Membuka usaha laundry berarti kamu perlu memikirkan banyak hal, mulai dari harga layanan hingga biaya operasional. Ada satu urusan yang terkadang terlewat, yaitu pajak.
Salah satu ketentuan yang perlu dipahami ialah PPh Final UMKM. Skema ini memungkinkan wajib pajak tertentu menggunakan tarif 0,5% dari omzet yang menjadi dasar pengenaan pajak.
Menurut saya, pemilik laundry sebaiknya mulai mengurus administrasi pajak sejak awal. Kamu tidak perlu menunggu usaha memiliki banyak pelanggan atau membuka cabang untuk mencatat pemasukan dengan teratur.
Apa Itu Pajak Jasa Laundry?
Pajak jasa laundry merujuk pada kewajiban perpajakan yang muncul dari kegiatan usaha laundry. Jenis dan cara pemenuhannya mengikuti status wajib pajak, penghasilan usaha, serta aturan yang berlaku.
Ada beberapa aspek perpajakan yang perlu kamu kenali.
- Pajak penghasilan (PPh): berkaitan dengan penghasilan yang diperoleh dari kegiatan usaha.
- PPh Final UMKM: skema pajak dengan tarif khusus bagi wajib pajak yang memenuhi persyaratan.
- Pajak pertambahan nilai (PPN): perlu diperiksa jika usaha memenuhi ketentuan sebagai Pengusaha Kena Pajak atau PKP.
- Administrasi perpajakan: mencakup pendaftaran, pencatatan omzet, pembayaran, dan pelaporan sesuai ketentuan.
Ketentuan PPh Final UMKM untuk Usaha Laundry
PPh Final UMKM antara lain diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022. Peraturan ini membahas perlakuan pajak penghasilan atas penghasilan usaha dengan peredaran bruto tertentu.
Bagi pemilik laundry, skema tersebut bisa menjadi pilihan apabila seluruh persyaratannya terpenuhi. Meski perhitungannya relatif sederhana, kamu tetap perlu memeriksa status wajib pajak sebelum menerapkannya.
Tarif PPh Final UMKM sebesar 0,5%
Wajib pajak yang memenuhi ketentuan dapat menggunakan tarif PPh Final sebesar 0,5% dari peredaran bruto yang menjadi dasar pengenaan pajak. Artinya, penghitungan pajak menggunakan omzet yang relevan, bukan keuntungan setelah dikurangi seluruh biaya operasional.
Sebagai contoh, sebuah usaha laundry memperoleh omzet Rp20 juta dalam satu bulan. Jika seluruh omzet itu masuk dalam skema PPh Final 0,5% dan tidak ada pengecualian yang memengaruhi penghitungan, pajaknya menjadi Rp100.000.
Perhitungannya cukup sederhana. Omzet Rp20 juta dikalikan tarif 0,5%, sehingga menghasilkan pajak sebesar Rp100.000.
Batas omzet dan masa penggunaan fasilitas
Secara umum, skema PPh Final UMKM ditujukan bagi wajib pajak yang memiliki peredaran bruto usaha tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam satu tahun pajak. Meski demikian, batas omzet tersebut bukan satu-satunya syarat yang perlu diperhatikan.
Masa penggunaan fasilitas juga bergantung pada bentuk wajib pajak. Secara umum, jangka waktu yang diatur meliputi:
- Wajib pajak orang pribadi, paling lama tujuh tahun pajak.
- Wajib pajak berbentuk koperasi, CV, firma, BUMDes atau BUMDesma, serta perseroan perorangan yang memenuhi ketentuan, paling lama empat tahun pajak.
- Wajib pajak berbentuk perseroan terbatas, paling lama tiga tahun pajak.
Fasilitas omzet Rp500 juta untuk wajib pajak orang pribadi
Ada ketentuan khusus bagi wajib pajak orang pribadi yang memenuhi persyaratan PPh Final UMKM. Bagian peredaran bruto usaha sampai dengan Rp500 juta dalam satu tahun pajak tidak dikenai PPh Final.
Fasilitas ini berlaku bagi wajib pajak orang pribadi yang memenuhi ketentuan, bukan otomatis bagi badan usaha. Apabila omzet tahunan melewati Rp500 juta, penghitungan PPh Final memperhitungkan bagian omzet yang melampaui batas tersebut.
Misalnya, seorang pemilik laundry perorangan memperoleh omzet kumulatif Rp650 juta dalam satu tahun. Jika ia memenuhi seluruh persyaratan skema PPh Final UMKM, bagian omzet yang menjadi dasar penghitungan pajak adalah Rp150 juta.
Dengan tarif 0,5%, pajak atas bagian tersebut sebesar Rp750.000. Simulasi ini mengasumsikan seluruh omzet terkait memenuhi ketentuan dan tidak ada faktor lain yang mengubah perlakuan pajaknya.
Cara Menghitung Pajak Laundry dengan Benar
Cara menghitung pajak laundry bergantung pada skema yang berlaku bagi pemilik usaha. Jika kamu memenuhi persyaratan PPh Final UMKM, penghitungan dasarnya menggunakan peredaran bruto yang menjadi objek pajak.
Supaya tidak keliru, lakukan beberapa langkah berikut.
1. Catat seluruh omzet usaha
Mulailah dengan mencatat setiap pemasukan. Masukkan pendapatan dari cuci kiloan, pencucian sepatu, layanan setrika, dan jasa tambahan lainnya.
Kamu bisa menggunakan buku kas, spreadsheet, atau aplikasi pembukuan sederhana. Pilih cara yang paling mudah diterapkan setiap hari, lalu gunakan secara konsisten.
2. Periksa kelayakan menggunakan PPh Final UMKM
Setelah mencatat omzet, periksa apakah usaha memenuhi persyaratan skema PPh Final UMKM. Lihat bentuk wajib pajak, jumlah peredaran bruto, dan masa penggunaan fasilitas.
Periksa juga apakah terdapat penghasilan yang tidak termasuk dalam skema tersebut. Jika masa fasilitas sudah berakhir atau syaratnya tidak terpenuhi, kamu perlu menerapkan ketentuan PPh yang sesuai.
Jangan langsung memakai tarif 0,5% hanya karena omzet usaha masih tergolong kecil.
3. Hitung pajak berdasarkan ketentuan yang berlaku
Bagi wajib pajak yang memenuhi persyaratan PPh Final UMKM, rumus dasarnya sebagai berikut:
PPh Final = omzet yang menjadi dasar pengenaan pajak × 0,5%
Contohnya, sebuah usaha laundry berbentuk badan memperoleh omzet Rp30 juta dalam satu bulan. Jika seluruh omzet memenuhi ketentuan PPh Final, perhitungannya menjadi:
- Omzet bulanan: Rp30.000.000
- Tarif PPh Final: 0,5%
- Pajak terutang: Rp30.000.000 × 0,5% = Rp150.000
Perhitungan ini berlaku dengan asumsi seluruh omzet tersebut masuk dalam dasar pengenaan PPh Final. Untuk wajib pajak orang pribadi, kamu perlu memperhitungkan fasilitas omzet sampai dengan Rp500 juta per tahun sesuai ketentuan.
4. Simpan bukti perhitungan
Jangan berhenti setelah mendapatkan angka pajak. Simpan rekap omzet, bukti transaksi, bukti pembayaran, dan dokumen pendukung lainnya.
Dokumen tersebut akan membantu ketika kamu ingin memeriksa kembali penghitungan pajak atau menyiapkan laporan tahunan. Selain itu, pencatatan yang teratur memudahkan kamu menemukan selisih antara uang masuk dan jumlah penjualan.
Cara Lapor Pajak Laundry dan Membayar PPh Final UMKM
Menghitung pajak merupakan satu bagian dari kewajiban perpajakan. Pemilik laundry juga perlu memahami prosedur pembayaran dan pelaporannya.
Perlu diketahui, pembayaran pajak dan penyampaian Surat Pemberitahuan atau SPT merupakan dua hal yang berbeda. Ketentuan administrasinya mengikuti jenis pajak, status wajib pajak, dan prosedur DJP yang berlaku.
1. Periksa data perpajakan usaha
Pertama, pastikan data wajib pajak sudah sesuai. Periksa NPWP, identitas pemilik, serta status usaha yang tercatat dalam administrasi perpajakan.
Jika ada perubahan bentuk usaha atau data lainnya, pastikan perubahan tersebut sudah ditangani sesuai prosedur. Langkah ini membantu mengurangi masalah ketika kamu membayar pajak atau menyampaikan SPT.
2. Buat kode billing dan bayar pajak jika terutang
Jika kamu perlu menyetor pajak sendiri, buat kode billing melalui layanan resmi DJP yang tersedia. Masukkan jenis setoran dan masa pajak dengan benar sebelum melakukan pembayaran.
Setelah itu, lakukan pembayaran melalui kanal yang ditetapkan. Untuk PPh Final UMKM yang disetor sendiri, tenggat pembayaran umumnya jatuh pada tanggal 15 bulan berikutnya.
3. Periksa kewajiban pelaporan masa
Dalam kondisi tertentu, pembayaran PPh Final UMKM dapat sekaligus memenuhi ketentuan pelaporan masa sesuai aturan yang berlaku. Namun, perlakuan ini tidak berarti seluruh kewajiban SPT otomatis selesai.
Karena itu, periksa ketentuan yang berlaku untuk jenis setoran dan status wajib pajakmu. Jika masih ragu, gunakan layanan resmi DJP atau tanyakan prosedurnya kepada petugas pajak.
4. Sampaikan SPT Tahunan sesuai ketentuan
Wajib pajak yang memiliki kewajiban SPT Tahunan perlu melaporkan penghasilan dan informasi perpajakannya sesuai aturan. Siapkan catatan omzet, bukti pembayaran, serta dokumen pendukung sebelum mengisi laporan.
Periksa kembali setiap angka yang kamu masukkan. Pastikan jumlah penghasilan sesuai dengan pembukuan dan dokumen yang tersedia.
Pembayaran PPh Final tidak otomatis menghapus kewajiban SPT Tahunan bagi wajib pajak yang masih wajib melaporkannya. Oleh sebab itu, periksa tenggat dan prosedur terbaru melalui kanal resmi DJP.
5. Arsipkan dokumen perpajakan
Setelah pembayaran dan pelaporan selesai, simpan bukti transaksi serta dokumen pendukung dalam satu tempat. Kamu bisa menyimpan salinan digital agar dokumen mudah ditemukan saat diperlukan.
Apakah Usaha Laundry Wajib Memungut PPN?
Tidak semua usaha laundry harus memungut PPN. Kewajiban tersebut bergantung pada status Pengusaha Kena Pajak atau PKP dan ketentuan yang berlaku.
Secara umum, pengusaha dengan omzet yang belum melampaui batas pengusaha kecil tidak wajib dikukuhkan sebagai PKP, kecuali terdapat kondisi atau ketentuan lain yang mewajibkannya. Batas omzet yang umum digunakan adalah Rp4,8 miliar dalam satu tahun buku.
Jika usaha laundry sudah dikukuhkan sebagai PKP, pemilik perlu menjalankan kewajiban PPN sesuai aturan. Kewajiban itu dapat mencakup pemungutan, penyetoran, dan pelaporan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Mengurus Pajak Laundry
Kesalahan administrasi sering muncul ketika pemilik usaha belum memiliki sistem pencatatan yang teratur. Akibatnya, penghitungan pajak bisa meleset atau dokumen pendukung sulit ditemukan.
Perhatikan beberapa kekeliruan berikut.
- Menghitung pajak dari laba. PPh Final UMKM menggunakan peredaran bruto yang menjadi dasar pengenaan pajak, bukan laba bersih.
- Mengabaikan omzet tahunan. Wajib pajak orang pribadi perlu memperhitungkan fasilitas omzet sampai dengan Rp500 juta dalam satu tahun.
- Menggunakan tarif 0,5% tanpa memeriksa masa fasilitas. Skema ini memiliki batas waktu sesuai bentuk wajib pajak.
- Menyamakan PPh dan PPN. Keduanya mempunyai dasar dan ketentuan berbeda.
- Tidak menyimpan bukti transaksi. Catatan yang tidak lengkap dapat menyulitkan penghitungan pajak dan pemeriksaan.
- Melewatkan tenggat pembayaran atau pelaporan. Pemilik perlu memeriksa jadwal yang berlaku agar kewajiban pajak tetap tertib.
FAQ Seputar Pajak Jasa Laundry
1. Berapa tarif pajak jasa laundry untuk UMKM?
Tarif PPh Final UMKM dapat sebesar 0,5% dari omzet yang menjadi dasar pengenaan pajak, jika wajib pajak memenuhi persyaratan. Pemilik perlu memperhatikan batas omzet dan masa penggunaan fasilitas. Bagi wajib pajak orang pribadi, ada pula fasilitas atas omzet sampai dengan Rp500 juta per tahun sesuai ketentuan.
2. Apakah usaha laundry kecil wajib membayar pajak?
Pemilik usaha perlu memeriksa kewajiban pajak berdasarkan status wajib pajak dan penghasilan yang diperoleh. Wajib pajak orang pribadi yang memenuhi syarat PPh Final UMKM dapat memperoleh fasilitas atas omzet sampai dengan Rp500 juta per tahun. Namun, fasilitas tersebut tidak otomatis menghapus seluruh kewajiban administrasi perpajakan.
3. Bagaimana cara lapor pajak laundry secara online?
Gunakan layanan resmi DJP untuk memenuhi kewajiban pembayaran dan pelaporan sesuai status perpajakan usaha. Siapkan catatan omzet, bukti pembayaran, dan data wajib pajak sebelum memulai proses. Periksa juga ketentuan SPT Tahunan serta prosedur terbaru agar pelaporan sesuai aturan.
Kesimpulan
Pajak jasa laundry perlu dikelola dengan pencatatan yang rapi dan pemahaman aturan yang tepat. PPh Final UMKM dengan tarif 0,5% bisa berlaku bagi usaha yang memenuhi persyaratan. Namun, pemilik tetap perlu memperhatikan batas omzet, bentuk wajib pajak, masa penggunaan fasilitas, dan ketentuan khusus bagi wajib pajak orang pribadi.
Mulailah dengan mencatat semua pemasukan. Setelah itu, periksa status perpajakan, hitung pajak sesuai skema yang berlaku, dan penuhi kewajiban pembayaran serta pelaporan tepat waktu.
Menurut saya, kepatuhan pajak akan lebih mudah jika pemilik usaha membangun kebiasaan administrasi sejak awal. Catatan yang lengkap membantu kamu mengetahui kondisi keuangan sekaligus mengurangi risiko kesalahan penghitungan.
Ingin mendiskusikan persoalan hukum atau perpajakan yang berkaitan dengan usahamu? Silakan klik poster yang tersedia atau tekan tombol “KONSULTASI GRATIS” di pojok kanan website untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Ringkasan
- Pajak jasa laundry bergantung pada status wajib pajak, omzet, bentuk usaha, dan jenis kewajibannya.
- PPh Final UMKM sebesar 0,5% dapat digunakan jika pemilik usaha memenuhi persyaratan.
- Batas omzet skema PPh Final UMKM secara umum adalah Rp4,8 miliar per tahun, dengan ketentuan dan pengecualian tertentu.
- Wajib pajak orang pribadi yang memenuhi syarat memperoleh fasilitas atas omzet sampai dengan Rp500 juta per tahun.
- Penghitungan PPh Final menggunakan omzet yang menjadi dasar pengenaan pajak, bukan laba bersih.
- Pemilik usaha perlu memeriksa tenggat pembayaran, kewajiban SPT Tahunan, dan prosedur administrasi terbaru.
- Kewajiban PPN bergantung pada status PKP dan ketentuan perpajakan yang berlaku.
Referensi
- Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di Bidang Pajak Penghasilan
- Peraturan Menteri Keuangan Nomor 164 Tahun 2023
- Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
- Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah





