Laporan keuangan usaha dagang adalah kumpulan catatan yang menunjukkan kondisi keuangan sebuah usaha dalam periode tertentu.
Catatan tersebut berisi informasi mengenai penjualan, persediaan barang, utang, modal, biaya operasional, serta keuntungan atau kerugian usaha.
Dengan memiliki laporan keuangan yang teratur, pemilik toko, distributor, grosir, dan bisnis retail dapat mengetahui kondisi usaha berdasarkan data yang jelas.
Pemilik usaha tidak hanya mengandalkan jumlah uang yang tersimpan di rekening atau kas.
Pencatatan keuangan menjadi semakin penting karena sektor perdagangan memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia.
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk usaha reparasi kendaraan, mengalami pertumbuhan sebesar 6,26% pada triwulan pertama tahun 2026.
Data pemerintah juga menunjukkan bahwa UMKM memberikan kontribusi sekitar 61,07% terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia.
Nilai kontribusi tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp8.573,89 triliun.
Besarnya kontribusi UMKM menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan yang rapi sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut saya, masih banyak pelaku usaha yang merasa bisnisnya untung hanya karena memiliki omzet besar.
Padahal, omzet yang tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan.
Usaha dapat mengalami kerugian tanpa disadari apabila pemilik tidak mencatat persediaan, Harga Pokok Penjualan, piutang, dan biaya operasional secara rutin.
Karakteristik Laporan Keuangan Usaha Dagang
Laporan keuangan usaha dagang memiliki beberapa bagian yang berbeda dari laporan keuangan usaha jasa.
Perbedaan tersebut terjadi karena usaha dagang menjalankan kegiatan membeli barang dan menjualnya kembali kepada pelanggan.
Usaha dagang harus mencatat persediaan barang, Harga Pokok Penjualan atau HPP, retur barang, potongan harga, serta biaya pengiriman dan distribusi.
Kasmir dalam buku Analisis Laporan Keuangan menjelaskan bahwa laporan keuangan digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan dalam waktu tertentu.
Informasi di dalam laporan tersebut dapat digunakan untuk menilai hasil kegiatan usaha dan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya.
Perbedaan antara usaha dagang, usaha jasa, dan usaha manufaktur dapat dilihat dalam tabel berikut.
| Komponen | Usaha Dagang | Usaha Jasa | Usaha Manufaktur |
| Persediaan | Barang yang akan dijual kembali | Biasanya tidak memiliki persediaan | Bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi |
| Pendapatan | Berasal dari penjualan barang | Berasal dari pemberian jasa | Berasal dari penjualan produk hasil produksi |
| Harga Pokok Penjualan | Berasal dari harga barang yang terjual | Biasanya tidak ada atau sangat terbatas | Berasal dari biaya produksi barang |
| Kegiatan utama | Membeli dan menjual kembali barang | Memberikan layanan kepada pelanggan | Mengolah bahan baku menjadi produk |
| Akun khusus | Persediaan, retur, dan potongan penjualan | Pendapatan jasa | Bahan baku, tenaga kerja, dan biaya produksi |
Pemilik usaha juga perlu memahami bahwa laba berbeda dengan uang tunai.
Sebuah bisnis dapat mencatat keuntungan, tetapi tetap mengalami kekurangan kas.
Kondisi tersebut dapat terjadi ketika sebagian besar penjualan dilakukan secara kredit.
Kekurangan kas juga dapat terjadi ketika terlalu banyak uang usaha tersimpan dalam bentuk persediaan barang.
Jenis dan Contoh Laporan Keuangan Usaha Dagang
Laporan keuangan usaha dagang terdiri dari beberapa jenis laporan yang memiliki fungsi berbeda.
Jenis laporan tersebut antara lain laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, laporan perubahan modal, serta catatan atas laporan keuangan.
Setiap laporan membantu pemilik usaha menjawab pertanyaan yang berbeda mengenai kondisi bisnis.
Laporan laba rugi menunjukkan keuntungan atau kerugian usaha.
Neraca menunjukkan jumlah aset, utang, dan modal.
Laporan arus kas menunjukkan pergerakan uang masuk dan keluar.
1. Contoh Laporan Laba Rugi Usaha Dagang
Laporan laba rugi usaha dagang digunakan untuk mengetahui apakah kegiatan penjualan menghasilkan keuntungan atau kerugian.
Laporan ini mencatat penjualan bersih, Harga Pokok Penjualan, laba kotor, biaya operasional, dan laba bersih.
Berikut contoh laporan laba rugi Toko Sumber Makmur untuk Desember 2026.
| Keterangan | Jumlah |
| Penjualan | Rp150.000.000 |
| Dikurangi retur dan potongan penjualan | Rp5.000.000 |
| Penjualan bersih | Rp145.000.000 |
| Persediaan awal | Rp40.000.000 |
| Pembelian barang | Rp90.000.000 |
| Biaya angkut pembelian | Rp3.000.000 |
| Dikurangi persediaan akhir | Rp35.000.000 |
| Harga Pokok Penjualan | Rp98.000.000 |
| Laba kotor | Rp47.000.000 |
| Beban gaji | Rp12.000.000 |
| Beban sewa | Rp6.000.000 |
| Beban listrik dan internet | Rp2.000.000 |
| Beban pemasaran | Rp3.000.000 |
| Beban penyusutan | Rp2.000.000 |
| Total beban operasional | Rp25.000.000 |
| Laba bersih | Rp22.000.000 |
Penjualan bersih dihitung dari jumlah penjualan yang sudah dikurangi retur dan potongan penjualan.
Rumus sederhananya adalah sebagai berikut.
Penjualan Bersih = Penjualan − Retur − Potongan Penjualan
Harga Pokok Penjualan dihitung dari persediaan awal ditambah pembelian bersih dan biaya angkut, kemudian dikurangi persediaan akhir.
Rumus sederhananya adalah sebagai berikut.
HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih + Biaya Angkut − Persediaan Akhir
Laba bersih diperoleh setelah penjualan bersih dikurangi HPP dan seluruh biaya operasional.
Rumus sederhananya adalah sebagai berikut.
Laba Bersih = Penjualan Bersih − HPP − Beban Operasional
Penelitian Iswandir pada Toko Rizky Busana menunjukkan bahwa usaha tersebut sebelumnya hanya membuat catatan sederhana mengenai kas, piutang, utang, dan persediaan.
Penelitian tersebut menyarankan agar laporan keuangan disusun sesuai dengan SAK EMKM.
Penerapan SAK EMKM dapat membuat informasi keuangan usaha menjadi lebih teratur.
Laporan keuangan yang rapi juga dapat membantu usaha ketika mengajukan pembiayaan.
Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus membuktikan bahwa penyusunan laporan keuangan dapat langsung meningkatkan margin laba bersih.
2. Contoh Neraca Usaha Dagang
Neraca usaha dagang adalah laporan yang menunjukkan aset, kewajiban, dan modal pemilik pada tanggal tertentu.
Jumlah aset dalam neraca harus sama dengan jumlah utang dan modal.
Keseimbangan tersebut terjadi karena seluruh aset usaha berasal dari utang atau modal pemilik.
Berikut contoh neraca Toko Sumber Makmur per 31 Desember 2026.
| Aset | Jumlah | Kewajiban dan Modal | Jumlah |
| Kas | Rp25.000.000 | Utang usaha | Rp28.000.000 |
| Piutang usaha | Rp15.000.000 | Utang bank | Rp20.000.000 |
| Persediaan | Rp35.000.000 | Modal akhir | Rp72.000.000 |
| Peralatan bersih | Rp45.000.000 | ||
| Total aset | Rp120.000.000 | Total kewajiban dan modal | Rp120.000.000 |
Sofyan Syafri Harahap dalam buku Analisis Kritis atas Laporan Keuangan menjelaskan bahwa neraca memberikan gambaran mengenai kekayaan perusahaan.
Neraca juga menunjukkan asal dana yang digunakan untuk membiayai kekayaan tersebut.
Sumber dana perusahaan dapat berasal dari utang maupun modal pemilik.
Melalui neraca, pemilik usaha dapat mengetahui kemampuan kas dan piutang dalam membayar utang jangka pendek.
Pemilik usaha juga dapat melihat berapa banyak modal yang masih tersimpan dalam persediaan.
Neraca membantu pemilik mengetahui seberapa besar aset usaha yang dibiayai menggunakan utang.
Selain itu, neraca juga menunjukkan nilai kekayaan bersih usaha setelah seluruh utang dikurangi.
3. Contoh Laporan Arus Kas Usaha Dagang
Laporan arus kas menunjukkan sumber uang yang masuk dan tujuan penggunaan uang tersebut.
Laporan ini membagi arus kas menjadi tiga kelompok kegiatan.
Kelompok tersebut terdiri dari kegiatan operasional, investasi, dan pendanaan.
Laporan arus kas membantu pemilik mengetahui penyebab saldo kas bertambah atau berkurang.
Informasi tersebut tetap penting meskipun usaha mencatat keuntungan.
Berikut contoh sederhana laporan arus kas usaha dagang.
| Aktivitas Arus Kas | Jumlah |
| Arus kas bersih dari kegiatan operasional | Rp26.000.000 |
| Pembelian peralatan | Rp15.000.000 |
| Penerimaan pinjaman bank | Rp10.000.000 |
| Pengambilan pribadi atau prive | Rp10.000.000 |
| Kenaikan bersih kas | Rp11.000.000 |
| Saldo kas awal | Rp14.000.000 |
| Saldo kas akhir | Rp25.000.000 |
Salah satu hal yang sering tidak dipahami pemilik usaha adalah perbedaan antara laba dan arus kas.
Laba bersih tidak selalu membuat jumlah uang tunai langsung bertambah.
Penjualan secara kredit tetap dicatat sebagai pendapatan.
Namun, kas baru benar-benar diterima setelah pelanggan membayar piutangnya.
4. Contoh Laporan Perubahan Modal
Laporan perubahan modal digunakan untuk menunjukkan perubahan jumlah modal pemilik selama satu periode.
Modal dapat bertambah karena adanya tambahan investasi atau keuntungan usaha.
Modal dapat berkurang karena kerugian atau pengambilan uang pribadi oleh pemilik.
Pengambilan uang atau barang usaha untuk kebutuhan pribadi disebut prive.
Berikut contoh laporan perubahan modal.
| Keterangan | Jumlah |
| Modal awal | Rp60.000.000 |
| Ditambah laba bersih | Rp22.000.000 |
| Dikurangi prive | Rp10.000.000 |
| Modal akhir | Rp72.000.000 |
Pemilik usaha harus mencatat prive secara terpisah dari biaya operasional.
Prive bukan biaya yang digunakan untuk menjalankan kegiatan usaha.
Namun, prive tetap mengurangi jumlah modal pemilik.

Format Laporan Keuangan Usaha Dagang dan Cara Membuatnya
Format laporan keuangan usaha dagang dibuat melalui proses pencatatan yang dilakukan secara berurutan.
Proses tersebut dimulai dari mengumpulkan bukti transaksi hingga menyusun laporan keuangan.
Pencatatan yang teratur membuat setiap angka dalam laporan dapat diperiksa kembali.
Cara tersebut juga mengurangi risiko transaksi hilang, tercatat dua kali, atau dimasukkan ke akun yang salah.
Berikut langkah-langkah membuat laporan keuangan usaha dagang.
- Mengumpulkan bukti transaksi.
Bukti transaksi dapat berupa faktur, nota pembelian, nota penjualan, mutasi bank, dan bukti pembayaran.
- Mencatat transaksi ke dalam jurnal.
Setiap transaksi dicatat sesuai dengan tanggal dan jenis transaksinya.
- Memindahkan transaksi ke buku besar.
Transaksi dikelompokkan berdasarkan akun, seperti kas, persediaan, utang, dan penjualan.
- Menyusun neraca saldo.
Neraca saldo digunakan untuk memeriksa apakah jumlah debit dan kredit sudah seimbang.
- Membuat jurnal penyesuaian.
Jurnal penyesuaian dibuat untuk mencatat perubahan persediaan, penyusutan aset, atau biaya yang belum dicatat.
- Menyusun laporan laba rugi dan neraca.
Data yang sudah diperiksa kemudian digunakan untuk membuat laporan keuangan.
- Membuat catatan tambahan.
Catatan tambahan digunakan untuk menjelaskan informasi penting yang tidak terlihat langsung dalam angka laporan.
Standar Format Laporan Keuangan Usaha Dagang Berdasarkan SAK EMKM
SAK EMKM adalah standar akuntansi yang dibuat untuk usaha mikro, kecil, dan menengah.
Standar tersebut membantu UMKM menyusun laporan keuangan dengan cara yang lebih sederhana.
SAK EMKM menggunakan konsep pemisahan antara keuangan usaha dan keuangan pribadi pemilik.
Artinya, uang dan aset pribadi tidak boleh dicampur dengan uang dan aset usaha.
Berdasarkan SAK EMKM, laporan keuangan minimum terdiri dari beberapa bagian.
Bagian pertama adalah laporan posisi keuangan atau neraca.
Bagian kedua adalah laporan laba rugi.
Bagian ketiga adalah catatan atas laporan keuangan.
Laporan arus kas dan laporan perubahan modal dapat dibuat sebagai laporan tambahan.
Kedua laporan tersebut berguna untuk kebutuhan pemilik usaha, bank, investor, atau pihak manajemen.
Namun, laporan arus kas dan perubahan modal tidak termasuk dalam tiga laporan minimum yang diwajibkan oleh SAK EMKM.
Penelitian Ichwan pada tahun 2025 membahas penerapan SAK EMKM pada sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah.
Penelitian tersebut menyusun laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, serta catatan atas laporan keuangan.
Namun, penelitian tersebut tidak menyebutkan bahwa penerapan SAK EMKM meningkatkan keandalan data keuangan hingga 80%.
Oleh karena itu, angka tersebut tidak sebaiknya digunakan tanpa sumber yang jelas.
Dalam bidang perpajakan, PP Nomor 55 Tahun 2022 telah mengalami perubahan melalui PP Nomor 20 Tahun 2026.
Untuk usaha milik Wajib Pajak Orang Pribadi yang memenuhi syarat, omzet sampai Rp500 juta dalam satu tahun tidak dikenai Pajak Penghasilan.
Tarif PPh Final sebesar 0,5% dapat dikenakan pada omzet berikutnya.
Ketentuan tersebut berlaku selama total omzet usaha tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam satu tahun.
Fasilitas bebas pajak atas omzet Rp500 juta hanya berlaku bagi Wajib Pajak Orang Pribadi.
Tips Praktis Mengelola Laporan Keuangan Usaha Dagang
Pengelolaan laporan keuangan sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari kegiatan harian usaha.
Laporan keuangan tidak seharusnya hanya dibuat ketika pemilik akan melaporkan pajak.
Pencatatan sederhana yang dilakukan secara rutin lebih berguna dibandingkan laporan rumit yang dibuat ketika data sudah tercecer.
Berikut beberapa cara praktis yang dapat diterapkan.
Rutin Melakukan Stock Opname
Stock opname adalah kegiatan menghitung jumlah barang yang tersedia secara langsung.
Jumlah barang yang ada di gudang harus dicocokkan dengan catatan persediaan.
Perbedaan jumlah dapat terjadi karena barang rusak, hilang, salah catat, atau belum dimasukkan ke sistem.
Memisahkan Rekening Pribadi dan Rekening Bisnis
Pemilik usaha sebaiknya menggunakan rekening khusus untuk kegiatan bisnis.
Pemisahan rekening membuat arus uang usaha lebih mudah diperiksa.
Cara tersebut juga mencegah penggunaan uang usaha untuk kebutuhan pribadi tanpa pencatatan.
Mencatat HPP dan Biaya Angkut Secara Tepat
Harga Pokok Penjualan tidak hanya berasal dari harga beli barang.
Pemilik usaha juga perlu menghitung biaya angkut, biaya bongkar, biaya kemasan, dan biaya lain yang berhubungan dengan pembelian barang.
Perhitungan HPP yang tepat membantu pemilik menentukan harga jual yang tidak merugikan.
Menggunakan Kode Produk yang Konsisten
Setiap jenis barang sebaiknya memiliki kode atau SKU yang berbeda.
Kode produk membantu pemilik mencatat pembelian, penjualan, retur, dan persediaan.
Penggunaan kode yang konsisten juga mengurangi risiko kesalahan pencatatan barang.
Membuat Jadwal Tutup Buku Bulanan
Pemilik usaha sebaiknya menetapkan tanggal khusus untuk memeriksa laporan setiap bulan.
Pemeriksaan dapat mencakup saldo kas, rekening bank, piutang, utang, dan persediaan.
Tutup buku bulanan membantu pemilik mengetahui masalah keuangan lebih awal.
Memantau Umur Piutang
Piutang perlu dikelompokkan berdasarkan lama keterlambatan pembayaran.
Contohnya adalah piutang berumur 0 sampai 30 hari, 31 sampai 60 hari, dan lebih dari 60 hari.
Pengelompokan tersebut membantu pemilik menentukan pelanggan yang perlu segera ditagih.
Menggunakan Software Akuntansi Digital
Software akuntansi dapat membantu mengurangi kesalahan pencatatan secara manual.
Pemilik usaha tetap perlu mengatur akses pengguna agar data tidak mudah diubah.
Setiap transaksi sebaiknya memiliki nomor yang berbeda.
Data keuangan juga perlu dicadangkan secara rutin untuk mencegah kehilangan informasi.
Pemilik usaha sebaiknya memantau tiga angka utama setiap bulan.
Angka pertama adalah margin laba kotor.
Angka kedua adalah kecepatan perputaran persediaan.
Angka ketiga adalah perbandingan biaya operasional terhadap penjualan.
Ketiga angka tersebut dapat membantu menemukan kebocoran bisnis lebih cepat dibandingkan hanya melihat omzet.

Kesimpulan
Laporan keuangan usaha dagang merupakan dasar penting untuk mengendalikan kegiatan bisnis.
Laporan tersebut membantu pemilik mencatat persediaan, menghitung HPP, mengukur keuntungan, memantau arus kas, dan mengetahui kondisi modal.
Jenis laporan yang perlu dipahami meliputi laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, laporan perubahan modal, dan catatan atas laporan keuangan.
Saya pribadi meyakini bahwa laporan keuangan yang rapi bukan hanya dibuat untuk memenuhi kewajiban pajak atau standar akuntansi.
Laporan keuangan merupakan alat penting untuk menentukan arah perkembangan usaha.
Melalui laporan tersebut, pemilik dapat mengetahui apakah bisnis siap berkembang atau masih perlu memperbaiki biaya, persediaan, dan arus kas.
Ringkasan
- Laporan keuangan usaha dagang mencatat penjualan, HPP, persediaan, aset, utang, modal, serta arus kas.
- Harga Pokok Penjualan dihitung dari persediaan awal, pembelian bersih, biaya angkut, dan persediaan akhir.
- Neraca harus menunjukkan jumlah aset yang sama dengan total utang dan modal.
- Laba tidak selalu membuat kas bertambah karena penjualan dapat dilakukan secara kredit.
- SAK EMKM menetapkan laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan sebagai laporan minimum.
- Laporan arus kas dan laporan perubahan modal dapat dibuat sebagai laporan tambahan.
- Stock opname, pemeriksaan rekening, pencatatan HPP, dan pemisahan keuangan perlu dilakukan secara rutin.
- Pemilik usaha perlu memeriksa margin laba kotor, perputaran persediaan, dan biaya operasional setiap bulan.




