Buku besar adalah kumpulan akun yang merangkum semua transaksi yang sudah dicatat di jurnal. Di sinilah angka-angka mentah berubah menjadi saldo yang bisa dibaca.
Sebagai praktisi yang kerap membantu usaha menyiapkan pembukuan, saya sering bertemu pemilik usaha yang rajin menjurnal tetapi berhenti di situ. Mereka belum memindahkan catatannya ke buku besar, jadi saldo akun tidak pernah diketahui.
Nah, di artikel ini kita bahas buku besar dari awal. Mulai dari pengertian, fungsi, bentuk, cara posting, sampai contoh pencatatannya.
Buku Besar Adalah: Pengertian dan Dasar Hukumnya
Buku besar adalah kumpulan seluruh akun yang dipakai perusahaan untuk mencatat perubahan aset, utang, modal, pendapatan, dan beban. Setiap akun punya lembar sendiri yang memuat riwayat dan saldonya.
Dalam bahasa Inggris, buku ini disebut general ledger. Ia disusun dari jurnal melalui proses yang disebut posting.

Jasa Pendampingan dan Konsultan Hukum Profesional, Didampingi Advokat Resmi. KLIK DI SINI!
Pengertian Buku Besar dalam Praktik
Kalau jurnal mencatat transaksi menurut tanggal, buku besar mencatatnya menurut akun. Perbedaan ini membuat buku besar jauh lebih mudah dipakai untuk melihat posisi tiap akun.
Misalnya, kamu ingin tahu berapa saldo kas saat ini. Cukup buka akun kas di buku besar, tanpa membuka ratusan baris jurnal.
Karena itu, buku besar sering dianggap pusat data akuntansi. Semua laporan keuangan diambil dari saldo-saldonya.
Dasar Hukum Pencatatan
Buku besar merupakan bagian dari pembukuan yang diwajibkan bagi Wajib Pajak tertentu. Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan mengatur kewajiban pembukuan dan penyimpanan dokumennya.
Selain itu, Undang-Undang tentang Dokumen Perusahaan mewajibkan perusahaan menyimpan catatan keuangan dalam jangka waktu tertentu. Standar penyusunan laporan keuangannya mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan.
Menurut saya, buku besar yang tertib adalah pertahanan terbaik saat ada pemeriksaan pajak. Pemeriksa biasanya meminta buku besar lebih dulu sebelum dokumen lain.
Fungsi Buku Besar dalam Akuntansi
Buku besar punya fungsi yang berbeda dari jurnal. Fungsi ini penting untuk menyusun laporan dan mengendalikan keuangan.
Tanpa buku besar, saldo akun harus dihitung manual dari tumpukan jurnal. Pekerjaan itu memakan waktu dan rawan salah.
Fungsi Utama Buku Besar
Berikut fungsi yang paling sering dipakai.
- Mengelompokkan transaksi berdasarkan akun.
- Menunjukkan saldo setiap akun pada waktu tertentu.
- Menjadi sumber data untuk neraca saldo.
- Menjadi dasar penyusunan laporan laba rugi dan neraca.
- Membantu pengawasan dan audit karena riwayat akun tersedia lengkap.
Dengan fungsi ini, pemilik usaha bisa menjawab pertanyaan sederhana dengan cepat. Contohnya, berapa total piutang yang belum tertagih bulan ini.
Hubungan dengan Jurnal dan Neraca Saldo
Alur pencatatan berjalan berurutan. Transaksi dicatat di jurnal, dipindahkan ke buku besar, lalu saldo akhirnya dirangkum di neraca saldo.
Jadi, buku besar berada di tengah. Ia menerima data dari jurnal dan memberi data kepada neraca saldo.
Sebagai contoh, jika posting salah, neraca saldo ikut salah. Karena itu, ketelitian saat posting sangat menentukan.
Bentuk dan Format Buku Besar
Buku besar punya beberapa bentuk. Pilihan bentuk bergantung pada kebutuhan dan skala usaha.
Meski bentuknya berbeda, isi dasarnya sama. Setiap akun memuat tanggal, keterangan, referensi, debit, kredit, dan saldo.
Bentuk Skontro dan Bentuk Saldo
Bentuk skontro atau bentuk T memisahkan sisi debit di kiri dan sisi kredit di kanan. Bentuk ini cocok untuk belajar karena visualnya jelas.
Bentuk saldo atau running balance memakai kolom debit, kredit, dan saldo yang terus diperbarui. Bentuk ini lebih praktis untuk pemakaian sehari-hari.
Kebanyakan aplikasi akuntansi memakai bentuk saldo. Alasannya, saldo terbaru langsung terlihat di setiap baris.
Kolom yang Perlu Ada
Setiap lembar akun sebaiknya memuat unsur berikut.
- Nama akun dan nomor akun di bagian atas.
- Tanggal transaksi.
- Keterangan singkat transaksi.
- Referensi jurnal, misalnya nomor halaman jurnal.
- Kolom debit dan kolom kredit.
- Kolom saldo, jika memakai bentuk saldo.
Kolom referensi sering diabaikan pemula. Padahal, kolom ini membuat penelusuran dari buku besar kembali ke jurnal menjadi mudah.
Cara Mencatat dan Memposting ke Buku Besar
Posting adalah proses memindahkan angka dari jurnal ke akun di buku besar. Prosesnya mekanis, tetapi menuntut ketelitian.
Kesalahan kecil di tahap ini bisa membuat neraca saldo tidak seimbang.
Langkah Posting
Ikuti urutan berikut.
- Ambil satu entri jurnal, mulai dari yang paling awal.
- Cari akun yang didebit di buku besar.
- Tulis tanggal, keterangan, dan jumlah di kolom debit akun tersebut.
- Cari akun yang dikredit, lalu tulis jumlahnya di kolom kredit.
- Isi kolom referensi pada jurnal dan buku besar agar saling terhubung.
- Hitung saldo terbaru setiap akun.
Ulangi langkah ini sampai semua entri jurnal selesai dipindahkan. Setelah itu, cek ulang total tiap akun.
Aturan Saldo Akun
Saldo akun dihitung sesuai saldo normalnya. Akun aset dan beban bertambah di debit dan berkurang di kredit.
Sebaliknya, akun utang, modal, dan pendapatan bertambah di kredit dan berkurang di debit. Aturan ini sama dengan yang dipakai di jurnal.
Menurut saya, pemula sebaiknya menghafal saldo normal ini lebih dulu. Setelah itu, posting terasa jauh lebih mudah.
Contoh Posting Jurnal ke Buku Besar
Mari lanjutkan contoh dari transaksi usaha jasa pada November 2026. Angkanya hanya ilustrasi.
Transaksi yang diposting memengaruhi akun kas, modal, peralatan, dan beban gaji.
Contoh Akun Kas
Berikut transaksi yang memengaruhi akun kas, ditulis dengan bentuk saldo.
- 1 November: setoran modal, debit Rp50.000.000, saldo Rp50.000.000.
- 3 November: beli peralatan tunai, kredit Rp10.000.000, saldo Rp40.000.000.
- 10 November: pendapatan jasa tunai, debit Rp8.000.000, saldo Rp48.000.000.
- 15 November: bayar gaji, kredit Rp3.000.000, saldo Rp45.000.000.
Saldo akhir akun kas adalah Rp45.000.000 dengan saldo normal debit. Angka inilah yang kemudian masuk ke neraca saldo.
Contoh Akun Lain
Akun modal pemilik hanya punya satu entri. Pada 1 November, kredit Rp50.000.000, sehingga saldo kredit Rp50.000.000.
Akun peralatan dicatat pada 3 November. Debit Rp10.000.000, sehingga saldo debit Rp10.000.000.
Sementara itu, akun beban gaji dicatat pada 15 November. Debit Rp3.000.000, sehingga saldo debit Rp3.000.000.
Sebagai praktisi, saya menyarankan kamu mencocokkan saldo kas buku besar dengan saldo rekening dan kas fisik. Selisih sekecil apa pun layak ditelusuri.
Kesalahan Umum dalam Pencatatan Buku Besar
Beberapa kesalahan muncul berulang pada pelaku usaha. Mengenalinya membantu kamu menghindarinya.
Sebagian besar kesalahan berasal dari kurang teliti, bukan dari kurang paham teori.
Kesalahan yang Sering Muncul
Berikut contohnya.
- Lupa memposting sebagian entri jurnal.
- Memposting ke akun yang salah.
- Membalik sisi debit dan kredit.
- Salah menghitung saldo akhir.
- Tidak mengisi kolom referensi.
Kesalahan ini bisa dicegah dengan pengecekan rutin. Cocokkan total posting dengan total jurnal setiap akhir bulan.
Cara Memperbaiki Kesalahan
Jangan menghapus atau menimpa catatan yang sudah dibuat. Perbaiki lewat jurnal koreksi agar jejak audit tetap utuh.
Jurnal koreksi membatalkan entri yang salah, lalu mencatat entri yang benar. Dengan cara ini, riwayat perubahan tetap bisa dilihat pemeriksa.
Menurut saya, kebiasaan menimpa catatan adalah kebiasaan paling berbahaya. Pemeriksa pajak bisa mencurigai catatan yang tampak diubah.

Jasa Pendampingan dan Konsultan Hukum Profesional, Didampingi Advokat Resmi. KLIK DI SINI!
FAQ Seputar Buku Besar
Apa beda buku besar dan jurnal umum?
Jurnal umum mencatat transaksi berdasarkan urutan tanggal. Buku besar mengelompokkannya berdasarkan akun sehingga saldo tiap akun mudah dilihat.
Apa itu posting dalam akuntansi?
Posting adalah proses memindahkan angka dari jurnal ke akun yang sesuai di buku besar. Hasilnya dipakai untuk menyusun neraca saldo.
Apakah buku besar masih perlu jika memakai aplikasi akuntansi?
Masih. Aplikasi biasanya membuat buku besar otomatis, tetapi kamu tetap perlu memahami isinya agar bisa memeriksa hasilnya.
Kesimpulan
Buku besar adalah pusat data pembukuan yang merangkum seluruh transaksi per akun. Dari sinilah neraca saldo dan laporan keuangan disusun.
Langkah yang saya sarankan jelas. Posting jurnal secara rutin, cocokkan saldo kas dengan kondisi nyata, dan gunakan jurnal koreksi saat ada kesalahan.
Dari pengalaman saya, usaha dengan buku besar yang rapi lebih mudah mendapat pembiayaan dan lebih tenang menghadapi pemeriksaan pajak. Buku besar yang baik memberi kamu gambaran usaha yang jujur.
Kalau kamu masih bingung soal buku besar, proses posting, atau penyusunan pembukuan untuk keperluan pajak, klik poster yang tersedia atau tombol KONSULTASI GRATIS di pojok kanan website ini. Tim kami siap mendampingi kamu dengan sabar dan jelas.
Ringkasan
- Buku besar adalah kumpulan akun yang merangkum transaksi dari jurnal berdasarkan akun.
- Proses memindahkan angka dari jurnal ke buku besar disebut posting.
- Buku besar menunjukkan saldo setiap akun dan menjadi sumber data neraca saldo.
- Bentuknya bisa skontro atau bentuk saldo, dengan kolom debit, kredit, dan saldo.
- Akun aset dan beban bersaldo normal debit, sedangkan utang, modal, dan pendapatan bersaldo normal kredit.
- Kolom referensi menghubungkan buku besar dengan jurnal untuk memudahkan penelusuran.
- Kesalahan diperbaiki lewat jurnal koreksi, bukan dengan menimpa catatan.
Referensi
- Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan beserta perubahannya.
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan.
- Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan.
- Direktorat Jenderal Pajak, informasi kewajiban pembukuan, pajak.go.id.
- Kementerian Keuangan Republik Indonesia, kemenkeu.go.id.





