Stock split adalah aksi korporasi ketika perusahaan memecah satu saham menjadi beberapa saham dengan nilai nominal yang lebih kecil.
Pengumumannya hampir selalu menarik perhatian investor ritel. Harga saham mendadak terlihat murah, lalu muncul bisikan di grup obrolan bahwa cuan sudah dekat.
Benarkah begitu? Belum tentu.Singkatnya, pemecahan saham menambah jumlah lembar yang beredar dan menurunkan harga per lembar dengan perbandingan yang sama.
Nilai perusahaan tidak berubah. Total uang yang kamu tanam pun tetap sama pada saat pemecahan berlaku.
Sebagai praktisi hukum, saya berpendapat investor sebaiknya membaca aksi ini dari dua arah sekaligus, yaitu aturan hukumnya dan kondisi keuangan emitennya.
Regulasi di Indonesia sudah memasang syarat yang cukup ketat supaya stock split tidak dipakai untuk memancing spekulasi. Karena itu, artikel ini mengulas pengertian, tujuan, aturan, sampai dampaknya dengan bahasa yang mudah diikuti.
Baca juga: Peluang Bisnis Agen J&T Express, Ini Syarat dan Modalnya
Pengertian Stock Split dan Cara Kerjanya
Stock split, atau pemecahan saham, mengecilkan nilai nominal setiap lembar saham. Jumlah saham beredar otomatis bertambah sesuai rasio yang ditetapkan.
Rasio stock split biasanya ditulis 1:2, 1:5, atau 1:10. Angka 1:5 berarti satu saham lama berubah menjadi lima saham baru.
Jumlah lembar di rekeningmu naik, sementara porsi kepemilikanmu atas perusahaan tetap persis seperti sebelumnya.
Contoh Hitungan Stock Split
Bayangkan kamu memegang 1.000 lembar saham seharga Rp5.000. Total nilainya Rp5.000.000. Lalu emiten menjalankan stock split dengan rasio 1:5.
Setelah itu, rekeningmu berisi 5.000 lembar dengan harga teoretis Rp1.000 per lembar. Totalnya masih Rp5.000.000.
Harga di layar perdagangan memang bisa bergerak lain pada hari-hari berikutnya, karena pasar yang menentukan.
Perbedaan Stock Split dan Reverse Stock Split
Reverse stock split berjalan ke arah sebaliknya. Emiten menggabungkan beberapa saham menjadi satu saham dengan nilai nominal lebih besar.
Jumlah saham beredar menyusut, dan harga per lembar naik. Perusahaan biasanya menempuh cara ini ketika harga sahamnya sudah terlalu rendah.
Kalau kamu menemukan emiten yang melakukannya, cari tahu dulu alasan sebenarnya di balik keputusan itu.

Tujuan Stock Split bagi Emiten
Tidak ada emiten yang memecah saham tanpa pertimbangan. Setiap rencana biasanya membawa sasaran bisnis yang cukup jelas. Berikut tujuan stock split yang paling sering disampaikan perusahaan:
- Meningkatkan likuiditas. Harga per lembar yang lebih rendah mendorong transaksi lebih sering.
- Menjangkau investor ritel. Saham dengan harga terjangkau lebih mudah dibeli pemodal kecil.
- Memperluas basis pemegang saham. Kepemilikan jadi tersebar di lebih banyak tangan.
- Menyesuaikan harga dengan kondisi pasar. Emiten yang sahamnya sangat mahal ingin kembali ke rentang yang lazim.
- Memberi sinyal keyakinan manajemen. Direksi ingin menunjukkan optimisme terhadap prospek perusahaan.
Sampai di sini, kamu mungkin mengira stock split pasti membawa kabar baik. Sayangnya, tujuan-tujuan di atas bersifat teknis dan strategis.
Tidak ada satu pun yang menjanjikan kinerja saham akan membaik. Maka laporan keuangan dan prospek bisnis emiten tetap perlu kamu telaah sendiri.
Aturan Pemecahan Saham di Indonesia
Direksi tidak bisa memutuskan pemecahan saham sendirian. Peraturan OJK Nomor 15/POJK.04/2022 tentang Pemecahan Saham dan Penggabungan Saham oleh Perusahaan Terbuka mengatur syarat dan prosedurnya.
Sebagai tindak lanjut, Bursa Efek Indonesia menerbitkan Peraturan Nomor I-I yang berlaku sejak 1 April 2024. Perubahan nilai nominal juga menyentuh anggaran dasar perseroan, sehingga UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ikut berlaku.
Beberapa ketentuan pentingnya adalah sebagai berikut:
- Emiten wajib mengantongi persetujuan prinsip dari BEI sebelum mengumumkan RUPS.
- Pemegang saham harus menyetujui rencana itu dalam RUPS.
- BEI menilai likuiditas, harga dan fluktuasinya, kinerja keuangan, rasio pemecahan, serta pengawasan perdagangan saham emiten.
- Pada kondisi tertentu, emiten wajib menyampaikan laporan penilaian saham dari penilai. BEI juga dapat meminta laporan itu atau pertimbangan dari OJK.
- Emiten dilarang memecah saham dalam 24 bulan sejak pencatatan saham perdana.
- Emiten juga dilarang memecah saham dalam 12 bulan sejak salah satu peristiwa berikut, mana yang paling baru: -tanggal efektif pendaftaran penambahan modal dengan HMETD (right issue); – tanggal pelaksanaan terakhir penambahan modal tanpa HMETD, kecuali untuk program kepemilikan saham; – tanggal pelaksanaan stock split atau reverse stock split sebelumnya; – tanggal efektif penggabungan atau peleburan usaha.
Setelah stock split berjalan, emiten masih menghadapi satu pembatasan lagi. Selama 12 bulan, emiten tidak boleh menambah modal tanpa HMETD, kecuali untuk memperbaiki posisi keuangan.
Satu hal lagi layak dicatat. Pada kondisi tertentu, BEI berwenang menolak pelaksanaan pemecahan saham meskipun RUPS sudah memberi restu. Aturan ini melindungi investor dari aksi yang berpotensi memicu spekulasi.
Menurut saya, pengawasan berlapis seperti itu sudah tepat. Meski begitu, kamu tetap perlu membaca keterbukaan informasi emiten dengan teliti.
Dampak Stock Split bagi Investor
Dampak stock split bagi investor punya dua sisi. Ada keuntungan yang bisa kamu nikmati, ada pula risiko yang perlu kamu waspadai. Timbang keduanya sebelum mengambil keputusan.
Dampak Positif bagi Investor
Pertama, saham menjadi lebih terjangkau. Dengan modal kecil, kamu bisa membeli dalam jumlah lembar yang lebih fleksibel. Kedua, likuiditas cenderung membaik, sehingga transaksi beli dan jual terasa lebih lancar.
Ketiga, pasar sering menyambut pemecahan saham dengan sentimen positif, sebab banyak pelaku menafsirkannya sebagai tanda manajemen yakin pada prospek perusahaan.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Stock split tidak menambah nilai intrinsik perusahaan sedikit pun. Harga bisa melonjak beberapa hari karena sentimen, lalu turun lagi.
Investor yang hanya ikut keramaian sering terjebak di titik ini. Dividen per saham pun ikut menyesuaikan dengan jumlah saham yang baru.
Bagaimana dengan pajak? Pada umumnya, pemecahan saham tidak melahirkan penghasilan baru bagi pemegang saham.
Saat kamu menjual saham di bursa, berlaku PPh final sebesar 0,1% dari nilai bruto transaksi penjualan sesuai PP Nomor 14 Tahun 1997.
Pemotongan ini terjadi baik kamu untung maupun rugi, dan sekuritas melakukannya saat penyelesaian transaksi. Untuk kondisi pribadimu, tanyakan langsung ke konsultan pajak.

FAQ tentang Stock Split
- Apakah stock split membuat investor untung?Tidak otomatis. Stock split hanya mengubah jumlah lembar dan harga per lembar. Keuntungan datang dari kinerja perusahaan dan pergerakan harga sesudahnya.
- Apa bedanya stock split dengan right issue?Stock split memecah saham yang sudah ada dan tidak menambah modal perusahaan. Right issue menerbitkan saham baru, sehingga modal dan jumlah saham beredar sama-sama bertambah.
- Apakah investor perlu melakukan sesuatu saat stock split terjadi? Umumnya tidak. Sekuritas dan KSEI menyesuaikan jumlah saham di rekeningmu secara otomatis. Cukup pantau jadwal pelaksanaan yang diumumkan emiten.
Kesimpulan
Stock split adalah cara emiten menyesuaikan harga dan jumlah saham tanpa mengubah nilai perusahaan. Alasan yang paling sering muncul adalah meningkatkan likuiditas dan menjangkau lebih banyak investor.
OJK dan BEI mengatur prosesnya dengan ketat, mulai dari persetujuan prinsip sampai larangan memecah saham dalam jangka waktu tertentu setelah IPO, penambahan modal, atau aksi serupa sebelumnya.
Langkah yang saya sarankan cukup sederhana. Baca keterbukaan informasi emiten, periksa kinerja keuangannya, lalu putuskan dengan kepala dingin.
Jangan membeli hanya karena harga terlihat murah. Menurut saya, investor yang memahami aturan main akan lebih terlindungi dari euforia sesaat.
Urusan pasar modal sering melibatkan dokumen hukum dan keuangan yang panjang, termasuk dokumen berbahasa asing.
Kalau kamu butuh terjemahan tersumpah atau pendampingan dokumen yang akurat, tim kami siap membantu. Silakan klik poster yang tersedia atau tombol “KONSULTASI GRATIS” di pojok kanan website ini.
Baca juga: Cuan dari Kelapa Sawit, Ini Peluang Bisnis yang Jarang Dilirik
Ringkasan
- Stock split adalah pemecahan satu saham menjadi beberapa saham dengan nilai nominal lebih kecil.
- Jumlah saham beredar bertambah, harga per lembar turun, dan total nilai investasimu tetap sama.
- Reverse stock split bekerja sebaliknya dengan menggabungkan saham sehingga harga naik.
- Emiten memecah saham terutama untuk meningkatkan likuiditas dan menjangkau investor ritel.
- POJK 15/POJK.04/2022 dan Peraturan BEI I-I mengatur syarat dan prosedur pemecahan saham.
- Emiten wajib mengantongi persetujuan prinsip BEI dan persetujuan RUPS.
- Emiten dilarang memecah saham dalam 24 bulan sejak IPO, dan dalam 12 bulan sejak right issue, penambahan modal tanpa HMETD, aksi pemecahan atau penggabungan sebelumnya, atau penggabungan usaha.
- Fundamental emiten perlu kamu nilai lebih dulu sebelum tergiur harga yang tampak murah.
Referensi
- Peraturan OJK Nomor 15/POJK.04/2022 tentang Pemecahan Saham dan Penggabungan Saham oleh Perusahaan Terbuka. Otoritas Jasa Keuangan (ojk.go.id).
- Peraturan Bursa Efek Indonesia Nomor I-I tentang Pemecahan Saham dan Penggabungan Saham oleh Perusahaan Tercatat yang Menerbitkan Efek Bersifat Ekuitas. PT Bursa Efek Indonesia (idx.co.id).
- Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
- Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
- Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997 tentang Perubahan atas PP Nomor 41 Tahun 1994 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek. Direktorat Jenderal Pajak (pajak.go.id).
- Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81 Tahun 2024 tentang ketentuan perpajakan dalam rangka pelaksanaan Coretax (pemotongan dan pelaporan PPh atas penjualan saham di bursa). Kementerian Keuangan (jdih.kemenkeu.go.id).





