tetap menjadi hakmu. Pencairannya mengikuti ketentuan lembaga tersebut.
Surat Keterangan Kerja dan Upah Terakhir
Pekerja tetap berhak atas upah yang belum dibayarkan sampai hari terakhir. Perusahaan tidak boleh menahannya sebagai bentuk sanksi tambahan.
Pekerja juga berhak meminta surat keterangan kerja. Dokumen ini penting untuk melamar pekerjaan baru.
Langkah Hukum bagi Karyawan dan Pengusaha
Perselisihan soal pelanggaran berat sering berujung panjang. Beberapa langkah berikut bisa membantu kedua pihak.
Langkah bagi Karyawan
Berikut hal yang bisa kamu lakukan jika dituduh melakukan pelanggaran berat:
- Minta surat tuduhan dan bukti secara tertulis.
- Baca perjanjian kerja dan peraturan perusahaan.
- Sampaikan penjelasan secara tertulis dan simpan salinannya.
- Jangan menandatangani pengakuan atau pengunduran diri tanpa memahami akibatnya.
- Konsultasikan dengan serikat pekerja atau ahli hukum.
- Tempuh bipartit dan mediasi jika menolak PHK.
Bersikaplah tenang dan jangan terpancing emosi. Catatan tertulis menjadi senjata paling kuat.
Langkah bagi Pengusaha
Pengusaha sebaiknya memastikan aturan pelanggaran tertulis jelas dan sudah disosialisasikan. Lakukan investigasi yang adil dan dokumentasikan hasilnya.
Hindari tindakan sepihak yang tergesa-gesa. Sebagai praktisi, saya sering melihat perusahaan kalah bukan karena kesalahan pekerja tidak terbukti, melainkan karena prosedurnya cacat.
Bayarkan hak yang memang menjadi kewajiban. Cara ini mengurangi risiko gugatan dan menjaga reputasi perusahaan.

FAQ Seputar PHK karena Pelanggaran Berat
Apakah karyawan yang melanggar berat bisa langsung dipecat tanpa surat peringatan?
Aturan pelanggaran bersifat mendesak memang tidak selalu mensyaratkan tahapan surat peringatan. Namun, perusahaan tetap wajib membuktikan pelanggaran dan menjalankan prosedur PHK.
Apakah PHK karena pelanggaran berat mendapat pesangon?
Pada umumnya tidak. Pekerja tetap berhak atas uang penggantian hak dan uang pisah sesuai ketentuan perjanjian atau peraturan perusahaan.
Apa yang bisa dilakukan jika dituduh melanggar tanpa bukti?
Tolak PHK secara tertulis lalu minta perundingan bipartit. Jika gagal, lanjutkan ke mediasi dan Pengadilan Hubungan Industrial.
Kesimpulan
PHK karena pelanggaran berat hanya sah jika pelanggarannya diatur tertulis, terbukti, dan prosedur PHK dijalankan. Pekerja tetap memiliki hak, terutama uang penggantian hak dan kemungkinan uang pisah.
Dari pengalaman saya, kunci menghadapi sengketa ini ada pada bukti dan dokumen. Karyawan perlu memahami aturan internal, sedangkan perusahaan perlu bekerja dengan prosedur yang rapi.
Jika kamu menghadapi tuduhan pelanggaran berat atau ingin memastikan prosedur PHK di perusahaanmu sudah benar, klik poster yang tersedia atau tombol KONSULTASI GRATIS di pojok kanan website ini. Tim kami siap membantu kamu menilai posisi hukum dan menentukan langkah terbaik.
Ringkasan
- PHK karena pelanggaran berat kini dikenal sebagai PHK karena pelanggaran bersifat mendesak.
- Dasar hukumnya mencakup undang-undang ketenagakerjaan, Undang-Undang Cipta Kerja, dan PP Nomor 35 Tahun 2021.
- Pelanggaran harus diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
- Contoh pelanggaran meliputi penipuan, pencurian, penggelapan, kekerasan, dan membocorkan rahasia perusahaan.
- Perusahaan wajib membuktikan pelanggaran dan memeriksa pekerja secara adil.
- Prosedur mencakup pemberitahuan tertulis, bipartit, mediasi, dan Pengadilan Hubungan Industrial.
- Pekerja tetap berhak atas uang penggantian hak dan uang pisah sesuai dokumen internal.
- Pekerja pada umumnya tidak menerima pesangon dan uang penghargaan masa kerja.
Referensi
- Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan beserta perubahannya.
- Undang-Undang tentang Cipta Kerja beserta peraturan pelaksanaannya.
- Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja.
- Undang-Undang tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.
- Putusan Mahkamah Konstitusi terkait PHK karena kesalahan berat dan asas praduga tak bersalah, mkri.id.
- Kementerian Ketenagakerjaan, informasi hubungan industrial, kemnaker.go.id.





