Memahami cara menghitung valuasi perusahaan startup penting bagi founder sebelum mencari pendanaan dari angel investor maupun perusahaan modal ventura atau venture capital.
Valuasi menunjukkan perkiraan nilai sebuah perusahaan pada saat tertentu dan biasanya menjadi salah satu dasar dalam menentukan jumlah investasi serta persentase saham yang diberikan kepada investor.
Karena itu, angka valuasi dapat berpengaruh langsung terhadap kepemilikan founder setelah putaran pendanaan selesai.
Pembahasan mengenai valuasi juga semakin penting karena ekonomi digital Indonesia terus berkembang.
Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia hampir mencapai US$100 miliar dalam Gross Merchandise Value (GMV) pada 2025, atau tumbuh sekitar 14% dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski pasar digital Indonesia semakin besar, potensi pasar saja belum cukup untuk membuat sebuah startup memiliki valuasi tinggi.
Investor biasanya tetap melihat kondisi bisnis secara menyeluruh, mulai dari kualitas tim, pertumbuhan pendapatan, jumlah pengguna, potensi pasar, sampai risiko bisnis.
Menurut pendapat saya, valuasi startup sebaiknya tidak dipahami sebagai angka pasti yang hanya berasal dari sebuah rumus.
Valuasi merupakan hasil gabungan antara data bisnis, proyeksi masa depan, tingkat risiko, kondisi pasar, dan proses negosiasi antara founder dengan investor.
Cara Menghitung Valuasi Perusahaan Startup, Ini Metodenya
Cara menghitung valuasi perusahaan startup dapat dilakukan dengan beberapa metode, seperti Discounted Cash Flow, Berkus Method, First Chicago Method, dan Comparable Method.
Metode yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangan startup dan data bisnis yang sudah tersedia.
Sebelum memilih metode valuasi startup, founder perlu memahami istilah pre-money valuation dan post-money valuation terlebih dahulu.
Apa Itu Pre-Money dan Post-Money Valuation?
Pre-money valuation adalah nilai perusahaan sebelum menerima investasi baru, sedangkan post-money valuation adalah nilai perusahaan setelah investasi masuk.
Selisih antara keduanya berasal dari jumlah modal baru yang diterima perusahaan.
Rumus sederhananya adalah:
Post-money valuation = Pre-money valuation + Investasi baru
Sebagai contoh, sebuah startup mempunyai pre-money valuation sebesar Rp40 miliar.
Kemudian, investor memberikan pendanaan sebesar Rp10 miliar.
Artinya, post-money valuation perusahaan menjadi Rp50 miliar.
Selanjutnya, persentase kepemilikan investor dapat dihitung dengan membagi nilai investasi dengan post-money valuation.
Dalam contoh tersebut, perhitungannya adalah Rp10 miliar dibagi Rp50 miliar, sehingga investor memperoleh sekitar 20% kepemilikan perusahaan.
Contoh sederhana tersebut menunjukkan bahwa valuasi berkaitan langsung dengan besarnya saham yang harus dilepas founder kepada investor.
1. Discounted Cash Flow atau DCF
Discounted Cash Flow atau DCF adalah metode yang menghitung nilai perusahaan berdasarkan perkiraan arus kas yang dapat dihasilkan pada masa depan.
Arus kas tersebut kemudian disesuaikan menjadi nilai saat ini dengan mempertimbangkan waktu dan risiko bisnis.
Secara sederhana, perusahaan dengan potensi arus kas yang besar dan risiko yang lebih rendah biasanya memiliki nilai yang lebih tinggi.
Namun, metode DCF cukup sulit diterapkan pada startup yang masih berada di tahap awal.
Startup baru biasanya belum memiliki pendapatan stabil, keuntungan masih berubah-ubah, dan kebutuhan modalnya masih tinggi.
Selain itu, kondisi bisnis startup dapat berubah dengan cepat sehingga proyeksi beberapa tahun ke depan menjadi lebih sulit dibuat.
Aswath Damodaran dari NYU Stern menjelaskan bahwa valuasi perusahaan muda memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi karena pertumbuhan pendapatan, margin keuntungan, kebutuhan investasi, dan risiko perusahaan masih dapat berubah secara besar.
Damodaran juga menekankan bahwa valuasi selalu mengandung ketidakpastian sehingga hasil perhitungan sebaiknya dipahami sebagai estimasi, bukan angka yang pasti.
Karena itu, founder yang menggunakan DCF perlu membuat proyeksi bisnis dengan asumsi yang realistis dan dapat dijelaskan kepada investor.
2. Berkus Method
Berkus Method adalah metode valuasi yang cocok digunakan untuk startup tahap awal yang belum memiliki pendapatan stabil.
Metode ini lebih fokus menilai kemajuan bisnis yang sudah mampu mengurangi risiko daripada hanya mengandalkan proyeksi pendapatan masa depan.
Dave Berkus membagi penilaian startup ke dalam beberapa unsur utama, yaitu:
- kualitas ide bisnis
- keberadaan produk atau prototipe
- kualitas tim manajemen
- hubungan atau kerja sama strategis dan
- peluncuran produk atau penjualan awal
Semakin banyak risiko yang berhasil dikurangi, semakin kuat dasar startup untuk mendapatkan valuasi yang lebih tinggi.
Dalam pembaruan Berkus Method pada 2024, Dave Berkus juga menjelaskan bahwa nilai pada setiap unsur dapat disesuaikan dengan lokasi, kondisi pasar, dan jenis bisnis.
Artinya, founder Indonesia tidak sebaiknya langsung menggunakan benchmark valuasi startup Amerika Serikat tanpa menyesuaikannya dengan kondisi pasar Indonesia.
Dave Berkus kembali menegaskan pada 2026 bahwa valuasi perusahaan yang belum menghasilkan pendapatan pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh negosiasi dan kemampuan startup menunjukkan bahwa risiko bisnisnya semakin kecil.
3. First Chicago Method
First Chicago Method menghitung valuasi startup dengan membuat beberapa kemungkinan kondisi bisnis pada masa depan.
Biasanya, metode ini menggunakan skenario buruk, skenario normal, dan skenario terbaik.
Setiap skenario kemudian diberikan kemungkinan atau probabilitas tertentu.
Setelah itu, nilai dari seluruh skenario digabungkan untuk mendapatkan perkiraan valuasi perusahaan.
Rumus sederhananya dapat ditulis sebagai berikut:
Valuasi = (Nilai Skenario Buruk × Probabilitas) + (Nilai Skenario Normal × Probabilitas) + (Nilai Skenario Baik × Probabilitas)
Sebagai contoh, founder dapat membuat beberapa perkiraan berdasarkan kemungkinan pertumbuhan pengguna, pendapatan, margin keuntungan, dan ekspansi pasar dalam lima tahun berikutnya.
Pendekatan ini membantu founder dan investor melihat lebih dari satu kemungkinan perkembangan bisnis.
Karena itu, First Chicago Method dapat menjadi pilihan ketika potensi startup cukup besar tetapi tingkat ketidakpastiannya juga masih tinggi.
4. Market Multiple atau Comparable Method
Market Multiple atau Comparable Method menghitung valuasi dengan membandingkan startup dengan perusahaan lain yang memiliki karakteristik bisnis serupa.
Perbandingan biasanya melihat industri, pendapatan, tingkat pertumbuhan, model bisnis, dan kondisi pasar.
Beberapa rasio yang sering digunakan antara lain:
- Enterprise Value to Revenue
- Price to Sales
- Enterprise Value to EBITDA dan
- nilai perusahaan per pengguna untuk model bisnis tertentu.
Sebagai contoh, startup SaaS dapat membandingkan nilai perusahaan dengan startup SaaS lain yang memiliki tingkat pendapatan dan pertumbuhan yang hampir sama.
Namun, angka pembanding tidak sebaiknya langsung digunakan sebagai nilai akhir.
Founder tetap perlu mempertimbangkan perbedaan pertumbuhan, margin keuntungan, jumlah pelanggan, retensi pelanggan, teknologi, dan kondisi pasar.
Dengan demikian, Comparable Method lebih tepat digunakan sebagai acuan untuk mengetahui kisaran valuasi yang masih masuk akal.

Faktor yang Mempengaruhi Tinggi Rendahnya Valuasi Bisnis
Faktor yang mempengaruhi valuasi bisnis berasal dari kondisi internal perusahaan dan kondisi pasar di luar perusahaan.
Investor biasanya menilai kualitas founder, ukuran pasar, pertumbuhan bisnis, kondisi keuangan, keunggulan perusahaan, risiko hukum, serta situasi pasar pendanaan.
Beberapa faktor internal yang sering menjadi perhatian investor meliputi:
- Kualitas founder dan tim, yaitu kemampuan tim menjalankan strategi dan mengembangkan bisnis.
- Ukuran pasar atau Total Addressable Market (TAM), yaitu besarnya peluang pasar yang dapat dituju oleh perusahaan.
- Traksi bisnis, seperti pendapatan, pertumbuhan transaksi, jumlah pengguna aktif, atau kontrak dengan pelanggan.
- Keunggulan kompetitif, seperti teknologi, merek, jaringan distribusi, data, atau hak kekayaan intelektual.
- Unit economics, yaitu kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan dan keuntungan dari setiap pelanggan.
- Burn rate, yaitu jumlah uang yang digunakan perusahaan dalam periode tertentu.
- Runway, yaitu perkiraan waktu perusahaan masih dapat berjalan menggunakan kas yang tersedia.
Ukuran pasar juga mempunyai peran penting dalam valuasi perusahaan yang sedang bertumbuh.
Damodaran menjelaskan bahwa potensi pasar merupakan salah satu faktor utama yang digunakan untuk memperkirakan kemampuan perusahaan muda dalam meningkatkan pendapatannya pada masa depan.
Selain kondisi perusahaan, jumlah modal yang tersedia di pasar juga dapat memengaruhi valuasi startup.
Penelitian Paul Gompers dan Josh Lerner yang diterbitkan dalam Journal of Financial Economics menemukan bahwa peningkatan modal yang masuk ke dana venture capital berkaitan dengan kenaikan valuasi investasi baru.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak investor yang bersaing mendapatkan startup menarik, semakin besar pula kemungkinan harga investasi ikut meningkat.
Karena itu, startup dengan kondisi bisnis yang hampir sama dapat memperoleh valuasi berbeda ketika situasi pasar pendanaan berubah.
Regulasi dan Legalitas Juga Bisa Mempengaruhi Valuasi
Kepatuhan hukum dapat memengaruhi penilaian investor karena masalah legalitas dapat meningkatkan risiko sebuah investasi.
Investor biasanya memeriksa dokumen perusahaan, struktur saham, kontrak, kewajiban pajak, perizinan usaha, dan kepemilikan kekayaan intelektual dalam proses due diligence.
Untuk perusahaan modal ventura di Indonesia, salah satu aturan yang relevan adalah POJK Nomor 25 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Modal Ventura Syariah.
Regulasi tersebut mengatur kegiatan usaha perusahaan modal ventura, termasuk prinsip kehati-hatian, pengelolaan risiko, serta kegiatan penyertaan modal.
Kerangka pengawasannya kemudian diperkuat melalui POJK Nomor 49 Tahun 2024, yang berlaku sejak 31 Desember 2024 dan mengatur pengawasan terhadap perusahaan modal ventura serta lembaga keuangan lainnya.
Kemudian, OJK menerbitkan POJK Nomor 35 Tahun 2025 yang berlaku sejak 22 Desember 2025 untuk memperbarui ketentuan mengenai pengembangan dan penguatan perusahaan pembiayaan, perusahaan pembiayaan infrastruktur, dan perusahaan modal ventura.
Dengan demikian, founder sebaiknya tidak hanya menyiapkan laporan keuangan ketika mencari investor.
Founder juga perlu memastikan struktur perusahaan, kepemilikan saham, kontrak, perizinan, pajak, dan aset kekayaan intelektual sudah tertata dengan baik.
Beda Valuasi Pre-Seed, Seed, dan Series A
Perbedaan valuasi pre-seed, seed, dan Series A terutama terletak pada seberapa banyak bukti bisnis yang sudah dimiliki startup.
Semakin matang sebuah startup, semakin banyak data nyata yang dapat digunakan investor untuk menilai perusahaan.
| Tahap | Fokus Bisnis | Data yang Umumnya Tersedia | Metode yang Dapat Digunakan |
|---|---|---|---|
| Pre-Seed | Membuktikan ide dan membangun tim | Ide, riset pasar, prototype | Berkus Method, Scorecard |
| Seed | Mencari product-market fit | Pengguna, transaksi, pendapatan awal | Berkus, Comparable, VC Method |
| Series A | Memperbesar bisnis | Revenue, retention, growth, unit economics | Comparable, Revenue Multiple, First Chicago, DCF |
Valuasi Pre-Seed
Pada tahap pre-seed, investor lebih banyak menilai kualitas founder, ide bisnis, produk awal, dan besarnya peluang pasar.
Startup pada tahap ini biasanya belum memiliki pendapatan yang cukup untuk membuat analisis keuangan yang mendalam.
Karena itu, metode seperti Berkus Method lebih mudah digunakan daripada DCF.
Valuasi Seed
Pada tahap seed, investor mulai mencari bukti bahwa produk memiliki pengguna dan peluang untuk berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan.
Indikator seperti pertumbuhan pengguna, pendapatan bulanan, transaksi, retensi pelanggan, dan biaya mendapatkan pelanggan mulai menjadi perhatian.
Karena data bisnis sudah mulai tersedia, founder dapat menggabungkan metode kualitatif dengan Comparable Method.
Valuasi Series A
Pada tahap Series A, investor biasanya meminta bukti bahwa bisnis dapat tumbuh secara lebih besar dan tetap memiliki model ekonomi yang sehat.
Karena itu, data seperti pertumbuhan pendapatan, retensi pelanggan, margin, customer acquisition cost, dan unit economics mempunyai peran yang lebih besar.
Metode kuantitatif seperti Revenue Multiple, Comparable Method, First Chicago Method, dan DCF juga mulai lebih relevan.
Paul Graham, salah satu pendiri Y Combinator, menjelaskan bahwa perusahaan tahap sangat awal sulit dinilai dengan satu perhitungan yang benar-benar objektif.
Menurut Graham, posisi tawar founder dan investor juga ikut menentukan angka valuasi pada tahap awal.
Selain itu, meningkatnya minat investor terhadap sebuah startup dapat membuat founder memiliki posisi negosiasi yang lebih kuat dan mendorong harga investasi menjadi lebih tinggi.
Tips Menentukan Valuasi Startup agar Lebih Realistis
Founder sebaiknya tidak menentukan valuasi hanya karena ingin memperoleh angka setinggi mungkin.
Valuasi yang baik perlu memiliki dasar data, metode yang jelas, dan asumsi yang dapat dijelaskan kepada investor.
Salah satu cara yang dapat digunakan adalah melakukan valuation triangulation.
Founder dapat menghitung valuasi menggunakan dua atau tiga metode yang berbeda lalu membandingkan hasilnya.
Sebagai contoh, founder dapat menggunakan Comparable Method, First Chicago Method, dan Berkus Method sesuai tahap perkembangan perusahaan.
Apabila hasil dari beberapa metode berada dalam rentang yang tidak terlalu jauh, founder memiliki dasar negosiasi yang lebih kuat.
Selain valuasi, founder juga perlu menghitung tingkat dilusi saham setelah investasi.
Valuasi tinggi memang dapat mengurangi persentase saham yang diberikan untuk jumlah investasi tertentu, tetapi angka valuasi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.
Founder juga perlu membaca ketentuan lain di dalam term sheet, seperti liquidation preference, hak suara investor, ketentuan option pool, hak anti-dilusi, dan ketentuan mengenai putaran investasi berikutnya.
Dave Berkus pada 2026 bahkan menekankan bahwa founder perlu memperhatikan tingkat dilusi karena valuasi hanya menggambarkan kondisi pada satu waktu, sedangkan saham yang sudah diberikan kepada investor memiliki dampak jangka panjang.
Karena itu, target utama founder sebaiknya bukan sekadar mengejar valuasi tertinggi, tetapi mendapatkan struktur pendanaan yang mendukung pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.

Kesimpulan
Tidak ada satu metode yang dapat digunakan sebagai jawaban mutlak dalam cara menghitung valuasi perusahaan startup.
DCF dapat digunakan ketika data keuangan dan proyeksi arus kas sudah cukup kuat.
Sementara itu, Berkus Method lebih sesuai untuk perusahaan tahap awal yang belum memiliki pendapatan stabil.
First Chicago Method dapat membantu ketika kondisi masa depan masih penuh ketidakpastian.
Kemudian, Comparable Method dapat digunakan untuk melihat kisaran nilai perusahaan berdasarkan startup atau perusahaan sejenis.
Founder juga perlu memahami bahwa valuasi dipengaruhi oleh kualitas bisnis, kondisi pasar, risiko, aturan hukum, dan kekuatan negosiasi.
Menurut pendapat saya, founder sebaiknya tidak terlalu terobsesi mengejar valuasi tinggi pada tahap awal.
Valuasi yang terlalu tinggi dapat menciptakan target pertumbuhan yang sulit dicapai ketika perusahaan masuk ke putaran pendanaan berikutnya.
Apabila perkembangan bisnis tidak mampu mengejar valuasi sebelumnya, startup bahkan dapat menghadapi risiko down round atau pendanaan baru dengan valuasi yang lebih rendah.
Karena itu, valuasi yang realistis dan didukung kondisi bisnis yang sehat dapat menjadi dasar yang lebih baik untuk membangun perusahaan secara berkelanjutan.
Ringkasan
- Valuasi startup adalah perkiraan nilai perusahaan yang digunakan dalam proses investasi dan negosiasi kepemilikan saham.
- Pre-money valuation adalah nilai perusahaan sebelum investasi baru masuk.
- Post-money valuation adalah nilai perusahaan setelah investasi baru masuk.
- DCF menggunakan perkiraan arus kas perusahaan pada masa depan.
- Berkus Method cocok untuk startup tahap awal atau perusahaan yang belum mempunyai pendapatan stabil.
- First Chicago Method menghitung nilai perusahaan menggunakan beberapa skenario perkembangan bisnis.
- Comparable Method membandingkan startup dengan perusahaan lain yang memiliki karakteristik serupa.
- Faktor yang memengaruhi valuasi antara lain kualitas founder, ukuran pasar, traksi, pendapatan, unit economics, burn rate, legalitas, dan kondisi pasar pendanaan.
- Startup pre-seed lebih banyak dinilai berdasarkan potensi dan kualitas tim.
- Startup seed mulai dinilai menggunakan data pengguna dan pendapatan awal.
- Startup Series A semakin banyak dinilai berdasarkan pertumbuhan, pendapatan, retensi pelanggan, dan kemampuan bisnis untuk berkembang.
- Founder sebaiknya membandingkan beberapa metode valuasi sebelum menentukan rentang nilai perusahaan.
- Founder juga perlu memperhatikan dilusi saham dan ketentuan investasi, bukan hanya angka valuasi.
Referensi
- Google, Temasek, dan Bain & Company, e-Conomy SEA 2025: Ekonomi Digital Indonesia Mendekati GMV US$100 Miliar, Google Indonesia, 2025.
- Damodaran, Aswath, Valuing Young, Start-up and Growth Companies: Estimation Issues and Valuation Challenges, NYU Stern School of Business.
- Damodaran, Aswath, An Introduction to Valuation, NYU Stern School of Business.
- Damodaran, Aswath, Young Growth Companies: Value Drivers, NYU Stern School of Business.
- Berkus, Dave, The Berkus Method: Valuing an Early-Stage Investment, Berkus.com, 2024.
- Berkus, Dave, The Biggest Valuation Mistake Founders Make Isn’t Aiming Too High, Berkus.com, 2026.
- Gompers, Paul A. dan Josh Lerner, Money Chasing Deals? The Impact of Fund Inflows on Private Equity Valuations, Journal of Financial Economics, Vol. 55, 2000.
- Graham, Paul, How to Be an Angel Investor, PaulGraham.com.
- Graham, Paul, The New Funding Landscape, PaulGraham.com.
- Otoritas Jasa Keuangan, POJK Nomor 25 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Modal Ventura Syariah.
- Otoritas Jasa Keuangan, POJK Nomor 49 Tahun 2024 tentang Pengawasan, Penetapan Status Pengawasan, dan Tindak Lanjut Pengawasan Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.
- Otoritas Jasa Keuangan, POJK Nomor 35 Tahun 2025 tentang Perubahan atas POJK Nomor 46 Tahun 2024 tentang Pengembangan dan Penguatan Perusahaan Pembiayaan, Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur, dan Perusahaan Modal Ventura.




